Infolamongan.com – Upaya konkret mewujudkan ketahanan pangan tidak hanya menjadi wacana di tingkat nasional, tetapi diterjemahkan dalam aksi nyata di tingkat tapak. Hal ini ditunjukkan oleh jajaran Koramil 0812/13 Sugio yang bersama unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Sugio sukses menggelar Panen Raya Jagung di Desa Gondanglor, Minggu (11/01/2026). Kegiatan yang dilaksanakan di lahan percontohan seluas 2 hektar ini menjadi penanda keberhasilan program pendampingan petani dan optimasi lahan oleh TNI, sekaligus bukti sinergi strategis antar komponen bangsa untuk kemandirian pangan.
Lahan seluas 2 hektar di Desa Gondanglor tersebut bukanlah lahan biasa. Ia merupakan lahan binaan yang secara intensif dipantau dan didampingi oleh Babinsa (Bintara Pembina Desa) Koramil Sugio sejak awal masa tanam. Kehadiran Danramil 0812/13 Sugio, Kapten Arm Yudi K., beserta Camat Sugio, jajaran Polsek Sugio, serta perangkat desa dan kelompok tani dalam acara panen, bukan sekadar seremoni. Kehadiran mereka merupakan pernyataan politik yang kuat tentang komitmen kolektif untuk menjaga stabilitas stok pangan lokal, yang pada akhirnya menyangga ketahanan nasional.
Sinergi TNI-Pemerintah Desa: Dari Teori ke Lapangan
Dalam sambutannya di tengah hamparan jagung yang menguning, Danramil Kapten Arm Yudi K. menekankan filosofi pendampingan yang diterapkan. “Program ini berangkat dari pemahaman bahwa TNI tidak hanya hadir untuk menjaga kedaulatan teritorial, tetapi juga kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan adalah pertahanan nasional yang paling fundamental,” ujarnya. Ia menjelaskan, pendampingan yang dilakukan bersifat holistik, mulai dari pemilihan benih unggul, teknik tanam yang efektif, manajemen pemupukan dan pengendalian hama terpadu, hingga pendampingan pada masa panen dan pasca panen.
“Kami tidak sekadar menyuruh menanam. Babinsa kami turun langsung, berdiskusi dengan petani, mengidentifikasi kendala, dan mencari solusi bersama. Lahan seluas 2 hektar di Desa Gondanglor ini adalah laboratorium hidup dan bukti nyata bahwa dengan sinergi yang solid antara TNI, pemerintah kecamatan, desa, dan tentu saja kerja keras para petani, target swasembada pangan bukanlah ilusi,” tegas Danramil Yudi.
Peran Babinsa dalam konteks ini mengalami transformasi. Dari fungsi utama sebagai pengawas keamanan dan ketertiban di pedesaan, mereka juga berperan sebagai agent of development dan agricultural extension worker. Pengetahuan dasar pertanian yang dimiliki, ditambah pelatihan berkelanjutan, membuat mereka menjadi jembatan yang efektif antara kebijakan pemerintah dengan praktik di lapangan.
Dampak Ganda: Ketahanan Pangan dan Perekonomian Petani
Panen raya ini memiliki makna ganda. Di tingkat makro, hasil panen dari lahan binaan seperti ini berkontribusi langsung terhadap penambahan stok pangan nasional, khususnya komoditas jagung yang merupakan bahan pangan pokok alternatif dan bahan baku penting bagi industri pakan ternak. Stabilnya pasokan jagung di tingkat lokal dapat membantu menekan fluktuasi harga dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari daerah lain.
Di tingkat mikro, keberhasilan panen ini langsung dirasakan oleh kesejahteraan petani di Desa Gondanglor. Meningkatnya produktivitas per hektar berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan. “Ini bukan sekadar panen biasa. Ini adalah panen harapan. Hasil yang baik ini memberikan keyakinan kepada kami bahwa dengan metode yang tepat dan pendampingan, usaha tani bisa lebih menguntungkan,” ujar salah seorang petani binaan, Suroto, dengan wajah sumringah.
Melalui program ini, petani juga mendapatkan transfer pengetahuan dan teknologi pertanian yang dapat diterapkan di lahan mereka sendiri, meningkatkan kapasitas dan kemandirian mereka dalam jangka panjang.
Inspirasi bagi Desa Lain: Mengubah Lahan Tidur Menadi Lumbung Pangan
Keberhasilan lahan binaan di Desa Gondanglor diharapkan menjadi trigger dan model percontohan bagi desa-desa lain di Kecamatan Sugio dan sekitarnya. Salah satu potensi besar yang masih bisa digarap adalah optimalisasi lahan tidur atau lahan marginal yang belum termanfaatkan secara maksimal.
“Keberhasilan di Gondanglor harus menjadi pemantik. Banyak sekali lahan-lahan yang sebenarnya potensial tetapi belum digarap optimal karena berbagai kendala, seperti akses air, modal, atau pengetahuan. Sinergi seperti ini bisa menjadi jawabannya. Kami dari pemerintah kecamatan siap mendukung dengan kebijakan dan koordinasi,” ujar Camat Sugio, yang juga hadir dalam acara tersebut.
Program binaan Koramil ini menunjukkan bahwa pendekatan bottom-up melalui pendampingan langsung, dikombinasikan dengan komitmen top-down dari unsur Muspika, dapat menghasilkan percepatan pembangunan pertanian yang signifikan. Model “Koramil dan Muspika Bergerak” ini efektif karena memanfaatkan jaringan TNI yang sudah ada hingga ke pelosok desa, disertai kewenangan pemerintah daerah dalam menggerakkan program.
Tantangan dan Langkah Keberlanjutan
Meski sukses, tantangan ke depan tetap ada. Keberlanjutan program menjadi kata kunci. Kemandirian petani harus tetap menjadi tujuan akhir, sehingga suatu saat pendampingan intensif dapat dikurangi ketika petani sudah sepenuhnya mampu mengelola lahannya secara mandiri dan profesional.
Selain itu, aspek pemasaran hasil panen juga perlu mendapat perhatian serius. Sinergi perlu diperluas tidak hanya sampai panen, tetapi juga melibatkan dinas pertanian, koperasi, atau bahkan offtaker dari industri untuk memastikan hasil panen memiliki nilai tambah dan pasar yang jelas dengan harga yang wajar. Hal ini akan menciptakan siklus pertanian yang berkelanjutan dari hulu ke hilir.
Panen Raya Jagung di Desa Gondanglor hari ini adalah sebuah narasi optimistis. Ia membuktikan bahwa swasembada pangan dimulai dari kesungguhan di level desa, didukung oleh sinergi yang erat antara TNI sebagai penggerak, pemerintah daerah sebagai fasilitator, dan petani sebagai pelaku utama. Dalam narasi pertahanan modern, ketahanan pangan adalah garis depan yang tidak kalah pentingnya dengan garis perbatasan. Dan di garis depan itu, Koramil Sugio bersama petani Lamongan telah memenangkan satu pertempuran penting, dengan jagung yang berbuah lebat sebagai benderanya. Keberhasilan ini diharapkan dapat direplikasi dan ditingkatkan skalanya, menuju Lamongan dan Indonesia yang benar-benar berdaulat di bidang pangan.









