Infolamongan.com – Cuaca ekstrem yang terus menghantam wilayah Kabupaten Lamongan menguji kesiapsiagaan dan responsivitas aparat keamanan. Dalam satu hari yang sama, Senin (12/01/2026), dua kejadian pohon tumbang yang mengancam keselamatan dan memutus akses transportasi terjadi di dua kecamatan berbeda. Kecepatan penanganan Polsek Tikung dan Polsek Ngimbang menjadi kunci utama dalam memulihkan kelancaran lalu lintas di ruas-ruas jalan arteri yang vital bagi perekonomian dan mobilitas warga Lamongan.
Gangguan pertama terjadi di Kecamatan Tikung. Sekitar pukul 14.55 WIB, hujan deras dan angin kencang merobohkan sebuah pohon besar di Jalan Raya Mantup, tepatnya di selatan Masjid Namira. Dampaknya langsung parah: pohon tersebut menutup seluruh ruas jalan raya penghubung Lamongan–Mantup. Bukan hanya menghentikan arus lalu lintas dua arah, tumbangan pohon juga menyebabkan sebuah tiang Penerangan Jalan Umum (PJU) roboh bersamaan, memperparah kondisi dan menambah risiko bahaya di lokasi.
Mendapatkan laporan tersebut, Kapolsek Tikung AKP Anang Purwo Widodo, S.H., segera memimpin timnya bergerak cepat ke lokasi. Mereka tiba di tengah kondisi cuaca yang masih tidak bersahabat. Prioritas utama adalah mengamankan lokasi untuk mencegah pengendara nekat menerobos area berbahaya, kemudian segera menyingkirkan penghalang. Dengan melibatkan instansi terkait setempat, proses evakuasi dan pemotongan pohon segera dimulai. Tantangan dihadapi secara manual dengan alat seadanya, mengingat lokasinya yang berada di jalan raya padat.
“Kecepatan respons sangat penting di titik ini. Jalan Lamongan-Mantup adalah jalur utama. Gangguan satu jam saja bisa menyebabkan antrean panjang dan berpotensi kecelakaan. Kami fokus membuka satu lajur terlebih dahulu agar kendaraan bisa bergantian lewat,” jelas seorang anggota Polsek Tikung yang terlibat. Berkat koordinasi dan kerja keras tim, proses yang berlangsung dalam kondisi sulit itu akhirnya membuahkan hasil. Pada pukul 16.00 WIB, tepat sekitar satu jam setelah kejadian, pohon tumbang berhasil dievakuasi sepenuhnya dan arus lalu lintas dapat kembali berjalan lancar.
Insiden Kedua di Ngimbang: Tantangan Malam Hari dan Kerja Sama dengan Damkar
Belum usai napas lega dari penanganan di Tikung, tantangan serupa muncul di ujung wilayah lain. Sekitar pukul 19.20 WIB, di Jalan Raya Poros Babat–Jombang, tepatnya di area terowongan Desa Girik, Kecamatan Ngimbang, sebuah pohon kembali tumbang. Penyebabnya adalah kombinasi faktor alam dan kondisi pohon itu sendiri yang sudah rapuh, dengan ranting yang terlalu lebat sehingga tidak mampu menahan terpaan angin. Pohon ini menutupi sebagian ruas jalan, cukup untuk membuat akses menjadi sempit dan berbahaya, terutama bagi kendaraan besar.
Menghadapi insiden kedua ini, Kapolsek Ngimbang IPTU I Wayan Sumantra, S.H., mengerahkan anggota piket. Yang membedakan penanganan di sini adalah kolaborasi yang melibatkan Pemadam Kebakaran (Damkar) Kecamatan Ngimbang. Kehadiran Damkar menjadi nilai tambah signifikan, karena mereka membawa peralatan pemotong (chainsaw) dan perlengkapan keselamatan yang lebih memadai untuk bekerja di kondisi gelap dan hujan. Sinergi antara kepolisian, petugas Damkar, dan stakeholder lokal lainnya mempercepat proses.
“Kerja sama dengan Damkar sangat membantu. Mereka memiliki kapasitas teknis dan peralatan khusus untuk menangani pohon tumbang, terutama di malam hari. Tugas kami adalah mengamankan lokasi, mengatur lalu lintas, dan memastikan proses evakuasi berjalan aman untuk semua pihak,” ujar Kapolsek Ngimbang, IPTU I Wayan Sumantra. Setelah kurang lebih 1,5 jam bekerja di bawah guyuran hujan dan penerangan seadanya, pada pukul 20.45 WIB, pohon berhasil disingkirkan dan jalan poros Babat-Jombang dinyatakan aman kembali untuk dilalui seluruh kendaraan.
Pola dan Peringatan: Menyoroti Akar Permasalahan
Dua insiden dalam sehari di dua lokasi berbeda ini bukanlah kebetulan. Ia menyingkap pola ancaman berulang di musim penghujan dengan intensitas tinggi. Kasihumas Polres Lamongan, Ipda M. Hamzaid, menyoroti hal ini dan kembali mengeluarkan imbauan publik. “Kejadian ini adalah alarm. Kami imbau seluruh masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang yang masih berpotensi terjadi,” pesannya.
Imbauan tersebut rinci dan aplikatif. Masyarakat diharapkan: (1) berhati-hati dan mengurangi kecepatan saat berkendara dalam kondisi hujan, (2) menghindari berteduh di bawah pohon besar, baliho, atau struktur sementara yang tidak kokoh ketika hujan badai, serta (3) proaktif melaporkan kepada pihak berwenang (RT/RW, desa, atau kepolisian) jika melihat ada pohon yang sudah condong, rapuh, atau berpotensi tumbang.
Refleksi: Dari Responsif ke Preventif
Aksi cepat Polsek Tikung dan Ngimbang patut mendapat apresiasi. Mereka telah menunjukkan model quick response yang efektif untuk gangguan non-kriminal, memulihkan fungsi vital infrastruktur transportasi dalam waktu relatif singkat. Namun, kisah ini tidak boleh berhenti pada pujian atas respons darurat.
Kejadian beruntun ini harus mendorong evaluasi menyeluruh ke tingkat yang lebih preventif. Pemerintah daerah, melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) serta Dinas Lingkungan Hidup, perlu melakukan audit dan pemetaan pohon-pohon tua dan berisiko tinggi di sepanjang jalan provinsi dan kabupaten. Program pemangkasan rutin, penanaman kembali dengan jenis pohon yang lebih aman dan berakar kuat, serta sistem pelaporan warga yang terintegrasi dengan aplikasi, bisa menjadi langkah strategis jangka menengah.
Dengan demikian, tugas menjaga keselamatan jalan raya di musim penghujan tidak hanya dibebankan pada kesigapan polisi saat bencana terjadi, tetapi juga pada program perawatan dan mitigasi risiko yang sistematis dan berkelanjutan. Sinergi antara respons cepat aparat dan kebijakan preventif pemerintah daerah akan menjadi solusi terbaik untuk melindungi masyarakat dari ancaman pohon tumbang di masa depan.









