Perahu Nelayan Hilang 36 Jam di Perairan Utara Kranji Ditemukan di Gresik, Dua Awak Selamat Berkat Bantuan Sesama Pelaut

Infolamongan.com – Kecemasan yang melanda keluarga dan warga Desa Paciran, Lamongan, akhirnya berubah menjadi sukacita. Setelah dinyatakan hilang selama kurang lebih 36 jam, perahu nelayan SINAR LAUT beserta dua awaknya berhasil ditemukan dalam keadaan selamat di perairan Ujungpangkah, Gresik, pada Senin (09/02/2026) pagi. Operasi pencarian yang diinisiasi Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) Polres Lamongan berakhir baik berkat solidaritas sesama nelayan dan koordinasi cepat antara aparat dengan komunitas pesisir.

Insiden ini bermula ketika perahu SINAR LAUT, yang dinakhodai oleh M (63 tahun) dengan seorang Anak Buah Kapal (ABK) ES (43 tahun), berangkat melaut pada Minggu dini hari (08/02/2026) sekitar pukul 02.00 WIB. Tujuan mereka adalah area penangkapan ikan di Perairan Utara Kranji, Kecamatan Paciran, dengan jarak tempuh sekitar 11 mil (sekitar 20 kilometer) dari garis pantai. Biasanya, nelayan setempat akan kembali ke darat sekitar pukul 09.00 WIB setelah semalaman menjala.

Namun, Minggu itu berbeda. Hingga pukul 17.00 WIB delapan jam melewati waktu perkiraan pulang perahu tersebut tak kunjung muncul di pandangan. Keterlambatan yang tidak biasa ini langsung memicu alarm di kalangan keluarga dan rekan-rekan nelayan di Paciran. Kekhawatiran akan kemungkinan musibah di laut mulai menguat, mendorong mereka untuk segera melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.

Respon Cepat dan Mobilisasi Pencarian

Laporan tentang perahu yang hilang kontak tersebut akhirnya masuk ke SPKT (Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu) Polsek Paciran dan kemudian diteruskan ke Satpolairud Polres Lamongan. Menyadari urgensi situasi, di mana setiap jam sangat menentukan untuk keselamatan jiwa di laut, Satpolairud segera melaksanakan respons cepat (quick response).

Petugas langsung melakukan koordinasi intensif dengan Ketua Rumah Nelayan (RN) Paciran dan instansi terkait lainnya, seperti Basarnas (Badan Search and Rescue Nasional) dan dinas perikanan. Langkah awal adalah memetakan area pencarian prioritas dengan mempertimbangkan pola arus laut, arah angin, dan laporan terakhir posisi perahu. Komunikasi radio juga digiatkan untuk meminta nelayan lain yang sedang beroperasi di perairan sekitar untuk ikut memantau.

Pertolongan Datang dari Solidaritas: Penemuan di Ujungpangkah

Sementara jaringan pencarian resmi mulai bergerak, pertolongan nyata justru datang dari jaringan solidaritas informal antar nelayan. Pada Senin pagi (9/2) sekitar pukul 09.00 WIB, seorang nelayan lain berinisial W, yang sedang beraktivitas di perairan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, menjumpai perahu SINAR LAUT dalam keadaan terapung.

Lokasi penemuan yang berada di wilayah Kabupaten Gresik menunjukkan bahwa perahu tersebut telah terseret arus atau mengalami masalah navigasi sehingga jauh keluar dari area operasi yang direncanakan. Diduga kuat, perahu mengalami gangguan teknis pada mesin atau sistem kemudi yang membuatnya tidak bisa maneuver kembali ke Paciran.

Nelayan W segera mendekat dan memastikan kondisi kedua awak kapal. Meski dilaporkan kelelahan dan kemungkinan mengalami dehidrasi, kondisi M dan ES secara umum stabil. Dengan semangat tolong-menolong yang kental di kalangan pelaut, W kemudian melakukan upaya penarikan atau pengawalan untuk membawa perahu SINAR LAUT yang bermasalah itu kembali ke daratan. Proses ini memakan waktu beberapa jam mengingat kondisi perahu yang tidak prima.

Kepulangan dengan Selamat dan Pemeriksaan Awal

Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, sekitar pukul 13.00 WIB, perahu SINAR LAUT akhirnya berhasil merapat dengan selamat di Desa Paciran, Kecamatan Paciran. Kedatangan mereka disambut dengan luapan rasa lega dan haru oleh keluarga yang telah menunggu dengan cemas. Petugas Satpolairud dan tenaga kesehatan yang telah siaga segera melakukan pemeriksaan awal terhadap kedua nelayan.

Syukur alhamdulillah, keduanya dinyatakan selamat dan dalam kondisi kesehatan yang cukup stabil. Tidak ditemukan luka fisik serius. Mereka utamanya mengalami kelelahan ekstrem, dehidrasi, dan kemungkinan trauma psikologis akibat insiden yang menegangkan di laut lepas. Keduanya kemudian diberikan penanganan medis lebih lanjut dan istirahat.

Imbauan Keselamatan: Pentingnya Mitigasi Risiko di Laut

Menyikapi kejadian ini, Kasihumas Polres Lamongan, Ipda M. Hamzaid, S.Pd., kembali menekankan pentingnya protokol keselamatan bagi para nelayan, khususnya yang masih menggunakan perahu tradisional.

“Kami mengimbau dengan sangat kepada seluruh nelayan untuk selalu memperhatikan prakiraan cuaca dan gelombang laut dari BMKG sebelum berangkat melaut. Jangan memaksakan diri jika kondisi diperkirakan buruk,” pesannya tegas.

Hamzaid juga menyoroti kelengkapan alat keselamatan. “Pastikan perahu dilengkapi dengan alat keselamatan dasar yang memadai, seperti pelampung, alat komunikasi (handy talky atau telepon satelit), suar, serta persediaan air dan makanan darurat. Selain itu, selalu informasikan rencana melaut termasuk lokasi tujuan dan perkiraan waktu pulang kepada keluarga atau tetangga di darat,” tambahnya.

Yang tak kalah penting adalah budaya melapor. “Jika terjadi keadaan darurat di laut atau ada nelayan yang terlambat pulang di luar kebiasaan, segera hubungi Call Center 110. Jangan menunggu. Semakin cepat laporan masuk, semakin cepat pula pertolongan dapat diorganisir,” imbaunya.

Insiden perahu SINAR LAUT menjadi pengingat nyata tentang betapa laut bisa tak terduga dan betapa vitalnya jaringan komunitas serta respons cepat institusi. Keselamatan kedua awak kapal adalah buah dari kombinasi solidaritas sesama nelayan, kewaspadaan keluarga, dan koordinasi aparat. Namun, kejadian ini juga harus menjadi momentum untuk meningkatkan kesiapsiagaan kolektif, memperkuat infrastruktur komunikasi laut, dan memastikan bahwa setiap perahu yang berlayar telah memenuhi standar keselamatan minimum, demi mengurangi risiko di masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *