Kebaya dan Wastra Lamongan Jadi Sorotan di Panggung GOW-Dekranasda, Perkuat Pesan “Perempuan Berdaya dan Berkarya”

Infolamongan.com – Pesona dan kekayaan budaya lokal menjadi medium untuk menguatkan peran strategis perempuan. Dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-97 sekaligus Hari Ulang Tahun (HUT) ke-63 Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Lamongan, dua organisasi kewanitaan terkemuka, GOW Lamongan dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Lamongan, menggelar Lomba Fashion Show bertajuk estetika. Acara yang berlangsung meriah di Aula Gadjah Mada, Gedung Pemkab Lamongan Lantai 7, pada Selasa (23/12/2025) siang, ini bukan sekadar ajang peragaan busana, melainkan sebuah pernyataan filosofis tentang peran perempuan yang multidimensional.

Acara yang dibuka secara resmi oleh Ketua Dekranasda Kabupaten Lamongan, Anis Kartika Yuhronur Efendi, ini diikuti oleh 27 tim peserta yang masing-masing menampilkan tiga orang perwakilan. Melalui fashion show ini, GOW dan Dekranasda ingin mengemas peringatan Hari Ibu dengan cara yang kreatif, sekaligus menyampaikan pesan-pesan penting tentang pemberdayaan, pelestarian budaya, dan ekonomi kreatif.

Filosofi di Balik Fashion Show: Apresiasi, Kreativitas, dan Pelestarian Budaya

Dalam sambutannya, Anis Kartika Yuhronur Efendi menegaskan bahwa lomba fashion show ini memiliki tujuan yang lebih dalam daripada sekadar kompetisi. “Momentum Hari Ibu kali ini dikemas melalui lomba fashion show tujuannya adalah mengapresiasi perempuan, meningkatkan kreativitas, kepercayaan diri, dan meningkatkan rasa bangga akan wastra nusantara, serta mempererat silaturahmi,” ujar Anis.

Pernyataan ini menggarisbawahi beberapa aspek kunci:

  1. Apresiasi Peran Perempuan: Fashion show menjadi panggung untuk merayakan eksistensi dan kontribusi perempuan dalam berbagai bidang, menggeser fokus dari peran domestik semata menuju peran publik yang diakui.

  2. Penguatan Diri: Proses tampil di depan umum dengan percaya diri dapat menjadi terapi untuk meningkatkan self-esteem dan leadership skill bagi para peserta, yang kebanyakan adalah ibu-rumah tangga atau perempuan dari berbagai profesi.

  3. Pelestarian Budaya Lokal: Aturan utama lomba yang mewajibkan penggunaan kebaya yang dipadupadankan dengan wastra khas Lamongan adalah strategi cerdas. Ini adalah bentuk seruan nyata untuk melestarikan, menghargai, dan mengaktualisasikan pakaian tradisional serta kain khas daerah di kehidupan modern. Wastra Lamongan, seperti batik tulis dengan motif tertentu atau tenun khas, mendapatkan ruang promosi yang elegan.

Perempuan sebagai Agen Perubahan Menuju Indonesia Emas 2045

Anis Kartika juga menyoroti tema besar Hari Ibu tahun ini, “Perempuan Berdaya dan Berkarya Menuju Indonesia Emas 2045”. Tema ini, menurutnya, bukan sekadar slogan. “Menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam mencapai visi besar Indonesia Emas 2045,” tegasnya.

Ia kemudian memaparkan spektrum peran perempuan yang luas:

  • Dalam Keluarga: Tetap sebagai fondasi utama pendidikan karakter generasi penerus.

  • Sebagai Agen Perubahan dan Penggerak Ekonomi: Perempuan, khususnya melalui organisasi seperti GOW dan Dekranasda, telah lama menjadi motor ekonomi kreatif, dari kerajinan tangan, kuliner, hingga fashion. Mereka menciptakan lapangan kerja, melestarikan kearifan lokal, dan berkontribusi pada Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

  • Penjaga Nilai Sosial: Perempuan sering menjadi perekat sosial dalam masyarakat, menjaga tradisi gotong-royong dan nilai-nilai kebajikan.

  • Pemimpin di Berbagai Bidang: Perempuan kini telah merambah dan menjadi pemimpin yang kompeten di bidang politik, birokrasi, pendidikan, kesehatan, dan lainnya.

“Disamping peran dalam keluarga, perempuan juga memiliki peran sebagai agen perubahan penggerak ekonomi, menjaga nilai sosial, dan pemimpin di berbagai bidang,” tambah Anis, merangkum peran perempuan yang holistik.

GOW Lamongan: 63 Tahun Berdedikasi untuk Pemberdayaan Perempuan

Acara ini juga menjadi momen istimewa bagi GOW Kabupaten Lamongan, karena sekaligus menandai puncak peringatan HUT ke-63 organisasi tersebut. Dilaporkan oleh Ketua GOW Lamongan, Chana Dirham Aksara, kegiatan fashion show ini adalah bentuk aktualisasi dari semangat organisasi yang telah lebih dari enam dekade mendampingi dan memberdayakan perempuan Lamongan.

GOW, sebagai wadah federasi berbagai organisasi wanita, telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjalankan program-program peningkatan kualitas hidup perempuan, dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi. Keikutsertaan 27 tim dari berbagai unsur dalam GOW menunjukkan vitalitas dan semangat kebersamaan yang masih terjaga kuat setelah 63 tahun.

Dampak dan Makna: Lebih dari Sekadar Panggung Catwalk

Lomba fashion show GOW-Dekranasda ini memiliki dampak berlapis:

  • Ekonomi Kreatif: Mendorong pengrajin wastra dan kebaya lokal untuk terus berinovasi, sekaligus memasarkan produk mereka.

  • Pendidikan Budaya: Memperkenalkan kepada generasi muda dan publik tentang keindahan dan nilai filosofis di balik kebaya dan wastra Lamongan.

  • Pemberdayaan Psikologis: Memberikan ruang bagi perempuan biasa untuk menjadi “bintang” sejenak, meningkatkan rasa percaya diri dan harga diri.

  • Jaringan dan Sinergi: Mempererat silaturahmi antaranggota GOW dan dengan Dekranasda, menciptakan kolaborasi yang lebih kuat untuk program-program selanjutnya.

Penutup: Merayakan Perempuan dengan Cara yang Memberdayakan

Peringatan Hari Ibu ke-97 di Lamongan melalui Lomba Fashion Show ini berhasil menciptakan formula yang tepat: merayakan perempuan dengan cara yang justru memberdayakan mereka. Dengan menjadikan budaya sebagai alat dan fashion sebagai bahasa, GOW dan Dekranasda Lamongan berhasil menyampaikan pesan progresif tentang kesetaraan dan peran strategis perempuan tanpa terkesan menggurui.

Acara ini menjadi bukti bahwa pemberdayaan perempuan bisa dilakukan dengan pendekatan yang anggun, menghibur, dan mendalam. Pesan tentang “Perempuan Berdaya dan Berkarya” tidak hanya terdengar di pidato, tetapi terpancar dari setiap langkah percaya diri para peserta di atas panggung, dibalut oleh kain kebaya dan wastra yang menjadi simbol identitas, ketahanan, dan keanggunan perempuan Lamongan itu sendiri. Langkah ini sejalan dengan upaya membangun fondasi sosial-budaya yang kuat untuk menyambut Indonesia Emas 2045.

Pos terkait

Baca juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *