Infolamongan.com – Suasana haru dan tegang masih menyelimuti kawasan Taman Mahoni, Desa Kendal, Kecamatan Sekaran. Memasuki hari kedua operasi kemanusiaan, upaya pencarian terhadap MN (13), anak yang dilaporkan tenggelam di Sungai Bengawan Solo, dilanjutkan dengan intensitas dan skala yang lebih besar, Rabu (04/02/2026). Pencarian yang sempat terhenti akibat cuaca ekstrem kemarin sore, kini digelar lagi dengan harapan baru, dipimpin langsung oleh pimpinan lapangan terdepan.
Sejak pukul 08.00 WIB pagi tadi, Kapolsek Sekaran IPTU Ahmad Zunaedi, S.IP. dan Kasat Polair Polres Lamongan AKP Guntur memimpin apel gabungan di titik lokasi kejadian. Apel ini bukan sekadar formalitas, melainkan briefing teknis penting untuk mengkoordinasikan seluruh elemen tim yang hari ini diperkuat dengan armada dan personel tambahan. Suara komando terdengar lantang di tepian sungai terpanjang di Jawa itu, mengawali hari yang penuh doa dan usaha keras.
Mobilisasi Sumber Daya: Tiga Perahu Karet Menyisir Aliran Sungai
Menyadari kompleksitas pencarian di badan sungai yang luas dan berarus, Tim Gabungan mendayagunakan seluruh aset air yang tersedia. Hari ini, tiga unit perahu karet dikerahkan untuk melakukan penyisiran paralel dan sistematis. Masing-masing perahu memiliki titik koordinat penyisiran yang telah diplot berdasarkan kajian arus.
Satu unit berasal dari Basarnas (Badan Search and Rescue Nasional) Bojonegoro, yang membawa keahlian khusus dalam operasi sar di perairan. Satu unit dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Kabupaten Lamongan, yang memahami karakteristik lokal sungai. Dan satu unit dari Satpolairud (Satuan Polisi Perairan dan Udara) Polres Lamongan sebagai leading sector penanggung jawab keamanan perairan. Kombinasi ini menciptakan sinergi antara kemampuan teknis nasional, kearifan lokal, dan otoritas penegakan hukum.
“Pencarian kami lakukan dengan menyusuri aliran Sungai Bengawan Solo di sekitar lokasi korban terakhir terlihat, dengan mempertimbangkan faktor arus sungai yang cukup deras pasca hujan serta kondisi cuaca yang kami pantau terus menerus,” jelas Kasat Polair AKP Guntur saat memberikan pengarahan. Tim di perahu dilengkapi dengan peralatan seperti ganco (pengait), tali, dan pelampung, sementara tim di darat melakukan pemantauan visual dari sepanjang bantaran sungai.
Kilas Balik Tragedi: Dari Renang Sore yang Berubah Jadi Bencana
Kasihumas Polres Lamongan IPDA M. Hamzaid, S.Pd. kembali memaparkan kronologi lengkap kejadian yang memilukan tersebut. Insiden terjadi pada Selasa sore (3/2/2026) sekitar pukul 16.00 WIB. Korban, MN (13), bersama temannya, R (14), memilih untuk berenang di spot yang dikenal sebagai Babakan Taman Mahoni. Lokasi ini meski kerap dijadikan tempat bermain, menyimpan potensi bahaya karena kedalaman dan arusnya yang tidak menentu.
“Saat berenang, korban MN diduga mengalami kelelahan atau kram dan mulai tidak bisa mengatasi arus. Ia pun berteriak meminta tolong,” jelas IPDA Hamzaid. Teriakan minta tolong itu didengar oleh seorang penjual es keliling yang kebetulan sedang beristirahat di sekitar lokasi. Dengan sigap, penjual es tersebut berteriak memanggil warga dan bersama-sama berusaha memberikan pertolongan.
