Infolamongan.com – Nuansa berbeda tampak di Cafe Van der Wijck pada peringatan Hari Kartini tahun ini. Puluhan anak dari jenjang TK dan PAUD memadati lokasi dengan balutan busana adat Nusantara yang berwarna-warni, menghadirkan suasana ceria sekaligus sarat makna edukatif. Kegiatan yang bertajuk “Kartini Cilik” ini menjadi ruang ekspresi bagi anak-anak untuk mengenal sosok R.A. Kartini melalui pendekatan yang lebih menyenangkan.
Tidak hanya sekadar seremoni seremonial belaka, acara ini dikemas secara interaktif agar nilai perjuangan dan semangat kesetaraan yang diperjuangkan Kartini dapat dipahami oleh anak-anak sejak usia dini. Pemilihan Cafe Van der Wijck sebagai lokasi acara dinilai memiliki nilai tambah tersendiri, karena bangunan bernuansa klasik dan historis memberikan pengalaman belajar yang lebih kontekstual namun tetap santai dan tidak membosankan.
Wadah Kreativitas dan Kepercayaan Diri
Sejumlah agenda digelar untuk mendorong keberanian anak dalam tampil di ruang publik. Defile atau peragaan busana adat menjadi salah satu kegiatan utama yang menampilkan keberagaman budaya Indonesia. Anak-anak tampil percaya diri di hadapan para juri dan penonton, menciptakan suasana hangat penuh apresiasi. Sorak sorai dan tepuk tangan dari para orang tua yang hadir turut memeriahkan acara.
Selain defile, berbagai lomba kreatif juga turut meramaikan kegiatan “Kartini Cilik”. Panitia menilai bahwa aktivitas semacam ini sangat penting untuk melatih kemandirian sekaligus membangun karakter positif pada anak sejak usia dini. Lomba mewarnai, lomba menyanyi lagu-lagu perjuangan, hingga lomba bercerita tentang tokoh pahlawan wanita menjadi bagian dari rangkaian acara.
Koordinator kegiatan menyampaikan bahwa pendekatan yang menyenangkan ini sengaja dipilih agar figur Kartini tidak dipahami oleh anak-anak sebagai sekadar tokoh sejarah yang membosankan. Sebaliknya, Kartini harus menjadi sumber inspirasi nyata yang dapat memotivasi mereka untuk berani bermimpi dan terus belajar.
“Kami ingin anak-anak memahami bahwa semangat Kartini adalah tentang keberanian bermimpi dan belajar. Melihat antusiasme mereka hari ini, kami yakin nilai itu bisa tumbuh sejak dini. Mereka tidak hanya berdandan cantik, tetapi juga diajak memahami makna di balik perjuangan Kartini,” ujarnya.
Latar belakang Cafe Van der Wijck yang memiliki nilai historis kuat turut dimanfaatkan sebagai media pembelajaran. Anak-anak diajak berkeliling melihat arsitektur klasik bangunan peninggalan kolonial, sambil mendengarkan cerita singkat tentang masa lalu dan pentingnya perjuangan perempuan Indonesia. Dengan cara ini, edukasi sejarah menjadi lebih hidup dan tidak terasa seperti pelajaran di dalam kelas.
Dukungan Penuh Orang Tua
Antusiasme tidak hanya datang dari para peserta cilik, tetapi juga dari para orang tua yang turut hadir mendampingi. Mereka terlihat aktif mendokumentasikan setiap momen, mulai dari penampilan anak-anak di atas panggung hingga pengumuman para pemenang lomba. Tak sedikit orang tua yang juga mengenakan busana adat untuk memeriahkan suasana.
Salah satu orang tua mengungkapkan kegembiraannya. “Saya senang sekali anak saya bisa ikut kegiatan seperti ini. Selain belajar berani tampil di depan umum, dia juga jadi tahu tentang Kartini dengan cara yang menyenangkan. Dia sekarang sering bertanya tentang Kartini dan pahlawan lainnya,” ujarnya.
Acara ditutup dengan pembagian piala dan penghargaan bagi para pemenang lomba, serta sesi foto bersama antara panitia, peserta, dan orang tua. Suasana haru dan bahagia terpancar dari wajah-wajah mungil yang mengenakan busana adat dari berbagai daerah, mulai dari kebaya, baju kurung, hingga pakaian adat dari Papua dan Maluku.
Kegiatan “Kartini Cilik” ini meninggalkan kesan mendalam bagi semua pihak yang terlibat. Lebih dari sekadar perayaan tahunan, acara ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai kepahlawanan dan perjuangan dapat ditanamkan melalui langkah-langkah sederhana. Salah satunya adalah dengan mendorong anak-anak menjadi pribadi yang berani, kreatif, dan percaya diri sejak usia dini.
Peringatan Hari Kartini tahun ini pun menjadi bukti bahwa semangat perjuangan dan literasi sejarah dapat diwariskan dengan cara yang relevan, menyenangkan, dan mudah dicerna oleh generasi masa depan. Dengan kreativitas dan keterlibatan aktif orang tua, sosok Kartini tidak akan pernah lekang oleh waktu.









