Prestasi Nasional: Lamongan Raih 64 Penghargaan K3 2026, Termasuk Kategori Gold Pembina Terbaik Jatim

Infolamongan.com – Komitmen Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing mendapat pengakuan nasional yang gemilang. Pada Apel Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Nasional Tahun 2026 yang digelar di Stadion Petrokimia Gresik, Rabu (14/01), Lamongan berhasil membawa pulang 64 penghargaan K3 sekaligus. Prestasi yang mencakup empat kategori berbeda ini diterima langsung oleh Wakil Bupati Lamongan, Dirham Akbar Aksara, ST, dari tangan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dan menjadi bukti nyata keberhasilan program pembinaan keselamatan kerja di wilayah yang dikenal sebagai Kota Soto tersebut.

Penghargaan ini bukan sekadar piala atau piagam, melainkan hasil penilaian kinerja selama tahun 2025 yang mencerminkan budaya kerja baru di Lamongan. Sebanyak 33 perusahaan yang berbasis di Lamongan, dari Rumah Sakit hingga perusahaan logistik, turut berkontribusi dalam prestasi kolektif ini, menunjukkan bahwa komitmen K3 telah merata tidak hanya di instansi pemerintah tetapi juga di sektor swasta.

Rincian Prestasi: Empat Kategori Utama yang Didominasi

Ke-64 penghargaan yang diraih Lamongan terbagi dalam empat kategori prestisius yang menunjukkan cakupan K3 yang holistik:

  1. Pembina K3 Terbaik Kategori Gold: Ini adalah penghargaan tertinggi yang diraih oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan sendiri. Kategori ini menilai efektivitas pemerintah daerah dalam membina, mengawasi, dan memasyarakatkan budaya K3 di seluruh lapisan dunia kerja di wilayahnya. Raihan gold menunjukkan bahwa Lamongan dinilai sebagai salah satu daerah terbaik se-Jawa Timur dalam memimpin implementasi K3.

  2. Zero Accident Award (Kecelakaan Nihil): Sebanyak 31 perusahaan dari Lamongan berhasil meraih penghargaan ini. Ini adalah prestasi yang sangat signifikan, mengindikasikan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut mampu menciptakan lingkungan kerja dengan sistem pencegahan kecelakaan yang sangat efektif hingga mencapai angka nol kecelakaan kerja selama periode penilaian.

  3. Program Penanggulangan Tuberculosis Paru (P2TB): Sebanyak 15 perusahaan mendapatkan apresiasi di kategori ini. Penghargaan ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan di Lamongan tidak hanya peduli pada kecelakaan fisik, tetapi juga pada kesehatan paru-paru pekerja, dengan program deteksi dini, pencegahan, dan penanganan penyakit tuberkulosis yang merupakan isu kesehatan kerja di Indonesia.

  4. Penanggulangan HIV/AIDS di Tempat Kerja: Kategori ini berhasil diraih oleh 18 perusahaan. Prestasi ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam melakukan edukasi, pencegahan, dan penanggulangan HIV/AIDS, sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang bebas dari stigma dan diskriminasi terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Pernyataan Wakil Bupati: Dari Penghargaan ke Komitmen Berkelanjutan

Wakil Bupati Dirham Akbar Aksara, yang akrab disapa Mas Dirham, menyatakan bahwa penghargaan ini bukan titik akhir, melainkan batu pijakan untuk standar yang lebih tinggi. “Penghargaan yang kami terima akan kami jadi acuan untuk terus menerapkan K3 dalam dunia kerja. Sehingga akan memenuhi unsur kesehatan, keamanan, dan keselamatan kerja. Target kami adalah menekan angka kecelakaan kerja sekecil mungkin,” tuturnya usai menerima penghargaan.

Lebih dalam, Mas Dirham menekankan filosofi di balik komitmen K3 tersebut, yaitu pemeliharaan (maintenance) SDM sebagai investasi terpenting. “Lamongan memiliki komitmen untuk menciptakan SDM yang unggul dan berdaya saing, namun kami juga berkomitmen untuk selalu melakukan maintenance terhadap seluruh SDM. Karena dengan SDM yang unggul pasti akan mendukung sustainable pada lingkup dunia kerja,” tegasnya. Pernyataan ini mengangkat K3 dari sekadar kewajiban hukum menjadi strategi investasi jangka panjang dalam human capital.

