Infolamongan.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lamongan melaporkan adanya peningkatan temuan kasus baru infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada tahun 2025. Data yang dipantau pada Rabu (07/12/2025) menunjukkan, hingga akhir tahun ini, sebanyak 194 kasus baru HIV telah berhasil terdeteksi.
Angka tersebut mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2024, yang mencatat total 167 kasus baru. Secara numerik, terjadi penambahan 27 kasus atau kenaikan sekitar 16,2%.
Meskipun statistik menunjukkan tren naik, otoritas kesehatan setempat dengan tegas menyatakan bahwa lonjakan angka temuan ini tidak serta-merta mencerminkan peningkatan eksponensial dalam laju penularan virus di masyarakat. Kepala Dinkes Kabupaten Lamongan, dr. Mochammad Maulana, M.Kes., dalam keterangan resminya yang beredar luas di platform media sosial Instagram, Facebook, dan TikTok Dinkes Lamongan, menekankan bahwa peningkatan ini justru merupakan indikator keberhasilan dari program skrining dan testing HIV yang semakin masif dan agresif.
“Yang perlu dipahami oleh publik, peningkatan angka temuan kasus ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, kita harus tetap waspada. Di sisi lain, ini adalah buah dari kerja keras kita dalam memperluas jangkauan testing, baik di fasilitas kesehatan maupun melalui layanan keliling dan acara-acara kesehatan masyarakat,” ujar dr. Maulana dalam video penjelasan yang diunggah di akun resmi.
Upaya Skrining Masif sebagai Strategi Utama
Dr. Maulana menjelaskan bahwa sepanjang 2025, Dinkes Lamongan telah menggencarkan berbagai inisiatif untuk menemukan kasus sedini mungkin. Strategi ini sejalan dengan program nasional pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS. Beberapa upaya yang dilakukan antara lain:
-
Memperbanyak Lokasi dan Frekuensi Tes HIV: Layanan Voluntary Counseling and Testing (VCT) tidak hanya tersedia di rumah sakit dan puskesmas, tetapi juga diperluas ke klinik pratama dan layanan kesehatan lainnya. Jam operasional juga ditambah untuk memudahkan akses masyarakat.
-
Penguatan Layanan Tes Cepat (Rapid Test) di Puskesmas: Semua puskesmas di kabupaten Lamongan telah dilengkapi dengan kemampuan untuk melakukan tes cepat HIV dengan hasil yang dapat diketahui dalam hitungan menit. Konseling sebelum dan sesudah tes juga diberikan.
-
Sosialisasi dan Edukasi Proaktif: Tim promosi kesehatan dan konselor dari Dinkes aktif melakukan pendekatan ke kelompok berisiko tinggi, seperti populasi kunci (pekerja seks, pengguna napza suntik, pria yang berhubungan seks dengan pria, dan waria), serta pasangan dari Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Edukasi dilakukan untuk menghilangkan stigma dan mendorong kesadaran melakukan tes.
-
Kolaborasi dengan LSM dan Komunitas: Dinkes bermitra dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) peduli AIDS dan komunitas pendukung untuk menjangkau populasi yang sulit terjangkau oleh layanan kesehatan formal. Pendekatan peer group (kelompok sebaya) dinilai sangat efektif.
-
Integrasi Testing dengan Layanan Kesehatan Lain: Tes HIV mulai diintegrasikan dengan layanan kesehatan umum, seperti pemeriksaan kehamilan (antenatal care), pengobatan penyakit menular seksual (IMS), dan pemeriksaan kesehatan pra-nikah.
“Dengan menemukan lebih banyak kasus, artinya lebih banyak orang yang mengetahui status HIV-nya. Ini adalah langkah pertama yang sangat kritis. Orang yang sudah tahu statusnya bisa segera dirujuk untuk memulai pengobatan ARV (Antiretroviral),” tambah dr. Maulana.
Antiretroviral (ARV) sebagai Penanggulangan
Dinkes Lamongan juga melaporkan bahwa dari 194 kasus baru yang terdeteksi, sebagian besar telah dirujuk untuk memulai terapi Antiretroviral (ARV). Pengobatan ARV yang diminum secara teratur dan disiplin dapat menekan jumlah virus dalam darah hingga tidak terdeteksi. Kondisi ini, yang dikenal sebagai U=U (Undetectable = Untransmittable), berarti orang dengan HIV yang memiliki viral load tidak terdeteksi tidak dapat menularkan virus melalui hubungan seksual kepada pasangannya.
“Ini pesan penting: HIV bukanlah akhir segalanya. Dengan pengobatan ARV yang tepat, ODHA bisa hidup sehat, produktif, dan tidak menularkan virus. Kuncinya adalah tes sedini mungkin dan patuh berobat,” tegas Eka Suryani, S.KM., Koordinator Program HIV/AIDS Dinkes Lamongan.
Profil Epidemiologi dan Tantangan
Data Dinkes menunjukkan bahwa kasus HIV di Lamongan tersebar di berbagai kecamatan dengan pola yang beragam. Secara demografis, kasus banyak ditemukan pada usia produktif (20-49 tahun), dengan proporsi lebih tinggi pada laki-laki. Namun, terdapat juga tren peningkatan pada kalangan ibu rumah tangga, yang umumnya tertular dari pasangan.
Tantangan terbesar yang dihadapi, selain perluasan skrining, adalah stigma dan diskriminasi yang masih melekat kuat di masyarakat. Banyak orang yang takut melakukan tes karena khawatir akan dicap negatif jika hasilnya positif. Stigma ini juga membuat beberapa ODHA enggan untuk terbuka dan konsisten berobat.
“Kami terus mengkampanyekan pentingnya sikap supportif, bukan stigma. Lingkungan yang mendukung justru membantu ODHA untuk berobat dengan baik, sehingga rantai penularan bisa diputus,” pungkas Eka.
Respon dan Harapan Masyarakat
Penyebaran berita ini melalui media sosial seperti TikTok dan Instagram mendapatkan beragam respons. Sebagian warganet mengapresiasi transparansi data dan upaya edukasi Dinkes. Beberapa komentar seperti “Terima kasih infonya, penting banget ini” dan “Semoga yang kena cepat ditangani dan sehat selalu” mendominasi kolom komentar.
Namun, tidak sedikit juga yang menyuarakan kekhawatiran dan mempertanyakan efektivitas program pencegahan. “Kenapa justru naik? Apa pencegahannya kurang?” tanya seorang pengguna Facebook.
Menanggapi hal ini, dr. Maulana kembali menegaskan bahwa interpretasi data harus komprehensif. “Angka temuan yang tinggi dalam konteks skrining aktif adalah angka yang baik. Yang berbahaya adalah jika kita tidak melakukan testing, lalu kasusnya banyak tapi tersembunyi. Itu sumber penularan yang tidak terkendali. Sekarang, dengan tahu, kita bisa kendalikan.”
Untuk ke depan, Dinkes Lamongan berkomitmen untuk terus meningkatkan cakupan skrining, memperkuat layanan konseling dan dukungan psikososial, serta menggalakkan kampanye pencegahan kombinasi, termasuk penggunaan kondom dan PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) untuk populasi berisiko sangat tinggi.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan meski angka temuan kasus mungkin masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan akibat intensifikasi testing, pada akhirnya akan diikuti dengan penurunan laju infeksi baru secara signifikan, seiring dengan semakin banyaknya ODHA yang diobati dan mencapai status tidak menular.









