UMKM Lamongan Tawarkan Inovasi Kopi lewat Kopi Jali

Infolamongan.id — Di Desa Pendowolimo, Lamongan, kopi bukan sekadar minuman, ia adalah hasil dari ikhtiar, keahlian, dan kecintaan terhadap rasa. Di tangan M. Jali, pemilik UMKM Kopi Jali, racikan kopi lokal tumbuh menjadi kekuatan rasa yang dikenal hingga luar kota.

Sejak 2006, Jali meracik kopi dengan teknik yang ia pelajari sendiri. Mulai dari pemilihan biji, proses sangrai, hingga tingkat kehalusan bubuk, semua diperhatikan dengan cermat.

“Meracik kopi itu memang ada ilmunya. Tekstur bubuknya juga harus pas, nggak terlalu halus atau terlalu kasar. Tapi ya, kami tetap menyesuaikan permintaan pembeli. Sejauh ini kami berusaha menjaga cita rasa khas Lamongan,” tutur Jali pelan, saat ditemui di rumah produksinya, Rabu (18/6/2025).

Meski Lamongan bukan daerah penghasil kopi seperti Jember atau Toraja, Kopi Jali justru mendapat pasokan biji dari berbagai daerah. Jali melihat hal ini sebagai peluang, bukan hambatan.

“Kami hanya mencoba meracik sebaik mungkin, Mas. Alhamdulillah, kadang ada suplier yang datang sendiri. Mungkin rezeki saja, atau mereka cocok dengan racikan kami yang sederhana ini,” katanya pelan.

Awalnya, racikan kopi Jali dikenal lewat aroma bubuk kopinya yang memikat. Warga sekitar hingga beberapa pemilik warung kopi di Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik mulai rutin memesan.

“Dulu orang-orang lewat bilang, katanya sih harumnya bikin melek. Akhirnya mampir beli, lalu jadi langganan,” kenangnya.

Nama Kopi Jali pun lahir dari kebiasaan pelanggan menyebut kopi buatan “Cak Jali”. Seiring waktu, nama itu menjadi merek.

Kini, produk Kopi Jali hadir dalam beragam kemasan, dari plastik polos kiloan hingga standing pouch eksklusif. Semua disesuaikan dengan segmen pasar, tanpa kehilangan identitas lokalnya.

“Branding sekarang memang penting, Mas. Kami belajar menyesuaikan diri, bikin kemasan yang lebih rapi. Tapi sejak dulu, rasa tetap jadi yang utama buat kami,” ujarnya.

Menariknya, usaha kopi rumahan ini juga menarik perhatian kalangan akademik. Rumah produksi UMKM Kopi Jali kerap menjadi lokasi penelitian mahasiswa, terutama dari kampus seperti UINSA Surabaya, yang tertarik mengkaji usaha kecil, ekonomi lokal, hingga teknik meracik kopi.

“Ya ada beberapa mahasiswa dari UINSA yang datang ke sini, meneliti untuk skripsinya. Dengan kesederhanaan usaha kami yang apa adanya ini, alhamdulillah masih bisa jadi bahan pembelajaran,” ucap Jali dengan kesahajaannya.

Kini, rumah sederhana itu tak hanya mengolah kopi, tapi juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa yang meneliti ekonomi, usaha kecil, dan seluk-beluk kopi.

Bagi Jali, prinsip bisnis kopi tetap sederhana: jujur, ramah, sabar, dan realistis. “Yang penting ikhtiar terus kami jaga,” ujarnya kalem. “Hasilnya, ya semoga membawa keberkahan.” pungkasnya, seakan ingin menyampaikan bahwa usaha kecil pun bisa memberi rasa besar, asal dijalani dengan jujur dan sabar.

Kisah UMKM Kopi Jali adalah bukti bahwa inovasi bisa lahir dari desa kecil. Tanpa kebun kopi, tapi dengan keuletan dan kecintaan pada rasa, sebuah racikan bisa jadi andalan, baik di warung kopi maupun ruang diskusi akademik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *