Infolamongan.com – Kinerja implementasi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Lamongan mendapatkan pujian langsung dari tingkat pusat. Menteri Koordinator Bidang Pangan (Menko Pangan) Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, secara khusus memberikan apresiasi atas capaian progres KDMP Lamongan yang dinilai sebagai yang tertinggi di Provinsi Jawa Timur. Apresiasi ini disampaikan Zulhas saat melakukan peninjauan langsung ke KDMP Doyomulyo, Kecamatan Kembangbahu, pada Selasa (27/1/2026) sore.
Kunjungan ini tidak hanya menjadi pengakuan, tetapi juga validasi bahwa model penguatan ekonomi berbasis koperasi desa yang digalakkan pemerintah pusat dapat berjalan dengan baik ketika didukung sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, TNI, dan BUMN. Dengan 95 KDMP yang aktif berbisnis dan total omzet terkumpul hampir setengah miliar rupiah, Lamongan menunjukkan bahwa pondasi ekonomi desa dapat dibangun secara sistematis.
Progres Tertinggi Se-Jawa Timur: Dari Angka ke Realita Bisnis
Dalam peninjauannya, Menko Pangan Zulkifli Hasan yang akrab disapa Zulhas menyampaikan kekagumannya. “Saya sangat mengapresiasi kinerja Kabupaten Lamongan dalam mengawal program KDMP, saat ini Kabupaten Lamongan menjadi daerah dengan capaian progres KDMP tertinggi di Jawa Timur,” tutur Zulhas di hadapan jajaran pemkab dan pengurus koperasi.
Pernyataan ini didasari pada data konkret. Hingga saat ini, tercatat 95 unit KDMP di Kabupaten Lamongan yang telah menjalankan proses bisnis secara aktif, terutama di sektor pangan dan perdagangan. Keaktifan ini bukan sekadar wacana atau pembentukan struktur, tetapi telah menghasilkan perputaran ekonomi riil. Total omzet yang berhasil diakumulasi oleh seluruh KDMP mencapai Rp 473.474.950 (473,5 juta rupiah). Angka ini menunjukkan bahwa koperasi-koperasi ini telah benar-benar berfungsi sebagai entitas bisnis yang hidup di tengah masyarakat.
Infrastruktur dan SDM: Dua Pilar Pendukung Keberhasilan
Keberhasilan Lamongan dalam mengawal KDMP tidak lepas dari perhatian pada dua aspek krusial: infrastruktur fisik dan kapasitas sumber daya manusia (SDM).
-
Penyiapan Infrastruktur: Sebanyak 13 gerai KDMP telah dinyatakan 100% menyelesaikan pembangunan fisiknya. Pembangunan sarana dan prasarana seperti gerai, pergudangan, dan kelengkapan pendukung dilakukan melalui inventarisasi dan optimalisasi aset desa dan aset daerah. Proses ini dilaksanakan secara kolaboratif bersama Kodim 0812 Lamongan, menunjukkan peran TNI dalam pembangunan infrastruktur sipil dan pemberdayaan masyarakat. Sinergi ini mempercepat pembangunan sekaligus memastikan efisiensi anggaran.
-
Peningkatan Kapasitas SDM: Koperasi tidak akan berjalan tanpa pengurus yang kompeten. Untuk itu, peningkatan kapasitas SDM telah diberikan kepada 948 pengurus yang berasal dari 474 KDMP (mencakup calon dan yang sudah aktif). Pelatihan ini penting untuk membekali pengurus dengan ilmu manajemen koperasi, administrasi, keuangan, dan pemasaran. Selain itu, sosialisasi dan pengembangan usaha KDMP difasilitasi oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Lamongan melalui kerja sama strategis dengan BUMN, yaitu PT Pupuk Indonesia, PT Pertamina, Perum BULOG, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (IDFOOD). Kemitraan ini membuka akses KDMP pada pasokan barang yang lebih murah, berkualitas, dan terpercaya.
Peran Strategis KDMP: Dari Pemasok MBG hingga Agregator Rantai Pasok
Menko Pangan Zulhas juga memaparkan visi besar di balik program KDMP. Beliau menegaskan bahwa KDMP dirancang sebagai sentral ekonomi rakyat di tingkat desa yang memiliki multifungsi strategis:
-
Mitra Pemasok Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Ini adalah peran langsung yang mengaitkan KDMP dengan program prioritas nasional. Sebanyak 8 KDMP di Kabupaten Lamongan telah bermitra dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Dengan menjadi pemasok kebutuhan SPPG, KDMP tidak hanya mendapatkan pasar yang pasti, tetapi juga turut serta dalam mensukseskan program pemerintah untuk meningkatkan gizi anak sekolah. Nilai ekonominya langsung ke desa.
-
Penampung Hasil Usaha Rakyat: KDMP berfungsi sebagai wadah untuk menampung dan mengelola hasil usaha masyarakat desa, mulai dari produk pertanian (beras, sayur, buah), peternakan (telur, daging), hingga perikanan (ikan segar, olahan). Hal ini memberikan nilai tambah bagi petani/nelayan dan mencegah mereka dieksploitasi oleh tengkulak.
-
Agregator Rantai Pasok Nasional: Peran paling transformatif adalah menjadikan KDMP sebagai agregator yang memotong mata rantai distribusi yang panjang dari produsen ke konsumen. Dengan membeli langsung dari produsen besar (seperti BUMN) atau dari petani lokal dalam skala kolektif, KDMP dapat menjual kebutuhan pokok dengan harga yang lebih murah dan stabil kepada anggota dan masyarakat desa. Stabilitas harga di tingkat desa inilah yang akan meringankan beban hidup masyarakat.
Dampak dan Masa Depan: Model yang Bisa Direplikasi
Apresiasi Menko Pangan terhadap KDMP Lamongan adalah pengakuan bahwa model pemberdayaan ini berhasil. Dampaknya sudah terlihat: ekonomi desa bergerak, masyarakat desa mendapat akses barang murah dan pasar yang pasti, program nasional (MBG) terbantu, dan yang terpenting, rasa percaya diri dan kemandirian ekonomi desa tumbuh.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi benchmark atau contoh bagi daerah lain di Indonesia. Kunci suksesnya terletak pada kepemimpinan daerah yang serius, sinergi yang solid dengan TNI/BUMN, pembinaan SDM yang berkelanjutan, dan penempatan KDMP sebagai ujung tombak dari berbagai program strategis seperti ketahanan pangan dan perbaikan gizi.
Dengan terus didukung, KDMP di Lamongan bukan hanya akan menjadi koperasi biasa, tetapi bisa berkembang menjadi holding company ekonomi desa yang kuat, menguasai rantai pasok dari hulu ke hilir, dan menjadi tulang punggung kesejahteraan masyarakat perdesaan di Bumi Joko Tingkir. Peninjauan Menko Pangan ini diharapkan menjadi suntikan semangat baru untuk terus memacu kinerja dan inovasi di tingkat tapak.









