Pastikan Kesiapsiagaan, Kompol Jodi Indrawan Tinjau Langsung Posko Siaga dan Kondisi Warga Terdampak Banjir di Kalitengah

Infolamongan.com – Kepedulian dan kesiapsiagaan Polres Lamongan dalam menghadapi bencana banjir tidak berhenti pada pembentukan posko. Untuk memastikan efektivitas penanganan dan mendengar langsung keluhan warga, Wakapolres Lamongan, Kompol Jodi Indrawan, S.I.K., melakukan inspeksi mendadak dan peninjauan lapangan ke wilayah yang terdampak luapan air di Kecamatan Kalitengah, Rabu (14/01/2026). Kunjungan ini menjadi bukti nyata komitmen pimpinan untuk memastikan pelayanan di garis depan berjalan optimal dan kehadiran negara benar-benar terasa oleh masyarakat yang sedang dilanda kesusahan.

Langkah Wakapolres ini merupakan tindak lanjut dari pendirian Posko Siaga Bencana Banjir yang telah diumumkan sebelumnya. Namun, kali ini, fokusnya bergeser dari persiapan menjadi evaluasi operasional dan respons langsung di titik terdampak. Kompol Jodi tidak hanya memeriksa administrasi posko, tetapi langsung terjun ke lokasi banjir di Desa Jelakcatur dan Desa Tiwet, dua wilayah yang disebutkan sebagai bagian dari sembilan desa terdampak di Kalitengah.

Inspeksi Posko Siaga: Mengevaluasi Kesiapan Personel dan Logistik

Kunjungan pertama Wakapolres adalah ke Posko Siaga Bencana Banjir yang berlokasi strategis di depan Kantor Kecamatan Kalitengah. Di sini, Kompol Jodi Indrawan melakukan pengecekan menyeluruh. Ia memastikan bahwa 35 personel gabungan dari Sat Samapta, Sat Polairud, dan Polsek Kalitengah yang telah disiagakan benar-benar standby di lokasi dengan kondisi prima.

Tidak hanya itu, Wakapolres juga mengecek kesiapan sarana dan prasarana yang telah disiapkan, seperti ketersediaan dan kondisi operasional 2 unit truk angkut, 2 unit mobil patroli, 4 unit perahu karet (termasuk 1 unit LCR dengan mesin tempel), serta perlengkapan keselamatan seperti rompi pelampung, sepatu boot, dan ring buoy. “Pastikan semua peralatan siap pakai. Bahan bakar untuk mesin perahu dan truk harus cukup. Personel harus paham prosedur evakuasi dan titik-titik rawan yang harus dipantau,” pesan Kompol Jodi kepada pimpinan posko.

Pengecekan ini penting untuk menghindari kesenjangan antara perencanaan dan implementasi di lapangan, memastikan bahwa semua sumber daya yang telah dialokasikan benar-benar dapat berfungsi dengan baik saat dibutuhkan secara mendesak.

Turun ke Medan: Menyaksikan dan Mendengar Langsung Keluhan Warga

Setelah dari posko, Wakapolres Lamongan melanjutkan perjalanan ke lokasi banjir sesungguhnya. Di Desa Jelakcatur dan Desa Tiwet, Kompol Jodi menyaksikan langsung kondisi lapangan: rumah-rumah warga yang terendam air dengan ketinggian bervariasi, jalan-jalan kampung yang berubah menjadi aliran air, serta aktivitas warga yang berusaha menyelamatkan barang-barang berharga dan mengungsikan keluarga.

Ia tidak hanya melihat dari kejauhan. Wakapolres turun dari kendaraan, berjalan menyusuri genangan (dengan mengenakan sepatu boot), dan berinteraksi langsung dengan warga. “Bagaimana kondisi Bapak/Ibu? Sudah ada yang datang bantu evakuasi atau bagi-bagi logistik? Kebutuhan paling mendesak saat ini apa?” tanya Kompol Jodi kepada sejumlah warga yang sedang berjaga di depan rumah mereka.

Dari dialog langsung ini, didapatkan umpan balik yang berharga. Beberapa warga menyampaikan keluhan tentang akses listrik yang sudah dipadamkan demi keamanan, namun menyulitkan aktivitas malam hari. Yang lain menyoroti kebutuhan air bersih dan makanan siap saji, terutama untuk balita dan lansia. Ada juga yang mempertanyakan waktu penurunan air dan bantuan perbaikan rumah pasca-banjir.

Memastikan Kehadiran yang Bermakna: Dari Fisik ke Psikologis

Langkah turun langsung Wakapolres ini memiliki dimensi psikologis yang sangat kuat bagi masyarakat terdampak. Di saat ketidakpastian dan kecemasan melanda, kehadiran petinggi kepolisian di tengah genangan banjir mengirimkan pesan yang jelas: “Kami tidak hanya memantau dari jarak jauh. Kami ada di sini bersama Anda, melihat penderitaan Anda, dan berkomitmen untuk membantu.”

“Langkah ini dilakukan guna memastikan pelayanan kepolisian berjalan optimal dan kehadiran Polri benar-benar dirasakan oleh masyarakat di tengah situasi darurat,” seperti disampaikan dalam rilis resmi. Dalam praktiknya, kehadiran yang ‘dirasakan’ itu tercapai ketika seorang Wakapolres rela bajunya terkena cipratan air kotor, mendengarkan keluh kesah warga dengan sabar, dan langsung memberi instruksi kepada anggotanya di lokasi untuk menindaklanjuti temuan-temuan spesifik.

Koordinasi dan Komando Langsung di Lapangan

Selain mendengarkan, kunjungan ini juga menjadi momentum untuk koordinasi dan komando taktis di lapangan. Setelah melihat kondisi, Wakapolres dapat langsung memberikan arahan operasional. Misalnya, jika di satu titik genangan sangat dalam tetapi masih ada warga yang membandel tidak mau mengungsi, ia dapat memerintahkan personel Polairud untuk segera melakukan persuasi dan evakuasi. Jika ada titik yang rawan namun belum tercakup patroli perahu, ia dapat langsung mengatur penambahan frekuensi patroli.

Kompol Jodi juga menekankan pentingnya sinergi dengan instansi lain yang juga beroperasi di lapangan, seperti BPBD, TNI, dan Dinas Sosial. “Pastikan koordinasi dengan tim dari BPBD dan relawan berjalan lancar. Bagi tugas yang jelas, jangan sampai tumpang tindih. Prioritas kita adalah keselamatan warga dan percepatan penanganan,” pesannya.

Membangun Narasi Kepolisian yang Melindungi dan Melayani

Aksi turun langsung Wakapolres Lamongan ini lebih dari sekadar kunjungan kerja. Ia adalah bagian dari upaya membangun dan memperkuat narasi Polri masa kini: tidak hanya sebagai penegak hukum yang tegas, tetapi lebih sebagai pelindung dan pelayan masyarakat yang empatik, terutama di saat-saat sulit.

“Kegiatan ini menegaskan komitmen Polres Lamongan untuk selalu sigap, cepat, dan hadir di tengah masyarakat dalam situasi apapun, khususnya saat terjadi bencana alam,” tutup rilis resmi. Kata “hadir” di sini menemukan makna sebenarnya: hadir secara fisik, mental, dan emosional. Dalam konteks bencana, kepemimpinan seperti yang ditunjukkan Kompol Jodi Indrawan—yang memimpin dari depan dan merasakan langsung masalah—adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik dan memastikan bahwa bantuan dan pelayanan negara sampai ke tujuan yang paling tepat: tangan warga yang membutuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *