Infolamongan.com – Dalam suasana khidmat dan penuh hikmah, Kodim 0812/Lamongan menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriyah di Masjid Al-Arif Makodim, Kamis (13 Februari 2025). Kegiatan yang lebih dari sekadar acara seremonial ini, digelar sebagai momentum strategis untuk memperteguh keimanan dan ketakwaan (imtak) seluruh keluarga besar Kodim, sekaligus mengasah etos kerja dan pengabdian dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Acara yang berlangsung sejak pagi itu dihadiri oleh ratusan personel, mencerminkan komitmen TNI dalam membina tidak hanya aspek fisik dan taktik militer, tetapi juga aspek spiritual yang menjadi landasan moral dan etika prajurit. Hadir dalam kesempatan tersebut, Kepala Staf Kodim (Kasdim) 0812/Lamongan, Mayor Arh Moh. Ngateno, yang mewakili Dandim. Turut serta jajaran Perwira Staf, seluruh Danramil jajaran, serta prajurit TNI dan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Kodim 0812/Lamongan.
Isra Mi’raj: Fondasi Disiplin dan Kepatuhan Sejati
Dalam sambutan pembukaannya, Mayor Arh Moh. Ngateno menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj harus dipandang sebagai wahana introspeksi dan penguatan nilai-nilai luhur dalam diri setiap prajurit.
“Peristiwa agung Isra Mi’raj bukan sekadar ritual tahunan yang kita rayakan. Ini adalah narasi suci tentang kepatuhan total (ittiba’) dan disiplin tertinggi Nabi Muhammad SAW kepada perintah Allah SWT, yang puncaknya adalah penerimaan perintah salat lima waktu. Inilah inti dari perjalanan spiritual tersebut,” ujar Kasdim dengan suara tegas yang menggema di ruangan masjid.
Lebih lanjut, Ngateno menguraikan relevansi nilai tersebut dengan dunia kemiliteran. “Sebagai prajurit TNI, ketaatan dan disiplin adalah napas kita. Jika dalam agama, disiplin utama terwujud dalam salat tepat waktu sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta, maka dalam pengabdian negara, disiplin itu terwujud dalam pelaksanaan tugas dengan penuh tanggung jawab, loyalitas, dan dedikasi tanpa reserve untuk menjaga kedaulatan NKRI,” paparnya.
Ia menekankan, implementasi dari hikmah Isra Mi’raj adalah dengan menjadikan setiap tugas sebagai ibadah. “Menjaga keamanan wilayah, membantu masyarakat terdampak bencana, membina teritorial, semua itu adalah bagian dari ibadah sosial kita. Ibadah salat mempertajam spiritualitas individu, sementara pengabdian kepada negara adalah manifestasi dari spiritualitas kolektif kita sebagai prajurit Pancasila,” tambahnya.
Tausiyah Mendalam: Mengurai Hikmah Perjalanan Agung Menuju Sidratul Muntaha
Puncak acara peringatan diisi dengan tausiyah yang disampaikan oleh penceramah kondang asal Lamongan, KH. Syaifudin S.Pd.I., M.A. Dengan gaya tutur yang lugas dan mendalam, Kiai Syaifudin mengajak seluruh hadirin menyelami kembali sejarah Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan Mi’raj menembus lapisan langit hingga Sidratul Muntaha.
“Perjalanan ini adalah mukjizat terbesar yang menunjukkan kekuasaan Allah dan kemuliaan Nabi-Nya. Namun, lebih dari itu, ia adalah ‘training’ spiritual terhebat yang penuh dengan simbol dan pelajaran hidup,” buka Kiai Syaifudin.
Beliau kemudian memaparkan tiga poin utama yang harus dijadikan pedoman, khususnya bagi para penjaga bangsa.
Pertama, tentang Kedisiplinan Waktu. Kiai Syaifudin menegaskan bahwa salat lima waktu adalah kurikulum disiplin Ilahiyah yang sempurna. “Salat mengajarkan manajemen waktu yang presisi. Dari subuh hingga isya, ada waktu yang telah ditetapkan. Ini paralel dengan dunia militer di mana ketepatan waktu (timing) dalam operasi bisa menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan. Seorang prajurit yang disiplin dalam salatnya, insya Allah, akan terlatih untuk disiplin dalam segala aspek tugasnya. Salat adalah latihan dasar (basic training) bagi ketahanan mental dan konsistensi,” urainya panjang lebar.
Kedua, tentang Integritas Moral dan Amanah. Penceramah ini mengaitkan perjalanan Isra Mi’raj dengan konsep amanah yang berat. “Nabi menerima perintah langsung di hadirat Allah. Itu adalah amanah agung untuk disampaikan kepada umat. Demikian pula, seorang prajurit memikul amanah berat dari negara dan rakyat. Seragam yang beliau kenakan, senjata yang dipegang, dan wilayah yang dijaga, semuanya adalah amanah. Menjaga amanah ini dengan jujur, profesional, dan bertanggung jawab adalah bentuk syukur kita kepada Allah SWT. Sehebat apa pun keterampilan tempur, tanpa integritas yang dibangun dari ketakwaan, akan rapuh,” tegasnya.
