Infolamongan.com – Awal tahun 2026 menjadi periode paling kelam dalam sejarah panjang raksasa industri game asal Prancis, Ubisoft. Alih-alih merayakan kesuksesan peluncuran judul baru, perusahaan yang dikenal melalui waralaba Assassin’s Creed, Far Cry, dan Tom Clancy’s ini justru menghadapi badai internal yang dahsyat. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal, penutupan studio secara mendadak, hingga kebijakan kantor yang kontroversial telah memicu kemarahan ribuan karyawannya di seluruh dunia,Selasa (10/02/2026).
Krisis yang melanda Ubisoft ini bukan hanya masalah internal perusahaan, tetapi telah menjadi sorotan publik industri game global. Para analis menyebut bahwa apa yang terjadi pada Ubisoft adalah cerminan dari kesalahan manajemen kronis, kegagalan beradaptasi dengan tren industri, dan hilangnya kepercayaan dari publik maupun investor.
1. “Major Reset” yang Berujung Petaka
Semuanya bermula ketika jajaran direksi Ubisoft mengumumkan sebuah strategi besar yang mereka sebut sebagai “Major Reset” . Strategi ini diharapkan dapat mengembalikan kejayaan perusahaan yang terus tergerus dalam beberapa tahun terakhir. Namun, alih-alih membawa harapan, “Major Reset” justru membawa kabar buruk bagi ekosistem perusahaan dan para karyawannya.
Beberapa keputusan kontroversial yang diumumkan dalam paket kebijakan ini antara lain:
Penutupan Mendadak Ubisoft Halifax:Â Studio yang berlokasi di Kanada ini resmi dibubarkan tanpa pemberitahuan sebelumnya. Para karyawan diberi waktu singkat untuk menyelesaikan pekerjaan mereka sebelum kehilangan pekerjaan. Penutupan ini sontak mengejutkan komunitas game, karena Halifax dikenal sebagai salah satu studio pendukung dalam pengembangan beberapa judul besar Ubisoft.
Pembatalan Proyek Remake Prince of Persia: The Sands of Time: Kabar ini mungkin menjadi pukulan terberat bagi para penggemar game klasik. Proyek remake dari game legendaris Prince of Persia: The Sands of Time yang telah lama dinanti-nantikan, resmi dihentikan. Padahal, proyek ini sudah memasuki tahap pengembangan lanjutan dan sempat diperlihatkan cuplikannya kepada publik. Pembatalan ini tidak hanya mengecewakan penggemar, tetapi juga menunjukkan betapa kacau nya perencanaan strategis di internal Ubisoft.
Kebijakan RTO (Return-to-Office) Penuh:Â Manajemen mengeluarkan mandat kontroversial yang mewajibkan seluruh karyawan untuk kembali bekerja dari kantor secara penuh (full-time). Kebijakan ini menuai protes keras dari staf yang selama beberapa tahun terakhir telah terbukti produktif dengan sistem kerja hibrida atau jarak jauh. Para karyawan menilai kebijakan ini tidak berdasar, tidak peka terhadap keseimbangan kehidupan kerja, dan hanya akan menurunkan moral tim.
Dampak dari pengumuman restrukturisasi ini langsung terasa di lantai bursa. Saham Ubisoft, yang diperdagangkan di Euronext Paris, merosot tajam sebesar 34% hanya dalam hitungan hari pasca pengumuman. Lebih mengerikan lagi, jika ditarik dalam kurun waktu delapan tahun terakhir, Ubisoft secara kumulatif telah kehilangan 95% nilai pasarnya. Angka ini adalah indikator paling jelas tentang seberapa dalam krisis yang melanda perusahaan yang pernah berjaya di era 2000-an hingga awal 2010-an ini.
2. Aksi Mogok Kerja Global: 1.200 Karyawan Turun ke Jalan
Jika penurunan saham adalah pukulan telak di ranah finansial, maka di ranah sumber daya manusia, keadaan semakin memanas dan tidak terkendali. Kemarahan karyawan mencapai puncaknya ketika manajemen meluncurkan program pengunduran diri sukarela di markas besar Ubisoft di Paris. Program ini dirancang untuk memangkas 200 karyawan tambahan dengan harapan dapat mengurangi beban biaya operasional. Namun, bagi para pekerja, ini adalah bukti bahwa manajemen tidak memiliki solusi jangka panjang selain terus memotong komponen terpenting perusahaan: manusianya.
