Infolamongan.com – Uji coba penggunaan agen penyubur tanah organik dari Bela Negara menunjukkan hasil yang mencuri perhatian para petani dan pegiat pertanian di Kabupaten Lamongan. Kegiatan pengecekan dilakukan pada lahan yang sebelumnya terbiasa menggunakan pupuk kimia secara intensif, tepatnya di Desa Caron, Kecamatan Sugio, Kabupaten Lamongan, di lahan demplot Bela Negara milik Kader FKBN Sugio, Abu Syafi’i. Pengujian berlangsung dari siang hingga sore hari, Selasa (7/04/2026), dan menghasilkan temuan yang dinilai revolusioner bagi dunia pertanian organik di tanah air.
Pengujian dilakukan menggunakan alat ukur pH tanah yang akurat untuk mengetahui tingkat keasaman tanah sebelum dan sesudah pemberian agen penyubur organik. Hasil awal pengukuran menunjukkan pH tanah berada di angka 3,5. Angka ini tergolong sangat asam dan jauh dari kondisi ideal bagi pertumbuhan tanaman. Pada tingkat keasaman tersebut, sebagian besar nutrisi penting bagi tanaman menjadi tidak tersedia, sehingga produktivitas lahan menurun drastis dan petani terpaksa menggunakan pupuk kimia dalam dosis yang semakin tinggi.
Namun, setelah diberikan agen penyubur tanah organik Bela Negara, hasil pengukuran ulang menunjukkan perubahan yang sangat signifikan. Dalam waktu hanya beberapa jam setelah aplikasi, pH tanah meningkat drastis menjadi 6,0 atau mendekati kondisi netral. Angka 6,0 merupakan tingkat keasaman yang jauh lebih baik untuk mendukung kesuburan tanah dan produktivitas pertanian. Pada pH ini, mikroorganisme tanah dapat bekerja optimal dan nutrisi tanaman tersedia dalam bentuk yang mudah diserap oleh akar.
Abu Syafi’i, petani Organik Bela Negara yang turut menyaksikan langsung proses uji coba tersebut, mengaku terkejut sekaligus optimistis dengan hasil yang diperoleh. Sebagai petani yang sehari-hari bergelut dengan lahan pertanian, ia sangat memahami betapa sulitnya memperbaiki tanah yang sudah terlanjur rusak akibat pemakaian pupuk kimia berlebihan. Oleh karena itu, temuan ini menjadi titik balik yang menggembirakan bagi dirinya dan petani lainnya.
“Awalnya saya tidak menyangka perubahan pH tanah bisa secepat ini. Dari 3,5 yang sangat asam, dalam hitungan jam sudah naik ke 6,0. Ini luar biasa dan menjadi harapan baru bagi kami para petani yang selama ini frustasi karena tanah kami semakin rusak. Saya sudah bertani puluhan tahun dan belum pernah melihat hasil seperti ini,” ujar Kader Bela Negara Kecamatan Sugio itu dengan nada penuh semangat.
Menurut Abu Syafi’i, penggunaan agen penyubur tanah organik ini menjadi solusi nyata untuk memperbaiki kondisi tanah yang selama ini bergantung pada pupuk kimia. Ia menjelaskan bahwa petani di wilayahnya selama ini terjebak dalam lingkaran setan: tanah asam membuat pupuk kimia tidak efektif, sehingga petani menambah dosis pupuk, yang pada gilirannya justru semakin merusak tanah. Dengan adanya agen penyubur organik ini, lingkaran setan tersebut dapat diputus.
“Kalau ini diterapkan secara berkelanjutan, saya yakin tanah kita bisa kembali subur dan hasil panen juga akan meningkat. Ini bukan hanya soal hasil, tapi juga menjaga kesehatan tanah untuk jangka panjang. Anak cucu kita nanti masih bisa bertani di tanah yang sama tanpa harus mengeluarkan biaya besar untuk pemulihan. Ini adalah investasi jangka panjang yang tidak ternilai harganya,” tambah Abu Syafi’i.