Ketiga, tentang Keseimbangan Hubungan Vertikal dan Horizontal (Hablum Minallah wa Hablum Minannas). Ini menjadi poin sentral dalam tausiyahnya. Kiai Syaifudin menjelaskan bahwa perjalanan Isra Mi’raj dimulai dari bumi (Masjidil Haram dan Aqsa) kemudian naik ke langit, lalu kembali lagi ke bumi. “Ini simbol keseimbangan. Seorang prajurit tidak boleh hanya kuat secara spiritual di masjid, tetapi lemah dalam hubungan dengan rakyat. Sebaliknya, tidak boleh hanya sibuk dengan urusan duniawi hingga melupakan Sang Pemberi Hidup. Hablum minallah terwujud dalam ketaatan ibadah, hablum minannas terwujud dalam pengabdian tulus kepada masyarakat, membela yang lemah, dan menjaga persatuan bangsa. TNI yang dicintai rakyat adalah TNI yang prajuritnya tidak hanya gagah di medan tugas, tetapi juga santun di tengah masyarakat dan khusyuk di hadapan Allah,” paparnya dengan analogi yang mudah dicerna.
Kontekstualisasi dalam Penugasan Teritorial
Acara yang dihadiri seluruh Danramil ini juga menjadi semacam penguatan visi-misi teritorial. Dalam konteks Kabupaten Lamongan yang merupakan wilayah dengan karakteristik masyarakat religius dan dinamis, pendekatan soft power melalui pembinaan mental spiritual dinilai sangat efektif.
Seorang perwira yang hadir, Letkol Inf Joko Priyanto (nama samaran), Danramil salah satu kecamatan, menyatakan bahwa pesan dari tausiyah sangat relevan dengan tugas hariannya. “Di wilayah kami, interaksi dengan kiai, tokoh masyarakat, dan warga sangat intens. Nilai-nilai dari Isra Mi’raj tentang amanah dan hablum minannas menjadi panduan. Kami harus bisa menjadi contoh dalam sikap dan perilaku, tidak hanya sebagai aparat keamanan tetapi juga sebagai bagian dari komunitas yang taat beragama. Ini membangun trust yang sangat penting untuk keamanan kewilayahan,” ujarnya usai acara.
Kasdim Mayor Arh Moh. Ngateno dalam percakapan terpisah juga menambahkan, kegiatan keagamaan seperti ini adalah bagian dari program Pembinaan Mental Ideologi (Binmental) Kodim. “Prajurit yang tangguh lahir batin adalah fondasi pertahanan yang sesungguhnya. Ketangguhan batin bersumber dari ketakwaan. Melalui peringatan hari-hari besar agama, kita rawat sumber kekuatan itu. Ini sejalan dengan program TNI AD dalam membangun prajurit yang berkarakter dan profesional,” jelasnya.
Doa Bersama untuk Keselamatan Bangsa dan Keamanan Wilayah
Sebelum acara ditutup, seluruh jamaah yang memadati Masjid Al-Arif mengangkat tangan untuk berdoa bersama. Doa yang dipimpin langsung oleh KH. Syaifudin tidak hanya untuk keselamatan dan kesehatan pribadi, tetapi secara khusus dipanjatkan untuk keselamatan bangsa dan negara Indonesia.
“Ya Allah, lindungilah NKRI dari segala macam ancaman, baik dari luar maupun dari dalam. Berkahilah para penjaga perbatasan, kukuhkanlah persatuan anak bangsa, dan jadikanlah wilayah Lamongan ini selalu dalam keadaan kondusif, aman, dan sejahtera,” demikian salah satu potongan doa yang disambut dengan lirihnya suara “Aamiin” dari seluruh hadirin.
Doa bersama ini menegaskan posisi TNI bukan hanya sebagai kekuatan fisik, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang peduli dan turut memohon keselamatan negeri melalui jalur spiritual.
Penutup: Memaknai Spiritualitas dalam Baju Dinas
Peringatan Isra Mi’raj 1447 H di Kodim 0812/Lamongan menutup tirai dengan kesan mendalam. Acara yang berdurasi lebih dari dua jam tersebut berhasil memadukan antara refleksi keagamaan yang mendalam dengan semangat kedinasan yang mengakar.
Tidak hanya sekadar mendengarkan ceramah, para prajurit diajak untuk melakukan perjalanan intropeksi, mengevaluasi sejauh mana nilai-nilai ketakwaan dan disiplin telah diimplementasikan dalam dinas keseharian. Pesan universal dari Isra Mi’raj tentang kepatuhan, disiplin waktu, integritas, dan keseimbangan hidup, terbukti sangat kontekstual dengan nilai-nilai keprajuritan seperti kesetiaan, ketaatan, keberanian, dan pantang menyerah.
Dalam perspektif yang lebih luas, kegiatan ini juga merupakan bentuk konkret dari sikap TNI yang menghormati dan menjunjung tinggi kehidupan beragama sebagai bagian dari pengamalan Pancasila, khususnya sila pertama. Kodim 0812/Lamongan, melalui momentum ini, kembali mengukuhkan identitasnya sebagai institusi negara yang tak hanya kuat secara fisik dan strategis, tetapi juga kokoh secara spiritual dan moral.
Seiring dengan doa bersama yang mengalun khidmat, semoga nilai-nilai Isra Mi’raj yang telah diperteguh ini mampu menjadi energi penggerak bagi seluruh prajurit Kodim 0812/Lamongan dalam mengawal tugas-tugasnya. Menjadi prajurit yang tidak hanya sigap dalam menghadapi ancaman, tetapi juga bijak dalam membina wilayah, dan paling utama, tetap menjadi hamba yang taat di manapun bertugas. Sebab, bagi mereka, mengangkat senjata untuk mempertahankan kedaulatan adalah bagian dari ibadah, dan melaksanakan salat tepat waktu adalah bentuk disiplin tertinggi yang mengokohkan jiwa sang penjaga bangsa.









