Infolamongan.com – Sebagai upaya konkret mempercepat pengendalian banjir yang kerap melanda wilayahnya, Pemerintah Kabupaten Lamongan serius menangani titik rawan di aliran sungai. Pada Jumat (30/1/2026), Bupati Lamongan Yuhronur Efendi didampingi Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Gatut Bayuaji, melakukan peninjauan langsung terhadap kegiatan penguatan tanggul di Kali Plalangan. Kali ini merupakan bagian dari sistem aliran Bengawan Jero yang selama ini menjadi salah satu episentrum genangan. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial, melainkan untuk memastikan progres pekerjaan berjalan optimal dan mengevaluasi akar masalah banjir secara komprehensif.
Peninjauan yang dilakukan di lokasi proyek menunjukkan komitmen pemerintah daerah yang didukung oleh otoritas sungai tingkat nasional (BBWS) untuk mencari solusi teknis yang tepat, tidak hanya sekadar tambal sulam. Fokusnya adalah menangani masalah sistemik, terutama pada sistem pembuangan air ke arah utara yang dinilai belum representatif, sehingga menyebabkan tanggul Kali Plalangan kerap jebol setiap tahun.
Proyek Penguatan Tanggul dan Revitalisasi Aliran
Kegiatan di Kali Plalangan mencakup dua intervensi utama yang saling berkaitan:
-
Penguatan Tanggul: Memperkuat struktur fisik tanggul yang ada dengan material dan metode yang lebih baik untuk meningkatkan ketahanannya terhadap tekanan air yang tinggi, terutama saat debit sungai meningkat drastis di musim penghujan.
-
Pekerjaan Penguatan Aliran hingga ke Hulu (Revitalisasi): Pekerjaan tidak hanya di titik tanggul, tetapi juga dilakukan secara berkelanjutan ke arah hulu sampai ke area jembatan. Tujuannya adalah untuk melancarkan dan mengarahkan aliran air agar lebih efisien menuju saluran pembuangan. Revitalisasi ini termasuk mungkin normalisasi lebar dan kedalaman sungai, pembersihan material endapan, serta perbaikan pada struktur pengarah aliran.
“Kali Palangan setiap tahun kerap mengalami jebol akibat sistem pembuangan ke arah utara yang masih kurang representatif. Oleh karena itu, revitalisasi aliran sungai hingga jembatan menjadi fokus agar arus pembuangan air dari selatan ke utara dapat lebih lancar dan fungsi sungai dapat dimaksimalkan,” jelas Bupati yang akrab disapa Pak Yes di lokasi peninjauan.
Pernyataan ini mengakui bahwa masalahnya bersifat sistemik. Memperbaiki tanggul saja tidak cukup jika sistem drainase makro (pembuangan ke utara) tidak mampu menampung dan mengalirkan air dengan kapasitas yang memadai.
Evaluasi Menyeluruh Sistem Pengendalian Bengawan Jero
Di luar penanganan darurat di Kali Plalangan, Bupati Yuhronur mengungkapkan bahwa pihaknya sedang melakukan evaluasi komprehensif terhadap sistem pengendalian Bengawan Jero secara keseluruhan. Evaluasi ini bertujuan mengidentifikasi segala aspek yang perlu ditingkatkan, mulai dari kapasitas saluran, infrastruktur pendukung, koordinasi dengan sistem sungai lain (terutama Bengawan Solo), hingga aspek tata ruang di daerah aliran sungai (DAS).
“Sistem pengendalian Bengawan Jero secara keseluruhan saat ini masih dalam tahap evaluasi,” ujar Pak Yes. Evaluasi ini penting untuk merancang strategi jangka menengah dan panjang yang lebih efektif dan berkelanjutan, mengubah pendekatan dari responsif menjadi preventif.
Salah satu fokus evaluasi adalah mencari alternatif saluran pembuangan air. Diskusi dan kajian teknis intensif terus dilakukan bersama BBWS Bengawan Solo dan kemungkinan instansi terkait lainnya. Tujuannya adalah untuk menciptakan opsi-opsi baru atau memperkuat saluran yang ada agar debit air yang masuk ke Bengawan Jero dapat berkurang. Dengan mengurangi beban air di sungai ini, tekanan pada tanggul-tanggul seperti di Kali Plalangan akan berkurang, sehingga potensi jebol dan banjir dapat ditekan.