Menanggapi hal ini, serikat pekerja terkemuka di Prancis, Solidaires Informatique, bergerak cepat. Mereka menyerukan aksi mogok kerja internasional sebagai bentuk protes terhadap kebijakan manajemen yang dinilai sepihak, tidak adil, dan mengabaikan kesejahteraan pekerja.
Seruan tersebut mendapat sambutan luar biasa. Pada 10 Februari 2026, tercatat sedikitnya 1.200 karyawan Ubisoft dari berbagai cabang melakukan aksi walk-out atau meninggalkan tempat kerja mereka secara serempak. Sebagian besar peserta aksi berasal dari kantor pusat di Prancis dan studio di Milan, Italia. Namun, dukungan moral dan simbolis juga datang dari karyawan Ubisoft di negara lain, meskipun mereka tidak serta-merta bisa bergabung dalam aksi fisik karena perbedaan hukum ketenagakerjaan di masing-masing negara.
Dalam aksi tersebut, para pengunjuk rasa membawa spanduk dan meneriakkan tuntutan mereka. Fokus utama kemarahan tertuju pada jajaran direksi, terutama CEO Yves Guillemot dan para eksekutif puncak lainnya. Mereka dituding sebagai dalang utama di balik kemunduran perusahaan selama satu dekade terakhir, dan kini memilih jalan pintas dengan memecat karyawan daripada memperbaiki strategi bisnis yang bobrok.
“Satu dekade kesalahan manajemen, dan sekarang kami yang harus membayarnya dengan pekerjaan kami!” teriak salah satu orator dalam aksi tersebut. Tuntutan mereka jelas:Â pertanggungjawaban kepemimpinan, transparansi dalam pengambilan keputusan, dan pencabutan kebijakan-kebijakan yang merugikan pekerja.
Analisis: Akar Masalah di Tubuh Ubisoft
Para pengamat industri game menilai bahwa krisis yang melanda Ubisoft saat ini adalah akumulasi dari masalah yang sudah lama terpendam. Beberapa faktor kunci yang menyebabkan kejatuhan ini antara lain:
-
Stagnasi Kreatif: Dalam beberapa tahun terakhir, Ubisoft dituding terlalu bergantung pada formula lama. Seri Assassin’s Creed dan Far Cry meskipun tetap laris, dianggap tidak lagi menawarkan inovasi signifikan. Sementara itu, pesaing seperti CD Projekt Red (dengan Cyberpunk 2077 yang bangkit), FromSoftware (dengan Elden Ring), dan pengembang independen terus mendorong batas-batas kreativitas.
-
Kegagalan Proyek Ambisius: Sejumlah proyek besar yang diumumkan dengan gegap gempita, seperti Skull & Bones yang tertunda berkali-kali dan akhirnya gagal memenuhi ekspektasi, telah menguras sumber daya perusahaan tanpa memberikan imbal hasil yang sepadan.
-
Krisis Kepercayaan Publik:Â Insiden pelecehan seksual dan budaya kerja toksik yang terungkap beberapa tahun lalu masih membekas di benak publik. Meskipun sudah ada upaya perbaikan, citra Ubisoft sebagai tempat kerja yang tidak sehat sulit dihilangkan sepenuhnya.
-
Tekanan Investor:Â Dengan saham yang terus merosot, tekanan dari investor untuk melakukan efisiensi sangat besar. Hal ini memaksa manajemen mengambil langkah-langkah drastis seperti PHK dan pembatalan proyek, yang justru memperburuk situasi.
Masa Depan yang Suram
Dengan aksi mogok yang masih berlangsung dan manajemen yang tampak bungkam, masa depan Ubisoft kini berada di ujung tanduk. Jika krisis ini tidak segera diatasi dengan kepala dingin dan solusi yang berpihak pada keberlangsungan perusahaan serta kesejahteraan karyawan, bukan tidak mungkin raksasa yang pernah membangun masa kecil jutaan gamer ini akan runtuh perlahan, meninggalkan kenangan pahit tentang bagaimana sebuah imperium bisa hancur oleh kesombongan dan salah urus. Dunia game kini menanti langkah selanjutnya dari Yves Guillemot dan timnya. Apakah mereka akan bertahan atau justru mempercepat keruntuhan mereka sendiri?