Senada dengan itu, Ahli Organik Bela Negara, Abah Mustain, yang turut mendampingi proses uji coba, menjelaskan bahwa keberhasilan ini bukanlah kebetulan. Menurutnya, agen penyubur tanah organik yang digunakan telah melalui serangkaian uji laboratorium dan uji lapangan sebelumnya. Formula yang digunakan dirancang khusus untuk memperbaiki struktur tanah yang rusak akibat akumulasi residu kimia. Ia juga mengajak petani lain untuk mulai beralih atau setidaknya mengurangi penggunaan pupuk kimia dan mencoba metode organik yang lebih ramah lingkungan.
“Sudah saatnya kita kembali ke alam. Pertanian organik bukan hanya tren, tapi kebutuhan untuk masa depan pertanian kita, masa depan anak cucu yang lebih sehat. Tanah yang sehat akan menghasilkan tanaman yang sehat, yang pada gilirannya akan menghasilkan manusia yang sehat. Ini adalah mata rantai yang tidak bisa diputus. Kami di tim ahli akan terus mendampingi petani yang ingin beralih ke pertanian organik,” ujar Abah Mustain.
Perubahan pH yang relatif cepat ini menjadi perhatian serius bagi para petani dan pegiat pertanian setempat. Mereka menilai penggunaan bahan organik dapat menjadi solusi alternatif untuk memperbaiki kualitas tanah yang selama ini terdegradasi akibat penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus. Beberapa petani yang hadir dalam uji coba tersebut bahkan langsung menyatakan minatnya untuk mengadopsi teknologi ini di lahan mereka masing-masing.
Kepala Forum Kader Bela Negara (FKBN) Kabupaten Lamongan menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas hasil uji coba agen penyubur tanah organik yang dinilai memberikan dampak nyata dalam waktu singkat. Menurutnya, ini adalah bukti bahwa pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan kearifan lokal dapat menghasilkan solusi yang efektif bagi permasalahan pertanian yang selama ini dihadapi petani.
“Ini adalah bukti konkret bahwa pendekatan organik mampu menjadi solusi atas kerusakan struktur dan tingkat keasaman tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berkepanjangan. Hasil dari pH 3,5 menjadi 6,0 dalam hitungan jam tentu sangat menggembirakan dan tidak terduga sebelumnya. Kami sangat bangga dengan capaian ini,” ujar Kepala FKBN Lamongan.
Ia menegaskan bahwa program ini bukan hanya sekadar inovasi pertanian biasa, tetapi juga bagian dari gerakan bela negara di sektor pangan. Menurutnya, ketahanan pangan adalah salah satu aspek terpenting dari kedaulatan suatu bangsa. Jika suatu bangsa tidak mampu memproduksi pangan sendiri, maka ia akan bergantung pada bangsa lain yang dapat mengancam kedaulatan nasional.
“Kami di FKBN mendorong kemandirian pangan sebagai bagian dari bela negara. Tanah yang sehat adalah fondasi utama ketahanan pangan. Oleh karena itu, upaya seperti ini harus terus dikembangkan dan diperluas jangkauannya ke seluruh kecamatan di Lamongan, bahkan ke kabupaten-kabupaten lain di Jawa Timur,” tegasnya.
Lebih lanjut, pihaknya berharap adanya kolaborasi yang erat antara petani, pemerintah daerah, akademisi, dan berbagai elemen masyarakat untuk mendukung pengembangan pertanian organik di Lamongan. Dukungan tersebut dapat berupa penyediaan sarana produksi, pendampingan teknis, akses permodalan, hingga bantuan pemasaran hasil panen organik yang biasanya memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Kami mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga kesuburan tanah dan lingkungan. Ini adalah investasi jangka panjang demi keberlanjutan pertanian dan kesejahteraan petani. Jangan sampai kita mewariskan tanah yang mati kepada generasi mendatang,” pungkasnya.
Kegiatan uji coba ini juga menjadi bagian dari upaya edukasi kepada masyarakat luas terkait pentingnya menjaga keseimbangan unsur hara tanah melalui pendekatan yang lebih ramah lingkungan. Diharapkan, inovasi ini mampu meningkatkan hasil pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan lahan pertanian di wilayah Lamongan. Ke depan, FKBN Lamongan berencana menggelar serangkaian pelatihan dan pendampingan bagi petani yang ingin beralih ke sistem pertanian organik menggunakan agen penyubur tanah Bela Negara.









