Infolamongan.com – Di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin tidak menentu dan keterbatasan lahan subur, dunia pertanian Indonesia mulai melirik kembali tanaman lokal yang selama ini mungkin terabaikan. Salah satu primadona baru yang mulai naik daun adalah sorgum (Sorghum bicolor L) . Tanaman serealia yang sering dijuluki “si tahan banting” ini memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi di lingkungan marginal, tahan terhadap cuaca ekstrem, namun tetap kaya nutrisi. Para ahli pertanian kini gencar mempromosikan sorgum sebagai alternatif strategis untuk memperkuat ketahanan pangan dan pakan nasional.
Berbeda dengan jagung atau padi yang membutuhkan air cukup banyak dan perawatan intensif, sorgum justru tumbuh subur di lahan-lahan yang dianggap kurang produktif. Dengan teknik budidaya yang tepat, tanaman ini mampu memberikan hasil yang tidak kalah menggiurkan. Lantas, seberapa tangguh sebenarnya sorgum? Dan bagaimana cara merawatnya agar hasil maksimal?
Mitos dan Fakta: Apakah Sorgum Benar-Benar Tahan Segala Cuaca?
Pertanyaan ini sering muncul di kalangan petani yang baru pertama kali mencoba membudidayakan sorgum. Jawabannya adalah: sebagian besar benar, tapi dengan catatan. Sorgum memang dikenal memiliki toleransi tinggi terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem, menjadikannya salah satu tanaman paling tahan kekeringan di dunia.
1. Tahan Kekeringan (Drought Resistant)
Inilah keunggulan utama sorgum. Sistem perakarannya tumbuh dalam dan menyebar luas, mampu menjangkau air di lapisan tanah yang lebih dalam. Selain itu, sorgum memiliki mekanisme fisiologis yang efisien dalam menggunakan air, sehingga mampu bertahan di lahan kering di mana jagung atau kedelai mungkin gagal berproduksi.
2. Tahan Panas
Sorgum adalah tanaman yang menyukai panas. Ia dapat tumbuh optimal pada rentang suhu 21–35 derajat Celcius. Di Indonesia yang beriklim tropis, kondisi ini sangat menguntungkan.
3. Tahan Genangan
Tidak hanya tahan kering, sorgum juga memiliki toleransi terhadap genangan air untuk periode tertentu. Ini membuatnya lebih fleksibel ditanam di berbagai jenis lahan, termasuk yang memiliki drainase kurang baik.
4. Bukan “Tahan Segala Cuaca” Total
Meskipun tangguh, sorgum tetap memiliki masa kritis. Tanaman ini sangat membutuhkan air pada dua fase penting: saat awal pertumbuhan (fase perkecambahan) dan saat pembungaan (fase primordia malai) . Jika kekeringan terjadi di fase-fase ini, hasil panen bisa turun drastis. Jadi, “tahan banting” bukan berarti bisa diabaikan sama sekali.
Panduan Lengkap Perawatan Sorgum untuk Hasil Maksimal
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Lamongan, melalui penyuluh lapangannya, terus mendorong petani untuk mempertimbangkan sorgum sebagai tanaman diversifikasi. Berikut adalah panduan teknis budidaya sorgum yang telah disusun berdasarkan penelitian dan praktik lapangan:
1. Persiapan Lahan dan Penanaman yang Tepat
Sorgum tidak rewel soal tanah, tetapi akan memberikan hasil terbaik di tanah lempung berpasir dengan drainase baik. Penanaman dilakukan dengan sistem tugal, membuat lubang tanam sedalam 3-5 cm. Jarak tanam ideal adalah 60-75 cm antar baris dan 20-25 cm dalam baris. Setiap lubang diisi 2-3 benih, lalu ditutup tipis dengan tanah atau pupuk kandang. Waktu tanam terbaik adalah di awal atau akhir musim hujan di lahan kering, meskipun secara teknis sorgum bisa ditanam sepanjang tahun.