Dalam upaya penyelamatan spontan oleh warga itu, R (14) berhasil ditarik ke darat dengan selamat. Namun, malang tak dapat ditolak, MN sudah terseret arus dan menghilang dari pandangan sebelum bantuan yang lebih memadai tiba. Sejak detik itulah, waktu seolah berjalan sangat lambat bagi keluarga dan warga.
Dihadang Cuaca: Upaya Hari Pertama Terpaksa Dihentikan
Tak lama setelah laporan masuk, tim dari Polsek Sekaran dan Satpolairud langsung bergerak ke lokasi. Upaya pencarian segera dimulai. Namun, alam seolah tidak berpihak. Sekitar satu hingga dua jam setelah kejadian, hujan deras disertai angin kencang mengguyur kawasan Sekaran. Kondisi ini bukan hanya mengurangi visibilitas, tetapi juga membuat arus Bengawan Solo semakin deras dan berbahaya bagi keselamatan personel pencari.
Dengan berat hati, pimpinan operasi di lapangan mengambil keputusan sulit untuk menghentikan sementara pencarian hingga cuaca reda. “Keselamatan tim pencari adalah prioritas. Operasi di air dengan kondisi hujan deras dan angin kencang sangat berisiko tinggi. Kami terpaksa menghentikan sementara hingga kondisi memungkinkan,” ujar Kapolsek Sekaran, IPTU Ahmad Zunaedi, mengenai keputusan yang diambil kemarin sore.
Penghentian sementara ini tentu menambah beban psikologis keluarga korban, namun dipahami sebagai langkah prosedural standar keselamatan dalam operasi SAR.
Imbauan Publik: Kewaspadaan Orang Tua di Titik Rawan
Di tengah upaya pencarian, Polres Lamongan tidak lupa menyampaikan pesan preventif kepada masyarakat luas. Kasihumas IPDA M. Hamzaid secara khusus mengimbau peningkatan kewaspadaan. “Kejadian ini harus menjadi perhatian bersama. Kami mengimbau masyarakat, khususnya orang tua dan guru, agar lebih meningkatkan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak di sekitar sungai, laut, atau perairan terbuka lainnya. Terutama saat cuaca tidak menentu seperti sekarang,” imbaunya dengan nada serius.
Ia menekankan bahwa Bengawan Solo, dengan segala pesonanya, tetaplah sebuah sungai besar dengan karakteristik yang bisa berubah cepat. “Anak-anak seringkali tidak memahami bahaya yang mengintai, seperti arus bawah (undercurrent), perubahan kedalaman yang drastis, atau kekuatan arus pasca hujan. Pengawasan aktif dari orang dewasa adalah kunci pencegahan,” tambahnya.
Komitmen Tanpa Henti: Sinergi untuk Kemanusiaan
Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian masih terus berlangsung. Komitmen dari seluruh elemen Tim Gabungan terasa kuat. “Polri bersama tim gabungan berkomitmen penuh untuk terus melakukan pencarian secara maksimal. Kami akan bersinergi dengan Basarnas, BPBD, relawan, dan seluruh elemen masyarakat yang peduli. Ini adalah misi kemanusiaan. Kami berdoa dan berusaha tanpa henti,” tegas Kapolres Lamongan melalui Kasihumas.
Relawan dari berbagai komunitas, termasuk pemuda desa setempat dan kelompok pecinta alam, juga turun membantu dengan melakukan pemantauan dari titik-titik tertentu di sepanjang aliran sungai. Solidaritas sosial tampak menguat di tengah duka.
Pencarian MN bukan lagi sekadar prosedur, melainkan sebuah ikhtiar kolektif seluruh masyarakat Lamongan untuk mengembalikan seorang anak kepada keluarganya. Setiap jengkal sungai yang disisir, setiap pandangan yang diarahkan ke air, dibawa oleh harapan yang sama. Di tepian Bengawan Solo yang membisu, yang terdengar hanyalah gemuruh mesin perahu karet dan doa-doa yang tak terucap dari sanubari para pencari.









