Jalan Lamongan–Mantup Tanpa Lampu, Rawan Tabrakan

Infolamongan.com – Penerangan jalan umum (PJU) di sepanjang Jalan Raya Lamongan–Mantup, ruas jalan provinsi yang menghubungkan Lamongan Selatan menuju Mojokerto, kini padam total. Kondisi ini terjadi tepatnya dari Desa Glugu hingga Desa Kedungsoko, Kecamatan Mantup, sehingga pada malam hari jalan utama tersebut berubah menjadi gelap gulita dan dinilai sangat rawan kecelakaan lalu lintas.

Keluhan warga Lamongan Selatan semakin keras menyusul semakin padatnya arus kendaraan yang melintas, baik kendaraan pribadi maupun angkutan barang. Ironisnya, kondisi matinya PJU ini terjadi pasca proyek perbaikan dan pelebaran jalan yang baru saja selesai dikerjakan. Alih-alih semakin baik, infrastruktur penerangan justru mengalami kerusakan total di sejumlah titik.

Pantauan di lapangan menunjukkan, pasca proyek perbaikan dan pelebaran jalan, kondisi penerangan tidak menjadi perhatian serius. Sejumlah titik PJU dibiarkan tidak berfungsi. Bahkan, terlihat tiang yang miring serta kabel-kabel listrik yang berserakan tidak tertata dengan baik. Kondisi ini memunculkan dugaan lemahnya pengawasan serta kelalaian tanggung jawab dari pihak pelaksana proyek maupun instansi terkait, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Salah satu warga setempat, Agus (40), menyampaikan bahwa kondisi PJU sebenarnya sudah bermasalah sejak sebelum proyek perbaikan jalan dilakukan. Namun, ia tetap mengapresiasi perbaikan jalan yang telah membuat permukaan jalan menjadi jauh lebih bagus dan membantu pengguna jalan. Sayangnya, setelah proyek selesai, kondisi penerangan justru memburuk.

“Kami tetap mengapresiasi perbaikan jalan yang dilakukan. Jalannya sekarang jauh lebih bagus dan sangat membantu pengguna jalan. Namun setelah proyek selesai, kondisi penerangan justru semua lampu penerangan padam, dari Desa Glugu sampai Desa Kedungsoko. Di beberapa titik juga terlihat kabel-kabel berserakan,” ujar Agus kepada wartawan di Lamongan, Selasa (14/4/2026).

Agus menduga, kerusakan PJU yang semakin meluas terjadi akibat dampak proyek pelebaran jalan. Menurutnya, proses pengerjaan yang menggunakan alat berat jenis ekskavator diduga menjadi penyebab utama rusaknya instalasi kelistrikan dan tiang PJU.

“Diduga kerusakan PJU terjadi akibat pekerjaan pelebaran jalan yang menggunakan alat berat jenis ekskavator. Setelah pekerjaan selesai, lampu-lampu itu tidak menyala lagi. Tidak ada upaya perbaikan dari kontraktor setelah proyek rampung,” tambahnya.

Minimnya penerangan di ruas jalan tersebut dinilai sangat berpotensi menimbulkan kecelakaan lalu lintas. Terlebih, arus kendaraan menuju arah Lamongan–Mojokerto kini semakin padat, baik oleh kendaraan pribadi maupun angkutan barang. Warga khawatir akan terjadi korban jiwa akibat kecelakaan yang dipicu oleh kegelapan, seperti tabrakan dari belakang, pejalan kaki yang tertabrak, ataupun sepeda motor yang masuk ke dalam lubang atau bahu jalan yang tidak rata.

Menanggapi keluhan yang terus mengalir, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Lamongan, Drs. Dianto Hari Wibowo, M.IP, menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan langkah-langkah darurat. Namun, ia mengakui bahwa kewenangan atas sebagian besar PJU di ruas provinsi tersebut berada di tangan pemerintah provinsi Jawa Timur.

“Iya mas, untuk yang aset kami sudah ditangani darurat, bahkan teman-teman sampai harus membeli kabel untuk menyambung kembali. Namun yang tiangnya masih banyak tergeletak dan kabelnya putus sehingga sampai saat ini belum menyala, itu merupakan aset provinsi. Kami terus berkomunikasi untuk percepatan pembenahannya,” ujar Dianto.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa proses perbaikan masih terkendala koordinasi antara pihak terkait, khususnya antara Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Provinsi Jawa Timur dengan rekanan pelaksana proyek.

“Permasalahannya sepertinya antara dinas provinsi dan rekanan pelaksana masih belum klir dalam penanganannya. Tapi ini tadi sudah saya ingatkan kembali untuk mendorong percepatan. Kami tidak ingin keselamatan pengguna jalan terus terancam,” tegasnya.

Kondisi ini memicu sorotan publik terhadap pelaksanaan proyek jalan provinsi yang dinilai tidak tuntas. Proyek yang seharusnya meningkatkan kualitas infrastruktur justru terkesan mengabaikan aspek keselamatan pengguna jalan. Warga berharap pihak pelaksana proyek serta dinas terkait, khususnya bidang bina marga provinsi, segera bertanggung jawab dan menyelesaikan persoalan PJU tersebut secara menyeluruh.

Warga juga meminta agar pemerintah provinsi dan daerah segera merealisasikan perbaikan PJU di sepanjang Jalan Raya Lamongan–Mantup. Pasalnya, setiap malam yang dilewati tanpa penerangan adalah malam yang penuh risiko bagi puluhan bahkan ratusan kendaraan yang melintas.

“Kami tidak ingin menunggu korban jatuh baru bergerak. Ini soal nyawa. Pemerintah harus turun tangan sekarang,” pungkas Agus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *