Infolamongan.com – Upaya memperkuat ekonomi berbasis lokal terus didorong Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama yang akrab disapa Ning Lia, dengan mengajak pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Lamongan untuk mengambil peran dalam program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Ajakan tersebut disampaikan dalam momentum silaturahmi dan halal bihalal bersama pelaku UMKM yang digelar di Lamongan, Sabtu (4/4/2026). Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi antara pelaku usaha, organisasi bisnis, serta pemangku kepentingan daerah dalam menyambut peluang ekonomi dari program pemerintah pusat. Acara yang berlangsung hangat tersebut dihadiri oleh puluhan pelaku UMKM dari berbagai sektor, mulai dari kuliner, kerajinan tangan, hingga pertanian dan perikanan skala kecil.
Menurut Ning Lia, program Makan Bergizi Gratis bukan sekadar program sosial untuk pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga memiliki efek berganda terhadap perekonomian daerah. Ia menilai kebutuhan bahan pangan dalam skala besar yang dihasilkan oleh program MBG dapat menjadi peluang konkret bagi UMKM untuk terlibat sebagai penyedia maupun distributor. Dengan cakupan nasional yang menjangkau jutaan penerima manfaat, rantai pasok makanan bergizi membutuhkan keterlibatan aktor lokal yang memahami karakteristik wilayah masing-masing.
“Kalau dikelola dengan baik, program ini bisa menjadi sumber perputaran ekonomi baru di daerah. UMKM harus masuk dalam ekosistemnya, jangan hanya jadi penonton. Jangan sampai kebutuhan logistik MBG justru dipenuhi oleh pemasok dari luar daerah. Lamongan punya petani, peternak, dan pengolah makanan yang mumpuni. Mereka harus menjadi bagian dari solusi,” tegas Ning Lia di hadapan para peserta halal bihalal.
Lebih lanjut, Ning Lia memaparkan bahwa program MBG yang digagas pemerintah pusat menargetkan penyediaan makanan bergizi bagi anak sekolah, ibu hamil, dan balita. Setiap harinya, dibutuhkan ribuan porsi makanan yang harus disiapkan dengan standar gizi dan keamanan pangan yang ketat. Hal ini membuka peluang besar bagi UMKM lokal yang bergerak di bidang produksi lauk pauk, sayuran, buah-buahan, hingga jasa katering dan distribusi.
Selain MBG, Ning Lia juga menyoroti pentingnya penguatan kelembagaan ekonomi desa melalui program Koperasi Desa Merah Putih. Ia menilai koperasi desa dapat menjadi simpul utama dalam menghimpun dan mendistribusikan produk-produk UMKM agar memiliki daya saing yang lebih kuat. Menurutnya, koperasi desa bukan sekadar tempat berbelanja kebutuhan pokok warga, tetapi juga berfungsi sebagai lumbung pangan desa sekaligus pusat pengumpul hasil produksi UMKM sebelum didistribusikan ke pasar yang lebih luas.
“KDMP itu ujung tombak ekonomi desa. Kalau koperasi desanya kuat, UMKM di sekitarnya akan terangkat. Produk-produk UMKM bisa ditampung di koperasi, kemudian disalurkan ke program MBG, ke pasar tradisional, bahkan ke ritel modern. Ini harus dibaca sebagai peluang besar oleh para pelaku usaha,” ujar Ning Lia di lokasi acara.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keterlibatan UMKM dalam kedua program nasional tersebut tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, asosiasi usaha, hingga komunitas masyarakat. Ning Lia mengajak Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Lamongan, perbankan, serta akademisi untuk bersama-sama mendampingi pelaku usaha dalam memenuhi standar kelayakan produk, seperti sertifikasi halal, izin P-IRT, serta kemasan yang higienis dan menarik.
“Tidak bisa dipungkiri, tantangan UMKM itu klasik: permodalan, kemasan, dan perizinan. Karena itu, sinergi lintas sektor wajib dihidupkan. Saya akan terus mendorong pemerintah daerah untuk mempermudah akses perizinan bagi UMKM yang ingin masuk dalam rantai pasok MBG dan KDMP. Bank-bank daerah juga harus hadir dengan skema kredit lunak,” tambahnya.
Para pelaku UMKM yang hadir dalam kegiatan halal bihalal menyambut positif ajakan Ning Lia. Beberapa di antaranya mengaku sudah mulai melakukan persiapan, seperti mengurus nomor induk berusaha (NIB), sertifikasi halal, serta memperbaiki sistem produksi agar mampu memenuhi permintaan dalam skala besar. Namun, mereka juga mengakui masih ada kendala teknis, seperti keterbatasan modal untuk membeli peralatan produksi massal dan sulitnya mengakses informasi mengenai prosedur menjadi pemasok program MBG.
Menanggapi hal tersebut, Ning Lia berjanji akan menjembatani komunikasi antara UMKM dengan Badan Gizi Nasional serta dinas terkait di tingkat provinsi dan kabupaten. Ia juga berencana menginisiasi forum rutin antara UMKM Lamongan dengan pengelola program MBG di wilayah setempat agar terjadi pemahaman bersama mengenai standar, harga, dan mekanisme pengadaan.
Dengan potensi besar yang dimiliki Lamongan, Ning Lia optimistis daerah ini mampu menjadi contoh dalam implementasi program berbasis kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha lokal. Ia mencatat bahwa Lamongan memiliki basis agraris yang kuat, dengan produksi padi, jagung, sayuran, dan ikan air tawar yang melimpah. Selain itu, budaya gotong royong masyarakat Lamongan dinilai sebagai modal sosial yang sangat berharga untuk membangun ekosistem ekonomi yang inklusif.
“Lamongan punya kekuatan dari sisi gotong royong dan potensi usaha. Tinggal bagaimana ini disinergikan agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat. Saya yakin, dengan kolaborasi yang tepat, UMKM Lamongan tidak hanya menjadi pemasok lokal, tetapi juga bisa menjadi model bagi daerah lain dalam menggerakkan ekonomi nasional dari desa,” pungkas Ning Lia di akhir acara.
Acara halal bihalal yang berlangsung sekitar tiga jam itu ditutup dengan ramah tamah dan sesi konsultasi singkat antara Ning Lia dan para pelaku UMKM. Ke depan, Ning Lia berkomitmen untuk terus melakukan pendampingan dan advokasi agar UMKM Lamongan benar-benar siap menyambut era baru ekonomi berbasis program nasional.