2. Pemupukan: Kunci Meningkatkan Produktivitas
Meskipun dikenal sebagai tanaman “rendah input”, sorgum tetap membutuhkan nutrisi untuk berproduksi maksimal. Pemupukan dilakukan dalam dua tahap:
-
Pupuk Dasar: Pupuk organik (kandang) diberikan saat pengolahan tanah untuk memperbaiki struktur tanah.
-
Pupuk Susulan: Dosis anjuran adalah Urea 250 kg per hektar dan Phonska 300 kg per hektar. Aplikasinya dilakukan dua kali: pupuk Phonska diberikan pada umur 7-10 hari setelah tanam (HST) , sementara Urea diberikan pada umur 30-35 HST.
3. Pengairan Tepat Sasaran
Meski tahan kering, sorgum tetap butuh minum. Fokuskan pemberian air pada tiga fase kritis:
-
Fase benih berkecambah.
-
Fase primordia malai (pembentukan malai/bunga).
-
Fase pengisian biji.
Di luar fase itu, sorgum relatif bisa bertahan dengan air seadanya.
4. Penyiangan dan Pembumbunan
Gulma adalah pesaing utama sorgum dalam merebut nutrisi. Lakukan penyiangan pada umur 2-3 minggu setelah tanam. Bersamaan dengan itu, lakukan pembumbunan, yaitu menimbun tanah di pangkal batang. Ini bertujuan agar tanaman tumbuh kokoh dan tidak mudah rebah saat berbuah nanti.
5. Pengendalian Hama dan Penyakit
Secara umum, sorgum lebih tahan hama dibanding jagung. Namun, beberapa hama perlu diwaspadai seperti ulat grayak, kutu kebul (biasanya muncul sekitar 35 HST), dan yang paling mengganggu adalah serangan burung saat biji mulai mengisi. Pengendalian bisa dilakukan dengan pestisida nabati atau insektisida sistemik seperti Furadan 3G yang diberikan saat tanam. Untuk penyakit seperti bercak daun atau jamur, lakukan rotasi tanaman dan aplikasi fungisida jika diperlukan.
6. Panen dan Pascapanen yang Benar
Sorgum siap dipanen pada umur 100-120 hari setelah tanam, tergantung varietas. Ciri-ciri fisiknya: sebagian besar daun menguning, biji mengeras, dan batang berubah warna menjadi coklat. Panen dilakukan dengan memotong malai (bagian bunga yang berisi biji). Setelah dipanen, lakukan penjemuran malai selama 3 hari, kemudian rontokkan bijinya. Biji dijemur kembali hingga kadar air mencapai 11-14 persen sebelum disimpan dalam wadah kedap udara.
Keunggulan Tambahan: Multi-manfaat dan Bisa Ratoon
Yang membuat sorgum semakin menarik adalah sifatnya yang multi-manfaat. Tidak hanya bijinya yang bisa diolah menjadi pangan (nasi sorgum, tepung, dll), batangnya bisa diambil niranya untuk bahan baku bioetanol, sementara daun dan batang yang sudah dipanen bisa menjadi pakan ternak berkualitas dalam bentuk silase.
Lebih hebat lagi, sorgum memiliki kemampuan ratoon, yaitu tumbuh kembali setelah panen. Setelah batang dipotong, tunas baru akan muncul dan bisa dipanen untuk kedua kalinya tanpa perlu menanam dari awal. Panen kedua ini biasanya lebih cepat, hanya membutuhkan waktu 75-85 hari.
Kesimpulan: Sorgum, Pahlawan Pangan di Lahan Marjinal
Dengan segala keunggulannya, sorgum layak mendapatkan tempat yang lebih strategis dalam kebijakan pertanian nasional. Ia adalah solusi cerdas untuk memanfaatkan lahan-lahan marginal yang selama ini kurang produktif. Dengan perawatan yang tepat dan pemahaman akan karakteristiknya, sorgum dapat menjadi pilar penting dalam mewujudkan ketahanan pangan dan pakan yang berkelanjutan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.









