Infolamongan.com – Dalam langkah preventif yang komprehensif, Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Pucuk mengambil inisiatif proaktif untuk membentengi generasi mudanya dari ancaman ganda: degradasi moral dan penyalahgunaan narkoba. Pada Jumat (16/01/2026), digelarlah Sosialisasi Kenakalan Remaja, Bahaya Narkoba, dan Penguatan Wawasan Kebangsaan di Balai Desa Ngambeg. Kegiatan yang dihadiri oleh perangkat desa, tokoh pemuda, dan perwakilan remaja ini bukan sekadar ceramah satu arah, melainkan upaya sistematis membangun kesadaran kolektif akan pentingnya menciptakan ekosistem desa yang sehat dan berkarakter.
Acara yang digelar di jantung Desa Ngambeg ini menegaskan bahwa perlindungan terhadap pemuda tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab orang tua atau sekolah secara parsial, tetapi memerlukan pendekatan terpadu yang melibatkan seluruh unsur pemerintahan dan masyarakat. Dengan sasaran utama para pemuda yang rentan terhadap pengaruh pergaulan bebas dan eksplorasi berisiko, sosialisasi ini hadir sebagai intervensi dini yang strategis.
Penekanan pada Fondasi Kebangsaan: Filter Mental bagi Pemuda
Pembicara pertama, Peltu Dul Kholil selaku Perwira Urusan Teritorial (Batuud) Koramil 0812/26 Pucuk yang mewakili Danramil, menyampaikan materi inti dengan penekanan pada pembangunan mental. Ia menegaskan bahwa wawasan kebangsaan bukanlah hafalan sejarah semata, melainkan fondasi identitas dan ketahanan mental.
“Pemuda adalah aset bangsa. Dengan memahami wawasan kebangsaan, mereka akan memiliki filter yang kuat terhadap pengaruh buruk lingkungan, termasuk bahaya narkoba yang dapat merusak masa depan,” tegas Peltu Dul Kholil di hadapan peserta. Logikanya jelas: seorang pemuda yang memahami nilai-nilai perjuangan, cinta tanah air, dan memiliki kebanggaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia, akan memiliki tujuan hidup yang lebih besar. Ia akan lebih mampu menolak bujukan sesat yang menawarkan pelarian semu melalui narkoba, karena menyadari bahwa dirinya adalah penerus estafet pembangunan bangsa.
Pendekatan ini berusaha mengisi kekosongan makna dan identitas yang sering dialami remaja di masa transisi, yang membuat mereka mudah terpengaruh oleh kelompok sebaya yang salah. Wawasan kebangsaan di sini dihadirkan sebagai sumber kekuatan dan panduan moral.
Sinergi Aparatur: Hukum, Pengawasan, dan Peran Masyarakat
Sosialisasi ini juga menampilkan kekuatan sinergi Muspika. Camat Pucuk, Nurul Misbah, S.H., M.M., dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi. “Sinergitas antara aparatur pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan desa yang aman dan kondusif,” ujarnya. Pernyataan ini adalah ajakan untuk membangun sistem pengawasan sosial (social control) yang alami dan efektif, di mana masyarakat tidak tutup mata terhadap potensi kenakalan di lingkungannya.
Sementara itu, aspek hukum dan konsekuensi nyata dari penyalahgunaan narkoba disampaikan secara gamblang oleh Kapolsek Pucuk, AKP Su’ud, S.H., M.H. Ia tidak hanya memaparkan bahaya kesehatan, tetapi secara detail menjelaskan jerat hukum yang menanti, mulai dari ancaman pidana penjara yang panjang hingga stigma sosial yang akan melekat seumur hidup. “Pentingnya peran orang tua dalam mengawasi pergaulan anak juga tidak bisa dianggap remeh. Banyak kasus berawal dari pergaulan yang salah dan kurangnya pengawasan,” imbuh Kapolsek Su’ud. Pesan ini menempatkan pencegahan sebagai tanggung jawab berjenjang, dari negara (melalui hukum), pemerintah daerah (melalui program), hingga unit terkecil, yaitu keluarga.
Peran Strategis KKN UNAIR: Agen Penyebar Informasi di Tingkat Akar Rumput
Sebagai nilai tambah, kegiatan ini melibatkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Airlangga (UNAIR) yang sedang bertugas di wilayah tersebut. Kehadiran mereka bukan sebagai peserta pasif, melainkan sebagai mitra strategis untuk amplifikasi pesan. Para mahasiswa diharapkan dapat menjadi jembatan dan penyampai pesan yang lebih mudah diterima oleh kalangan remaja karena kedekatan usia dan gaya komunikasi.
“Kehadiran mahasiswa KKN UNAIR dalam kegiatan ini juga diharapkan dapat membantu menyebarluaskan pesan positif tersebut kepada rekan sebaya dan anak-anak sekolah di wilayah Desa Ngambeg melalui program-program edukasi lanjutan,” seperti disampaikan dalam penyelenggaraan. Dengan demikian, sosialisasi tidak berhenti di balai desa. Para mahasiswa dapat melanjutkan dengan pendekatan yang lebih kreatif, seperti diskusi kelompok terfokus, pembuatan konten media sosial, atau kegiatan outbound bernuansa edukasi, sehingga pesan pencegahan narkoba dan cinta tanah air dapat menyebar lebih luas dan berkelanjutan.
Visi Jangka Panjang: Menuju Desa Bebas Narkoba dan Pemuda Berkarakter
Tujuan akhir dari rangkaian upaya ini sangat visioner. Melalui sosialisasi yang diikuti dengan program tindak lanjut, diharapkan Desa Ngambeg dapat berkembang menjadi contoh “Lingkungan Bebas Narkoba”. Lebih dari sekadar bebas dari zat terlarang, desa ini diharapkan dapat melahirkan pemuda-pemudi yang berkarakter kuat, berjiwa nasionalis, dan memiliki ketahanan mental dalam menghadapi tantangan zaman.
Pencapaian visi ini memerlukan konsistensi. Sosialisasi tunggal tidak akan cukup. Diperlukan follow-up berupa pembentukan kelompok pemuda peduli bangsa dan anti-narkoba, peningkatan kegiatan positif seperti olahraga dan kesenian, serta sistem pelaporan dan pendampingan bagi remaja yang terindikasi memiliki masalah. Peran aktif Karang Taruna dan organisasi kepemudaan lainnya menjadi kunci.
Sosialisasi di Balai Desa Ngambeg hari ini adalah titik awal yang krusial. Ia telah meletakkan dasar pemahaman, membangun komitmen bersama antar-lembaga, dan menggarisbawahi bahwa melindungi generasi muda adalah investasi terbesar bagi masa depan Desa Ngambeg, Kecamatan Pucuk, dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Kini, tugas bersama adalah memastikan api semangat yang telah dinyalakan ini terus terjaga dan membesar, menerangi jalan para pemuda menuju masa depan yang cerah dan bebas dari ancaman narkoba serta kenakalan.