Sinergi dengan Sistem Bengawan Solo dan Pelaporan ke Pemerintah Pusat
Upaya pengendalian banjir di Lamongan tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terintegrasi dengan sistem pengelolaan sungai yang lebih besar. Bupati Yuhronur menegaskan bahwa pemerintah kabupaten terus mengupayakan penyelesaian sistem pengendalian air secara terintegrasi, termasuk sinergi dengan sistem Bengawan Solo. Kolaborasi dengan BBWS Bengawan Solo, yang memiliki otoritas pada sungai induk tersebut, adalah kunci untuk menciptakan koordinasi operasi pintu air, pembuangan, dan pengaturan debit antar sistem sungai.
Hasil dari penanganan darurat dan evaluasi menyeluruh yang sedang berlangsung ini rencananya akan dilaporkan ke pemerintah pusat. Laporan ini dimaksudkan untuk memperoleh dukungan program, pendanaan, dan penguatan kebijakan di tingkat nasional. Banjir di Lamongan adalah masalah kompleks yang membutuhkan intervensi multidimensi dan pendanaan yang signifikan, sehingga dukungan pusat sangat dibutuhkan. Penyelesaian diharapkan dapat dilakukan secara bertahap sesuai prioritas dan kebutuhan di lapangan, menunjukkan pendekatan yang realistis dan terukur.
Peran Masyarakat: Menjaga Kebersihan Sungai sebagai Bentuk Pencegahan
Selain upaya teknis struktural dari pemerintah, Bupati Yuhronur juga menekankan aspek non-struktural yang tak kalah penting: peran serta masyarakat. Beliau menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan warga dalam menjaga kebersihan serta kelestarian sungai.
“Khususnya dalam mencegah penumpukan sampah dan eceng gondok yang dapat menghambat aliran air,” pesan Pak Yes. Sampah domestik dan pertumbuhan eceng gondok yang tak terkendali adalah masalah klasik yang memperparah banjir. Sampah menyumbat saluran dan pintu air, sementara eceng gondok mengurangi kapasitas tampung sungai dan memperlambat aliran.
Oleh karena itu, program sosialisasi, gerakan bersih sungai, dan penegakan peraturan tentang pembuangan sampah harus berjalan beriringan dengan perbaikan infrastruktur. Masyarakat diajak untuk menjadi bagian dari solusi dengan tidak membuang sampah ke sungai dan turut serta dalam pemeliharaan lingkungan aliran sungai.
Kesimpulan: Pendekatan Holistik untuk Ketahanan terhadap Bencana
Peninjauan dan penjelasan Bupati Yuhronur Efendi di Kali Plalangan mengindikasikan sebuah pendekatan penanganan banjir yang lebih holistik di Lamongan. Pendekatan ini menggabungkan:
-
Intervensi Teknis Darurat: Memperbaiki titik rawan (tanggul) dan merevitalisasi aliran.
-
Evaluasi Sistemik: Mencari akar masalah pada sistem pembuangan dan integrasi dengan sungai lain.
-
Kolaborasi Lintas Otoritas: Bekerja sama dengan BBWS Bengawan Solo dan melibatkan pemerintah pusat.
-
Pemberdayaan Masyarakat: Mengajak warga menjaga kebersihan sungai.
Dengan empat pilar ini, diharapkan upaya pengendalian banjir tidak hanya sekadar memindahkan atau menahan air untuk sementara, tetapi benar-benar membangun ketahanan wilayah (resilience) terhadap risiko genangan air di masa mendatang. Perjalanan masih panjang, tetapi langkah awal dengan fokus pada sistem, bukan sekadar gejala, adalah arah yang tepat untuk mengatasi banjir tahunan yang telah lama menjadi momok di Bumi Joko Tingkir.









