Infolamongan.com – Memasuki periode kritis puncak musim penghujan, ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) meningkat signifikan di berbagai wilayah, tak terkecuali di Kabupaten Lamongan. Menyikapi hal ini, sebuah aksi pencegahan terpadu dan kolaboratif digelar di Desa Karangsambigaleh, Kecamatan Sugio, pada Minggu (25/01/2026). Kegiatan fogging massal (pengasapan) yang dilaksanakan bukan hanya melibatkan petugas kesehatan, tetapi juga merupakan wujud nyata sinergi lintas sektor yang melibatkan TNI, Polri, tenaga kesehatan (nakes), dan elemen akademisi dari mahasiswa KKN Universitas Airlangga (UNAIR).
Aksi ini menunjukkan pendekatan yang komprehensif dalam penanganan isu kesehatan masyarakat, di mana aspek keamanan, teknis medis, dan edukasi berjalan beriringan. Selain bertujuan memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan teritorial dan pendekatan humanis aparat kepada warga.
Peta Kerja Sama: Empat Pilar Bersatu di Lapangan
Kolaborasi di Desa Karangsambigaleh melibatkan empat pilar utama yang masing-masing memiliki peran spesifik:
-
TNI AD (Babinsa Koramil 0812/13 Sugio): Diwakili oleh Serma Suwandi, Babinsa (Bintara Pembina Desa) berperan sebagai penggerak dan koordinator lapangan yang mengenal betul karakteristik wilayah dan warganya. Kehadiran TNI memberikan bobot operasional dan semangat gotong royong. “Fogging ini adalah langkah stimulan untuk membunuh nyamuk dewasa. Namun, kami bersama Bhabinkamtibmas dan adik-adik mahasiswa juga terus mengedukasi warga bahwa kunci utamanya tetap pada kebersihan lingkungan melalui 3M Plus,” ujar Serma Suwandi. Pernyataan ini menunjukkan pemahaman bahwa fogging hanyalah salah satu alat, bukan solusi tunggal.
-
Polri (Bhabinkamtibmas Polsek Sugio): Diwakili oleh Aiptu Budi, Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat) hadir untuk memastikan kegiatan berjalan tertib dan lancar. Lebih dari itu, kehadiran polisi memberi rasa aman dan menegaskan bahwa kesehatan masyarakat adalah bagian dari kamtibmas. “Kami ingin memastikan lingkungan Desa Karangsambigaleh sehat dan bebas dari ancaman DBD, sehingga produktivitas warga tidak terganggu,” tutur Aiptu Budi, menghubungkan langsung antara kesehatan, keamanan, dan ekonomi warga.
-
Tenaga Kesehatan (Puskesmas Setempat): Petugas kesehatan menjadi otoritas teknis yang mengarahkan titik-titik fokus fogging, mengawasi prosedur keselamatan, dan memberikan penjelasan medis tentang DBD. Mereka menjadi sumber informasi primer yang kredibel bagi masyarakat.
-
Akademisi (Mahasiswa KKN UNAIR): Keikutsertaan mahasiswa KKN memberikan energi dan pendekatan segar. Mereka berperan sebagai agen edukasi dan komunikasi yang efektif, terutama untuk menyasar kelompok ibu-ibu rumah tangga dan pemuda. Dengan bahasa yang mudah dipahami dan metode kreatif, mereka membantu menyampaikan pesan 3M Plus secara lebih mendalam.
Operasi Fogging: Menyisir Sarang Nyamuk dari Pemukiman hingga Saluran Air
Pelaksanaan fogging dilakukan secara sistematis dan menyeluruh. Tim gabungan tidak hanya fokus pada jalan utama, tetapi menyisir seluruh area pemukiman warga, termasuk pekarangan, tempat sampah, dan sudut-sudut lembab. Titik kritis seperti saluran air (got), selokan, area sekitar persawahan, serta tempat-tempat lain yang berpotensi menjadi sarang nyamuk juga menjadi sasaran. Pendekatan ini penting karena nyamuk Aedes aegypti memiliki jarak terbang yang terbatas, sehingga pemukiman adalah episentrum perkembangbiakannya.
Mesin fogging dioperasikan dengan cermat, dengan memperhatikan arah angin dan keamanan warga, termasuk mengamankan hewan peliharaan dan makanan. Proses ini diawasi langsung oleh petugas kesehatan untuk memastikan dosis dan jangkauan asap efektif membunuh nyamuk dewasa.
Edukasi 3M Plus: Kunci Pencegahan Jangka Panjang di Tengah Aksi Reaktif
Pesan utama yang terus digaungkan dalam aksi ini, baik oleh Babinsa, Bhabinkamtibmas, nakes, maupun mahasiswa, adalah bahwa fogging hanyalah solusi sementara (reaktif). Semua pihak dengan lugas menyampaikan bahwa pengasapan hanya efektif membunuh nyamuk dewasa yang sedang terbang, tetapi sama sekali tidak mempengaruhi jentik-jentik (larva) nyamuk yang bersembunyi di genangan air bersih.
Oleh karena itu, edukasi tentang Gerakan 3M Plus menjadi inti dari pencegahan berkelanjutan:
-
Menguras: Secara rutin membersihkan dan menguras tempat penampungan air seperti bak mandi, drum, vas bunga, dan tempat minum hewan.
-
Menutup: Menutup rapat-rapat semua wadah penampungan air untuk mencegah nyamuk masuk dan bertelur.
-
Mendaur Ulang/Memanfaatkan Kembali: Mengelola barang bekas yang dapat menampung air hujan, seperti kaleng, botol, atau ban bekas, agar tidak menjadi sarang jentik.
-
Plus: Berbagai tindakan tambahan seperti menaburkan larvasida (bubuk abate) di penampungan air yang sulit dikuras, menggunakan kelambu saat tidur, memakai losion anti nyamuk, dan menjaga kebersihan lingkungan secara umum.
Peran mahasiswa KKN sangat krusial dalam mentransformasi pesan teknis ini menjadi kampanye yang menarik, misalnya dengan pembuatan poster, demo langsung, atau pendampingan rumah ke rumah.
Dampak dan Apresiasi: Dari Keamanan Kesehatan hingga Ketahanan Masyarakat
Kegiatan yang berlangsung sejak pagi hari ini menuai apresiasi tinggi dari perangkat desa dan warga Karangsambigaleh. Mereka tidak hanya merasa dilindungi dari ancaman penyakit, tetapi juga merasakan kehadiran negara yang inklusif dan solutif.
Sinergi model ini memiliki dampak multidimensional:
-
Kesehatan Publik: Langsung menekan populasi nyamuk dewasa dan meningkatkan kesadaran akan pencegahan mandiri.
-
Keamanan Sosial: Kehadiran TNI-Polri yang membantu urusan kemanusiaan membangun citra positif dan memperkuat kepercayaan masyarakat pada aparat.
-
Pendidikan Masyarakat: Transfer pengetahuan dari akademisi dan tenaga profesional ke tingkat akar rumput.
-
Ketahanan Desa: Meningkatkan kapasitas masyarakat untuk secara mandiri mencegah wabah, yang pada akhirnya mendukung produktivitas dan kesejahteraan desa.
Kolaborasi TNI, Polri, Nakes, dan Mahasiswa KKN UNAIR di Karangsambigaleh ini layak menjadi prototype aksi pencegahan DBD yang dapat direplikasi di desa-desa lain. Ia membuktikan bahwa penanganan masalah kompleks seperti kesehatan membutuhkan pendekatan whole of society, di mana setiap elemen bangsa berkontribusi sesuai kapasitasnya untuk mencapai tujuan bersama: masyarakat yang sehat, aman, dan produktif.









