Infolamongan.id – Manchester United kembali berada dalam situasi krisis kepelatihan pada pertengahan musim Liga Inggris 2025–2026. Klub raksasa Inggris tersebut resmi memutuskan kerja sama dengan Ruben Amorim pada 5 Januari 2026, hanya sehari setelah Setan Merah gagal meraih kemenangan dan harus puas bermain imbang melawan Leeds United. Hasil tersebut menjadi titik akhir perjalanan Amorim bersama United, yang dinilai gagal mengangkat performa tim secara konsisten.
Keputusan manajemen Manchester United untuk kembali mengganti pelatih di tengah kompetisi menambah daftar panjang pergantian manajer dalam beberapa tahun terakhir. Untuk sementara waktu, posisi pelatih kepala diisi oleh Darren Fletcher, yang sebelumnya menangani skuad Manchester United U18. Fletcher ditunjuk sebagai caretaker sembari klub mencari sosok pelatih permanen yang dianggap mampu menstabilkan tim dan mengembalikan kepercayaan publik Old Trafford.
Di tengah situasi tersebut, nama Ole Gunnar Solskjaer kembali mencuat sebagai kandidat kuat pelatih Manchester United. Mantan manajer Setan Merah itu dikabarkan bersedia untuk kembali menangani klub yang pernah dibelanya sebagai pemain dan pelatih. Kabar tersebut pertama kali diungkap oleh jurnalis Italia sekaligus pakar transfer sepak bola, Fabrizio Romano.
Melalui akun Instagram pribadinya, Romano menyebut bahwa Solskjaer sangat tertarik kembali ke Old Trafford dan siap menerima proposal apa pun dari manajemen Manchester United.
“Seperti yang terungkap kemarin, Ole menginginkan pekerjaan itu dan kini dia adalah kandidat kuat… dengan pembicaraan tengah berlangsung,” tulis Fabrizio Romano.
“Tak ada persoalan soal durasi kontrak dan gaji. Ole siap menerima proposal apa pun. Dia berkata ‘ya’ untuk Man United,” tambahnya.
Krisis Kepelatihan Kembali Hantui Manchester United
Pemecatan Ruben Amorim menjadi bukti bahwa Manchester United masih belum menemukan stabilitas sejak era pasca-Sir Alex Ferguson. Amorim, yang ditunjuk dengan harapan membawa filosofi permainan modern dan progresif, gagal memenuhi ekspektasi manajemen serta pendukung klub.
Di Liga Inggris musim 2025–2026, performa Manchester United dinilai inkonsisten. Setan Merah kerap kehilangan poin penting, baik saat menghadapi tim papan atas maupun klub yang berada di zona bawah klasemen. Hasil imbang melawan Leeds United menjadi puncak kekecewaan manajemen, terlebih laga tersebut dimainkan di momen krusial musim.
Manajemen menilai tim membutuhkan perubahan cepat untuk mencegah keterpurukan lebih dalam. Penunjukan Darren Fletcher sebagai pelatih sementara dipandang sebagai solusi jangka pendek, mengingat pengalamannya di lingkungan klub serta pemahamannya terhadap struktur internal Manchester United.
Status Solskjaer Usai Berpisah dengan Besiktas
Ole Gunnar Solskjaer saat ini berstatus tanpa klub setelah berpisah dengan Besiktas pada Agustus 2025. Kiprahnya di klub Turkiye tersebut berlangsung singkat dan tidak sepenuhnya berjalan mulus. Meski demikian, reputasi Solskjaer sebagai pelatih yang memahami kultur klub besar tetap menjadi nilai jual utama.
Sebelumnya, Solskjaer dikenal sebagai figur yang mampu menciptakan suasana ruang ganti yang kondusif. Ia juga memiliki hubungan emosional yang kuat dengan Manchester United, mengingat perannya sebagai pemain legendaris yang mencetak gol penentu di final Liga Champions 1999.
Pengalaman melatih Manchester United pada periode 2018–2021 juga menjadi pertimbangan serius manajemen. Di bawah asuhannya, United sempat menunjukkan perkembangan, termasuk finis di posisi kedua Liga Inggris dan tampil kompetitif di kompetisi Eropa, meski gagal mempersembahkan trofi besar.
Faktor Nostalgia dan Stabilitas Jangka Pendek
Kembalinya Solskjaer dipandang oleh sejumlah pengamat sebagai opsi aman dalam situasi darurat. Di tengah musim yang berjalan, Manchester United membutuhkan sosok yang tidak memerlukan waktu adaptasi panjang. Solskjaer dinilai memahami tekanan besar di Old Trafford serta karakter pemain-pemain muda yang saat ini menghuni skuad Setan Merah.
Selain itu, pendekatan Solskjaer yang lebih humanis dan komunikatif diyakini bisa mengembalikan kepercayaan diri para pemain yang sempat menurun di bawah Amorim. Faktor nostalgia juga diyakini dapat meredam gejolak di kalangan suporter, yang mulai kehilangan kesabaran terhadap kebijakan manajemen.
Namun demikian, keputusan untuk memanggil kembali Solskjaer juga mengundang pro dan kontra. Sebagian pihak menilai United seharusnya mencari pelatih baru dengan visi jangka panjang, bukan kembali ke figur lama yang dinilai sudah mencapai batas maksimal pada periode sebelumnya.
Tantangan Berat Jika Kembali ke Old Trafford
Jika resmi kembali, Solskjaer akan dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Manchester United masih menghadapi masalah klasik, mulai dari inkonsistensi lini belakang, minimnya kreativitas di lini tengah, hingga ketajaman lini depan yang belum stabil.
Selain itu, tekanan publik dan media terhadap Manchester United jauh lebih besar dibanding periode pertama Solskjaer. Ekspektasi untuk meraih trofi kini menjadi tuntutan mutlak, bukan sekadar progres permainan atau posisi klasemen.
Solskjaer juga harus berhadapan dengan persaingan ketat di Liga Inggris yang semakin kompetitif. Klub-klub seperti Manchester City, Arsenal, Liverpool, dan Chelsea terus menunjukkan perkembangan signifikan, membuat ruang kesalahan bagi Manchester United semakin sempit.
Sikap Manajemen Manchester United
Hingga kini, pihak Manchester United belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar kembalinya Solskjaer. Namun sumber internal menyebutkan bahwa manajemen memang tengah mempertimbangkan beberapa opsi, termasuk pelatih berpengalaman dan kandidat jangka panjang.
Nama Solskjaer muncul sebagai solusi cepat yang dinilai minim risiko di tengah musim. Kesediaannya menerima kontrak dengan durasi dan nilai gaji apa pun juga menjadi faktor yang mempermudah negosiasi.
Manajemen dikabarkan ingin segera mengambil keputusan agar stabilitas tim tidak semakin terganggu, terutama menjelang fase penting kompetisi domestik dan Eropa.
Menanti Keputusan Akhir
Situasi Manchester United saat ini kembali menegaskan betapa sulitnya klub menemukan kestabilan sejak kepergian Sir Alex Ferguson. Kembalinya Ole Gunnar Solskjaer bisa menjadi langkah pragmatis untuk meredam krisis jangka pendek, meski bukan tanpa risiko.
Apakah nostalgia dan kedekatan emosional cukup untuk membawa Manchester United bangkit, atau justru menjadi langkah mundur, semua akan bergantung pada keputusan manajemen dalam waktu dekat. Yang jelas, sorotan publik kini kembali tertuju ke Old Trafford, menanti apakah Ole Gunnar Solskjaer benar-benar akan kembali ke kursi panas Setan Merah.









