Infolamongan.com – Para petani tambak di wilayah Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, terpaksa gigit jari. Pasalnya, belum usai menghadapi musibah banjir yang melanda lahan tambak mereka selama berbulan-bulan, kini mereka juga menghadapi sulitnya mendapatkan pasokan pupuk untuk budidaya ikan. Akibatnya, hasil panen tahun ini merosot tajam dan menyisakan kerugian besar yang dirasakan hingga 90 persen dari pendapatan normal.
Kondisi memprihatinkan ini terjadi di sejumlah desa di Kecamatan Glagah yang sebagian besar penduduknya menggantungkan hidup dari sektor perikanan tambak. Banjir yang merendam lahan tambak selama hampir empat bulan berturut-turut telah mengacaukan siklus tanam dan panen. Air banjir yang mengandung berbagai polutan dan memiliki tingkat keasaman yang tidak sesuai mengganggu kualitas air tambak yang seharusnya ideal untuk pertumbuhan ikan.
Nur Qomariyah, salah seorang petani tambak di Kecamatan Glagah, terlihat sibuk menguras air tambaknya dengan ekspresi kecewa dan letih. Raut kekecewaan tidak bisa disembunyikan dari wajahnya saat menunjukkan hasil ikan tangkapannya yang berukuran kecil dan jauh dari standar normal usia panen. Ikan-ikan yang seharusnya sudah mencapai ukuran konsumsi justru masih seukuran jari atau bahkan lebih kecil dari biasanya.
“Hasilnya njombrot (kecil-kecil) ikannya, segini-segini karena kurang pupuk. Karena banjir juga, jadi petani yang kebanjiran itu hasilnya rugi benar, rugi betul. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi alam dan kebijakan sepertinya tidak berpihak kepada kami,” keluh Nur Qomariyah, Jumat (10/4/2026) sambil terus melanjutkan pekerjaannya menguras air tambak.
Nur menilai pemerintah lebih memprioritaskan alokasi pupuk untuk sektor tanaman pangan (padi). Sementara sektor tambak ikan seolah dikesampingkan dan tidak mendapatkan perhatian yang memadai. Menurutnya, tanpa asupan pupuk yang cukup pada tanah tambak, pakan alami seperti plankton dan organisme kecil lainnya tidak dapat tumbuh maksimal. Kondisi ini berujung pada terhambatnya pertumbuhan ikan karena kekurangan sumber makanan alami yang seharusnya tersedia di ekosistem tambak.
“Pupuknya kekurangan, hanya dikasih sedikit. Kalau untuk padi insya Allah cukup. Tapi kalau ikan kurang pupuk, ya hasilnya kecil-kecil sekali. Padahal pupuk untuk tambak itu penting untuk menyuburkan tanah dasar tambak agar pakan alami bisa tumbuh. Kalau tanahnya miskin nutrisi, ikannya juga kurus-kurus,” tambah Nur dengan nada kecewa.
Para petani tambak di Glagah biasanya menggunakan pupuk seperti urea atau pupuk organik untuk menyuburkan tanah dasar tambak sebelum benih ikan ditebar. Pupuk ini berfungsi merangsang pertumbuhan fitoplankton dan zooplankton yang menjadi pakan alami ikan bandeng, udang, dan komoditas tambak lainnya. Namun, sejak beberapa bulan terakhir, pasokan pupuk untuk sektor perikanan sangat terbatas. Distribusi pupuk bersubsidi lebih banyak dialokasikan ke sektor pertanian padi.
Banjir yang melanda wilayah Glagah sejak awal tahun semakin memperparah kondisi. Air banjir yang menggenangi tambak selama berbulan-bulan tidak hanya merusak struktur tanah dasar tambak, tetapi juga membawa berbagai kotoran dan limbah yang mengganggu keseimbangan ekosistem. Akibatnya, banyak petani yang terpaksa menunda masa tanam atau bahkan membatalkannya sama sekali karena kondisi lahan yang tidak memungkinkan.
Kerugian yang dialami petani tambak di Glagah diperkirakan mencapai 80 hingga 90 persen dari pendapatan normal. Angka ini sangat fantastis dan berdampak langsung terhadap kemampuan petani untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak petani yang terpaksa berutang atau menjual aset untuk menutupi biaya operasional tambak yang tidak sebanding dengan hasil panen.
“Rugi banyak, nggak bisa dihitung. Ya sekitar 80 sampai 90 persen ruginya. Kita nggak tahu lagi labanya berapa, hampir tidak ada. Modal yang kami keluarkan untuk benih, pupuk, dan tenaga kerja tidak kembali. Bahkan untuk makan sehari-hari saja sekarang susah,” ungkap Nur dengan nada lesu dan mata yang tampak berkaca-kaca.
Para petani tambak berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk membantu mereka yang sedang terpuruk. Bantuan yang diharapkan antara lain berupa pasokan pupuk bersubsidi khusus untuk tambak, bantuan modal usaha, serta program normalisasi saluran air untuk mencegah banjir di masa mendatang. Beberapa petani juga meminta pemerintah memberikan kompensasi atau santunan bagi petani yang gagal panen akibat bencana banjir.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Lamongan yang dihubungi terpisah mengakui adanya kelangkaan pupuk untuk sektor perikanan. Ia berjanji akan mengkaji ulang kebijakan alokasi pupuk agar petani tambak tidak terus menerus dirugikan. Pihaknya juga akan mengirimkan tim pendamping ke Kecamatan Glagah untuk melakukan pendataan kerugian dan memberikan pendampingan teknis bagi petani yang ingin memulihkan tambaknya.
Sementara itu, para petani tambak berharap musibah tahun ini tidak terulang di tahun-tahun mendatang. Mereka berencana membentuk kelompok tani tambak yang lebih solid untuk memperjuangkan hak-hak mereka, termasuk akses terhadap pupuk bersubsidi dan program perlindungan usaha perikanan. Dengan kerja sama yang baik antara petani, pemerintah, dan pihak terkait, diharapkan kondisi ini segera membaik dan kesejahteraan petani tambak di Lamongan dapat pulih kembali.
Sumber : JatimTIMES.com dengan judul “Banjir hingga Kelangkaan Pupuk, Petani Tambak di Lamongan Menjerit”.
Sumber : SuaraBineka.com dengan judul “Hasil Panen Anjlok, Petambak di Lamongan Keluhkan Banjir dan Pupuk Langka”









