Infolamongan.com – Pagi itu, seorang penjual gorengan harus menghitung ulang harga tepung dan minyak. Bukan untuk mencari untung lebih, tetapi sekadar memastikan dagangannya masih bisa dijual tanpa merugi. Kenaikan harga bahan bukan lagi angka di berita ekonomi bagi banyak pelaku UMKM, itu adalah pertanyaan sederhana, apakah hari ini mereka masih bisa bertahan?
Di tengah dinamika global, konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dan berdampak pada jalur distribusi energi dunia, khususnya Selat Hormuz. Ketika jalur ini terganggu, harga minyak dunia melonjak. Dampaknya tidak selalu langsung terasa dalam bentuk kenaikan harga bahan bakar domestik, tetapi merembet cepat ke berbagai sektor terutama pada bahan baku industri yang berbasis minyak, seperti plastik.
Bagi pelaku usaha kecil, kenaikan harga plastik bukan hal sepele. Plastik adalah bagian dari keseharian produksi, misalnya sebagai kemasan makanan, botol, kantong, hingga berbagai kebutuhan usaha lainnya. Ketika harga plastik naik, biaya produksi ikut terdorong. Dan karena terjadi secara bertahap, tekanan ini sering datang diam-diam, tanpa disadari hingga akhirnya terasa berat.
Namun yang sering luput dari perhatian, tidak semua UMKM berada pada posisi yang sama. Sebagian besar justru berada pada tingkat bertahan hidup (livelihood activities), usaha yang dijalankan bukan untuk berkembang, tetapi untuk menyambung hidup dari hari ke hari. Mereka adalah penjual makanan rumahan, pedagang kecil, pengrajin skala mikro, yang penghasilannya langsung terhubung dengan kebutuhan sehari-hari keluarga.
Pada level ini, setiap kenaikan harga memiliki dampak langsung. Tidak ada cadangan untuk menahan guncangan. Tidak ada ruang untuk strategi jangka panjang. Bahkan keputusan kecil seperti mengganti kemasan, mengurangi ukuran produk, atau menaikkan harga seribu rupiah bisa menentukan apakah pelanggan tetap datang atau justru perlahan pergi.
Di sinilah ironi itu muncul. Konflik global yang terjadi jauh dari kehidupan sehari-hari justru menekan mereka yang paling dekat dengan realitas ekonomi paling dasar. Pelaku UMKM pada tingkat bertahan hidup tidak pernah terlibat dalam negosiasi geopolitik, tetapi merekalah yang harus menanggung akibatnya.
Jika dilihat lebih dalam, kondisi ini bukan sekadar kebetulan. Mari sejenak kita menengok ke arah Karl Marx untuk refleksi pada kondisi ini. Karl Marx sering menggaungkan bahwa sistem ekonomi kerap bekerja dengan cara yang tidak seimbang yaitu menguntungkan mereka yang memiliki kekuatan, dan membebani mereka yang berada di lapisan bawah. Dalam konteks hari ini, UMKM pada level bertahan hidup berada tepat di titik paling rentan itu. Sementara itu, sebagaimana dijelaskan Michel Foucault, kekuasaan modern tidak selalu tampak sebagai tekanan langsung, tetapi bekerja melalui mekanisme yang terlihat wajar termasuk pasar. Kenaikan harga akibat konflik global seolah menjadi sesuatu yang “alami”, padahal di baliknya ada relasi kuasa yang tidak seimbang.
Lebih jauh lagi, situasi ini juga dapat dibaca sebagai persoalan etika dalam ekonomi. Immanuel Kant pernah menegaskan bahwa manusia seharusnya diperlakukan sebagai tujuan, bukan sekadar alat. Namun dalam realitas hari ini, pelaku UMKM pada tingkat bertahan hidup sering kali terjebak dalam sistem yang memperlakukan mereka hanya sebagai bagian dari mekanisme pasar. Mereka menanggung dampak, menyesuaikan diri, dan terus beradaptasi, tanpa benar-benar memiliki posisi tawar.
UMKM sering digaung-gaungkan sebagai tulang punggung ekonomi. Namun bagi mereka yang berada di tingkat bertahan hidup, istilah itu terasa jauh dari realitas. Ketika harga bahan baku seperti plastik naik, mereka yang pertama merasakan. Ketika biaya produksi meningkat, mereka yang paling cepat goyah. Ketahanan yang selama ini dipuji sering kali bukan karena sistem yang mendukung, melainkan karena tidak ada pilihan selain terus bertahan.
Lebih dari sekadar unit ekonomi, UMKM pada level ini adalah wajah nyata kehidupan sehari-hari. Di baliknya ada keluarga yang menggantungkan hidup pada penghasilan harian. Ketika biaya produksi meningkat, yang terdampak bukan hanya usaha, tetapi juga kebutuhan makan, pendidikan anak, hingga kesehatan.
Dalam situasi seperti ini, negara tidak cukup hanya hadir dalam wacana. Ketika dampak global terasa hingga ke dapur-dapur kecil, kebijakan harus benar-benar berpihak. Stabilitas harga bahan baku, akses pembiayaan yang lebih inklusif, serta penguatan rantai pasok lokal menjadi kebutuhan mendesak.
Momentum ini juga menjadi pengingat penting bahwa ketergantungan terhadap bahan baku berbasis impor membuat pelaku usaha kecil semakin rentan. Ketika harga minyak dunia bergejolak, dampaknya langsung menjalar ke berbagai komponen produksi di dalam negeri.
Pada akhirnya, perang global mungkin terasa jauh dari kehidupan kita. Namun bagi UMKM yang bertahan hidup, dampaknya sangat dekat terasa di harga bahan, di pilihan-pilihan kecil yang harus diambil setiap hari.
Dan dalam kenyataan hari ini, satu hal menjadi jelas yakni, perang global tidak hanya terjadi di medan konflik, tetapi juga di warung-warung kecil dan dibayar oleh mereka yang hanya ingin bertahan hidup.
Biodata Penulis
Sany Mega Septiana adalah Staf Komunikasi Informasi Publik Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga dan mahasiswa doktoral (S3) bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia. Fokus kajiannya meliputi pengembangan SDM, pemberdayaan UMKM, transformasi digital serta isu-isu sosial dalam dinamika ekonomi global. Tulisan ini merupakan pandangan pribadi penulis.