Pandangan Gubernur: K3 sebagai Budaya Hidup dan Investasi

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dalam sambutannya memimpin apel, menegaskan esensi dari Bulan K3. “Dimulainya bulan K3 bukan sebagai seremonial dan administrasi. Melainkan kebutuhan esensial, budaya kerja yang hidup, dan investasi jangka panjang bagi setiap organisasi,” ungkapnya.

Gubernur Khofifah juga menyoroti dampak luas dari K3. “K3 ini tentu selalu bertujuan membawa dampak positif selain untuk pekerja juga untuk perusahaan. Tidak hanya itu, program K3 tentu turut menyumbang pembangunan nasional maupun regional,” ujarnya. Artinya, keselamatan kerja berkontribusi pada peningkatan produktivitas, penurunan biaya akibat kecelakaan, dan pada akhirnya mendongkrak daya saing ekonomi daerah dan nasional.

Penjelasan Teknis dari Disnaker: Indikator Ketat dan Audit Nasional

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lamongan, Zamroni, membeberkan alasan di balik kesuksesan ini. Ia menjelaskan bahwa penghargaan diperoleh setelah melalui proses penilaian yang sangat ketat. “Dengan seluruh kategori yang diraih menunjukkan bahwa Kota Soto sudah mampu membina perusahaan dengan baik dalam penerapan budaya K3, meliputi nihilnya kecelakaan kerja, penerapan pencegahan HIV AIDS di tempat kerja, dan mampu melaksanakan 166 indikator dalam PP Nomor 50 Tahun 2012 dan telah diaudit oleh Badan Audit Kemnaker,” terang Zamroni.

Peraturan Pemerintah (PP) No. 50/2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen K3 memuat 166 indikator komprehensif. Kemampuan 33 perusahaan Lamongan untuk memenuhi seluruh indikator ini dan lulus audit dari Badan Audit Kementerian Ketenagakerjaan merupakan bukti keseriusan dan kedisiplinan.

“Dari semua yang kami ajukan ada 33 perusahaan dari Lamongan. Seluruhnya sudah berhasil lolos dari penilaian administrasi yang dilakukan selama satu tahun di 2025 lalu. Mereka ialah RSUD dr. Soegiri, Permata Hati, PT Bumi Menara Internusa, PT Eastern Logistic dan lainnya,” tambah Zamroni. Keberagaman perusahaan yang meraih penghargaan, dari rumah sakit, klinik, hingga perusahaan logistik dan konstruksi, menunjukkan bahwa budaya K3 telah diadopsi lintas sektor.

Implikasi dan Tantangan ke Depan

Pencapaian 64 penghargaan K3 ini menempatkan Lamongan sebagai benchmark dalam penerapan K3 di tingkat regional. Namun, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi dan memperluas cakupan. Pemerintah daerah perlu terus mendorong lebih banyak perusahaan, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), untuk menerapkan prinsip K3 sederhana namun efektif.

Selain itu, penghargaan ini harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran pekerja sendiri sebagai subjek utama K3. Program bottom-up dari pekerja, seperti pembentukan safety committee yang aktif dan pelaporan kondisi tidak aman (unsafe condition), perlu digencarkan.

Pada akhirnya, 64 piala yang dibawa pulang dari Gresik bukan hanya simbol keberhasilan administratif. Mereka adalah representasi dari ribuan jam kerja yang aman, dari ratusan inspeksi rutin yang mencegah kecelakaan, dan dari komitmen kolektif untuk memandang setiap pekerja bukan sebagai angka produksi, melainkan sebagai aset berharga yang harus dilindungi keselamatan dan kesehatannya. Inilah fondasi sejati untuk membangun Lamongan yang berdaya saing, dengan SDM yang tidak hanya unggul dalam skill, tetapi juga terjaga dalam menjalani pekerjaannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *