Bukan Sekadar Skripsi: Film Dokumenter “Panggung Wandu” Mahasiswa Unesa Ungkap Kehidupan Tersembunyi di Balik Panggung Ludruk

Surabaya, Infolamongan.com – Suasana Home Theater Perpustakaan Kampus 2 Lidah Wetan, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sore itu berubah menjadi ruang kontemplasi yang penuh keheningan. Lampu diredupkan, layar menyala, dan sebuah film dokumenter berjudul “Panggung Wandu” mulai diputar. Sekitar 100 mahasiswa, dosen, dan praktisi seni yang memadati ruangan tidak sekadar menonton, mereka diajak menyelami dunia yang selama ini jarang tersentuh sorotan: kehidupan para wandu, laki-laki yang memerankan perempuan di panggung ludruk.

Film dokumenter berdurasi sedang ini bukanlah produksi rumah produksi besar, melainkan karya tiga mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi Unesa: Rahmat Aditya Putra, Fauzyaur Rahma Trisnani, dan Akhdaan Arrafi Hadi. Bagi mereka, film ini adalah tugas akhir, sebuah karya yang menjadi syarat kelulusan, setara dengan skripsi. Namun, bagi para penonton yang hadir, film ini terasa lebih dari sekadar tugas akademik biasa.

“Kami ingin publik melihat kembali bagaimana ludruk bertahan. Termasuk bagaimana peran wandu di dalamnya,” ujar Rahmat Aditya Putra kepada awak media setelah pemutaran film, Jumat (13/3/2026).

“Panggung Wandu” mengupas tuntas kehidupan para wandu, sebuah elemen yang telah mengakar kuat dalam tradisi ludruk sejak lama. Dalam kesenian rakyat yang lahir dari rahim masyarakat Jawa Timur ini, peran perempuan hampir selalu dimainkan oleh laki-laki. Di atas panggung, mereka tampil penuh percaya diri, berdandan layaknya perempuan, berkebaya, berias wajah, dan bercakap dengan gaya khas yang mampu mengundang tawa penonton. Mereka adalah bintang yang menghidupkan cerita.

Namun, film ini tidak berhenti pada gemerlap panggung. Rahmat dan timnya dengan cermat merekam sisi lain yang tak pernah terlihat: kehidupan di balik layar. Ada cerita panjang tentang identitas yang harus dinegosiasikan setiap hari, tentang perjuangan melawan stigma masyarakat, dan tentang bagaimana para wandu menjalani kehidupan ganda—di panggung sebagai seniman, di luar panggung sebagai individu dengan identitas sosial yang kompleks.

Film ini bukanlah kisah satu orang, tetapi potret kolektif tentang sebuah dunia seni tradisi yang sedang berjuang untuk bertahan di tengah arus modernisasi. Melalui lensa kamera, penonton diajak menyaksikan percakapan intim dengan para pemain ludruk, pengamatan mendalam tentang dinamika kelompok, dan refleksi tentang masa depan kesenian yang mulai ditinggalkan penonton.

Setelah pemutaran film, acara dilanjutkan dengan seminar hasil. Para pembuat film memaparkan proses riset yang mereka lalui, mulai dari bagaimana mereka mendekati para pemain ludruk yang cenderung tertutup, hingga proses pemilihan sudut pandang cerita yang paling otentik. Diskusi berlangsung hangat, penonton bergantian melontarkan pertanyaan dan pandangan.

Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi Unesa, Dr. Anam Miftahul Huda, yang turut hadir dalam acara tersebut, menjelaskan bahwa karya ini merupakan salah satu bentuk tugas akhir inovatif yang ditawarkan kepada mahasiswa. Tidak semua mahasiswa di program studinya harus menempuh jalur skripsi konvensional.

“Mahasiswa punya beberapa pilihan. Bisa skripsi, bisa tugas akhir berbasis karya seperti film dokumenter, atau melalui publikasi ilmiah. Ini adalah bagian dari upaya kami untuk mendorong kreativitas dan keberagaman output akademik,” ujar Dr. Anam.

Pilihan jalur non-skripsi ini, menurutnya, memberikan ruang bagi mahasiswa dengan minat dan bakat di bidang produksi karya untuk mengekspresikan diri sekaligus memenuhi standar akademik. Rahmat Aditya Putra dan kawan-kawan adalah contoh nyata bagaimana tugas akhir bisa menjadi medium untuk mengangkat isu-isu sosial dan budaya yang selama ini terpinggirkan.

Yang menarik, film dokumenter “Panggung Wandu” tidak akan berhenti di ruang kampus. Rencananya, karya ini akan diserahkan kepada Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya. Ada alasan historis di balik pilihan tersebut. Selama puluhan tahun, RRI pernah menjadi rumah bagi ludruk. Dari sanalah kesenian rakyat itu menjangkau ribuan pendengar di seluruh Jawa Timur melalui siaran-siaran yang mengudara. Menyerahkan film ini ke RRI adalah upaya simbolis untuk mengembalikan sebagian memori kolektif tentang ludruk ke institusi yang pernah menjadi panggungnya.

Rahmat Aditya Putra mengaku bangga jika karyanya bisa diterima oleh publik yang lebih luas, terutama oleh mereka yang peduli pada pelestarian seni tradisi. “Kami berharap film ini bisa menjadi pemantik diskusi, tidak hanya di kalangan akademisi, tetapi juga di masyarakat umum. Ludruk adalah warisan budaya yang harus dijaga, dan para wandu adalah bagian tak terpisahkan dari warisan itu,” katanya.

Film dokumenter “Panggung Wandu” menjadi bukti bahwa anak muda masih memiliki kepedulian terhadap seni tradisi yang mulai tergerus zaman. Di tengah gempuran konten digital dan hiburan modern, tiga mahasiswa Unesa ini memilih untuk menyelami dunia ludruk, merekam cerita para wandu, dan menyajikannya kembali dalam bentuk karya yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga kaya akan nilai kemanusiaan.

Sebuah kesenian bisa hilang bukan karena tidak ada yang tampil di panggung, tetapi karena tidak ada yang merekam ceritanya. Rahmat, Fauzyaur, dan Akhdaan telah melakukan bagian mereka: merekam, mendokumentasikan, dan menceritakan. Kini, tugas publik untuk terus menyimak, merenungkan, dan menjaga agar ludruk beserta para wandu tidak hanya menjadi kenangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *