Infolamongan.com – Setiap Minggu Legi, aura magis dan keramahan masa lalu seolah hidup kembali di kompleks Latar Cendhani, Desa Sendang Duwur, Kabupaten Lamongan. Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah menjadi denyut ekonomi dan budaya yang semarak. Udara dipenuhi aroma sedap jajanan lawas yang jarang ditemui, tawa riuh pengunjung bersahutan, dan yang unik, di setiap transaksi, beredar bukan uang rupiah melainkan kepingan kayu kecil yang berpindah tangan. Inilah Pasar Minggu Legi Latar Cendhani, sebuah pasar tradisional yang bukan sekadar tempat jual-beli, tetapi laboratorium hidup untuk pelestarian kuliner tradisional, edukasi budaya, dan praktik nyata ekonomi sirkular berbasis komunitas.
Pasar yang digelar setiap Minggu Legi (sesuai penanggalan Jawa) ini merupakan inisiatif cerdas dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Paduraksa Sendang Duwur. Mereka menyulap halaman Latar Cendhani yang dekat dengan situs budaya menadi ruang publik yang produktif dan penuh makna. Pasar ini hadir sebagai antitesis dari pasar modern; di sini, bukan keseragaman dan efisiensi yang dijual, melainkan keunikan, nostalgia, dan keberlanjutan. Seperti yang terlihat pada Minggu (04/01/2026), pasar ini berhasil menarik perhatian warga dari berbagai kalangan, baik generasi tua yang merindukan cita rasa masa kecil, maupun generasi muda yang penasaran dengan warisan kuliner nenek moyangnya.

Menguak Harta Karun “Jajanan Lawas” yang Hampir Punah
Pilar utama daya tarik Pasar Minggu Legi Latar Cendhani adalah kuliner. Di sini, para pengunjung diajak melakukan napak tilas rasa. Bukan sekadar makanan enak, yang dijajakan adalah potongan sejarah dan memori kolektif yang nyaris hilang ditelan zaman.
Penjual-penjual, kebanyakan ibu-ibu dan nenek-nenek warga Sendang Duwur dan desa tetangga, menghidangkan kembali aneka “jajanan lawas” atau makanan tradisional yang proses pembuatannya rumit dan jarang dikuasai generasi muda. Beberapa di antaranya mungkin sudah tak pernah lagi terdengar namanya oleh anak kota. Mulai dari kue clorot (terbuat dari tepung beras dan gula merah yang dibungkus daun kelapa muda berbentuk kerucut), kue putu (tepung beras dengan gula merah, dikukus dalam cetakan bambu), lemper, lupis, gemblong, hingga jenang dodol yang dimasak berjam-jam.
Kehadiran pasar ini memberikan ruang ekonomi yang vital bagi para pembuat jajanan tradisional. Keterampilan mereka yang selama ini terpendam dan tidak memiliki pasar yang konsisten, kini menemukan wadah yang tepat. Pasar ini sekaligus menjadi sekolah informal; generasi muda yang datang dapat melihat, mencicipi, dan belajar langsung tentang kekayaan kuliner lokal mereka, sebuah bentuk edukasi budaya yang paling efektif.
Sistem “Keping Kayu”: Revolusi Transaksi Lokal yang Mengedukasi
Aspek paling inovatif dan menjadi pembeda utama pasar ini adalah sistem transaksi menggunakan keping kayu. Pengunjung yang datang tidak langsung membeli dengan uang tunai. Mereka harus menukar uang rupiah mereka terlebih dahulu di pos khusus dengan kepingan kayu yang telah disediakan panitia. Keping kayu inilah yang menjadi alat tukar yang sah di seluruh lapak di pasar tersebut.
Sistem ini mungkin terlihat sederhana, namun memiliki filosofi dan dampak yang mendalam:
-
Mengendalikan Ekonomi Lokal:Â Dengan sistem keping kayu, perputaran uang sepenuhnya terjadi dalam ekosistem pasar. Uang dari pengunjung ditampung di kas Pokdarwis, kemudian dibayarkan kepada pedagang setelah pasar usai berdasarkan jumlah keping kayu yang mereka kumpulkan. Ini memudahkan pengelolaan, menghindari transaksi gelap, dan memastikan keuntungan dapat dihitung dengan jelas untuk pengembangan komunitas.
-
Edukasi Nilai Tukar:Â Bagi anak-anak yang diajak orang tuanya, sistem ini menjadi pelajaran praktis tentang konsep uang dan transaksi. Mereka belajar bahwa uang adalah alat tukar, dan nilainya bisa direpresentasikan dengan benda lain.
-
Menciptakan Pengalaman Unik: Sensasi bertransaksi dengan keping kayu menambah daya tarik dan kesan mendalam bagi pengunjung, terutama wisatawan. Ini menjadi unique selling point (USP) yang kuat.
-
Mengurangi Ketergantungan Uang Tunai:Â Dalam skala kecil, ini adalah praktik sederhana menuju sistem pembayaran non-tunai yang dikelola komunitas.
Pasar Sebagai Penggerak Wisata Budaya Berkelanjutan
Pasar Minggu Legi ini tidak berdiri sendiri. Ia terintegrasi dengan potensi wisata budaya Desa Sendang Duwur yang sudah lebih dulu dikenal, terutama kompleks makam penyebar Islam Sunan Sendang Duwur. Lokasinya di “Latar Cendhani” yang dekat dengan situs budaya menjadikannya paket wisata yang komplet: ziarah, napak tilas sejarah, dan menikmati kuliner tradisional dalam satu kunjungan.
Strategi ini adalah bentuk wisata budaya berkelanjutan yang ideal. Pariwisata tidak hanya mengeksploitasi tempat, tetapi memberi nilai tambah ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar melalui penjualan produk mereka. Pengunjung pun mendapatkan pengalaman yang otentik dan bermakna, bukan yang terkomersialisasi secara masif.
Keberhasihan Pokdarwis Paduraksa Sendang Duwur dalam mengelola pasar ini menjadi contoh brilian pemberdayaan masyarakat desa. Mereka tidak menunggu program dari atas, tetapi menginisiasi, mengelola, dan menuai hasil secara mandiri. Pasar Minggu Legi Latar Cendhani telah membuktikan bahwa tradisi bukanlah beban masa lalu, melainkan modal sosial dan ekonomi yang sangat berharga jika dikelola dengan kreatif dan kolaboratif. Di tengah gempuran pasar modern dan makanan instan, pasar kecil di Lamongan ini justru tumbuh dengan menggenggam erat identitasnya, mengajak siapapun yang datang untuk sejenak melambat, mengingat, dan menikmati setiap gigitan warisan rasa yang hampir punah itu.









