Bogor, Infolamongan.com – Sebanyak 150 kader bela negara dari berbagai elemen masyarakat mengikuti kegiatan pembekalan dan pemantapan keanggotaan Korps Gabungan Potensi Pertahanan (Kogaphan) dalam rangkaian Forum Kader Bela Negara (FKBN). Kegiatan yang digelar di lingkungan Pusat Pendidikan Zeni (Pusdikzi) TNI AD, Lawanggintung, Bogor Selatan, ini menandai upaya sistematis untuk menyiapkan kader-kader sipil yang terstruktur dan terbekali sebagai bagian dari sistem pertahanan negara. Kehadiran sejumlah pejabat tinggi dari Badan Cadangan Nasional (BANCANA) dan institusi terkait menggarisbawahi pentingnya peran serta masyarakat dalam doktrin Pertahanan Semesta, Pada Hari Minggu (08/02/2026).
Lokasi kegiatan di pusat pendidikan militer TNI, Pusdikzi, bukanlah pilihan tanpa makna. Ia menyimbolkan integrasi dan sinergi antara komponen utama (TNI) dengan komponen cadangan dan pendukung (masyarakat) dalam kerangka bela negara. Dalam sambutan pembuka, Kasatwas FKBN, Adi Sudaryanto, menekankan pentingnya kesehatan dan kedisiplinan selama pelatihan. “Ini adalah fondasi. Sebelum kita membela negara, kita harus mampu menjaga diri dan disiplin sebagai modal utama,” ujarnya di hadapan seluruh peserta yang berasal dari berbagai latar belakang profesi dan usia.
Pembekalan Holistik: Dari Keluarga hingga Manajemen Organisasi
Acara inti pembekalan dibuka dengan penekanan pada aspek paling fundamental dari bela negara: lingkungan keluarga. Kepala Pusat Bela Negara Badan Cadangan Nasional (Kapus Bela Negara BANCANA), Brigjen TNI Parluhutan Marpaung, dalam paparannya yang inspiratif menyatakan bahwa semangat bela negara harus berakar dari rumah. “Titik awal Bela Negara dimulai dari tataran keluarga dengan memberikan contoh yang baik kepada keluarga untuk disiplin dan tanggung jawab. Dimulai dari yang kecil, seperti makan bersama dan doa bersama pada saat makan,” tegas Brigjen Marpaung.
Pernyataan ini mencerminkan pendekatan yang lebih dalam, di mana ketahanan nasional dilihat sebagai hasil dari ketahanan unit-unit sosial terkecil. Disiplin, tanggung jawab, dan rasa kebersamaan yang dipupuk dalam keluarga dianggap sebagai benih dari kesadaran berbangsa dan bernegara yang lebih luas.
Secara teknis, pembekalan dirancang untuk memberikan kerangka pengetahuan dan keterampilan yang komprehensif. Kepala Pusat Bela Negara, Angga Rahadian Tirtawijaya, memaparkan cakupan materi yang diberikan. “Pembekalan Keanggotaan Kogaphan Bela Negara ini meliputi materi-materi seperti bela negara dan implementasinya, periode Bela Negara, kepemimpinan dan manajemen, serta komunikasi dan koordinasi antar Kader Bela Negara,” ucapnya. Rangkaian materi ini menunjukkan bahwa Kogaphan tidak hanya sekadar perkumpulan simbolis, tetapi organisasi yang diharapkan dapat berfungsi secara efektif dengan prinsip-prinsip manajerial dan kepemimpinan yang baik.
Kerangka Hukum dan Visi Operasional Kogaphan
Aspek legal-formal dan visi operasional organisasi menjadi penekanan lain. Sestama (Sekretaris Utama) FKBN, Raden Elpin Subagus, hadir untuk memberikan penjelasan mendalam tentang struktur dan tujuan Kogaphan. Ia menyampaikan materi terkait Peraturan Organisasi Kogaphan FKBN yang mencakup visi, misi, dan tugas pokok korps ini.
“Visi misi tugas Korps Gabungan Potensi Pertahanan adalah untuk Menguatkan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta dengan mendayagunakan segala Potensi Pertahanan Negara,” tambah Raden Elpin Subagus. Pernyataan ini secara eksplisit menempatkan Kogaphan sebagai salah satu instrumen untuk mengaktualisasikan doktrin Sishankamrata (Sistem Pertahanan dan Keamanan Rakyat Semesta). Dalam konteks ini, “potensi pertahanan” tidak hanya merujuk pada sumber daya fisik atau personel, tetapi juga meliputi potensi ideologis, politik, ekonomi, sosial, budaya, serta teknologi yang dimiliki bangsa.
Analisis: Memperkuat Tulang Punggung Pertahanan di Tingkat Grassroot
Keberadaan dan pembinaan Kogaphan FKBN harus dilihat dalam konteks strategis yang lebih besar. Negara menyadari bahwa tantangan keamanan di abad ke-21 semakin kompleks dan multidimensi, tidak lagi hanya ancaman militer konvensional, tetapi juga ancaman hybrid, disinformasi, radikalisme, serta bencana alam dan non-alam. Dalam menghadapi spektrum ancaman yang luas ini, ketergantungan hanya pada kekuatan militer reguler dirasa tidak cukup.
Kogaphan, sebagai bagian dari komponen cadangan dan pendukung, dirancang untuk menjadi pengganda kekuatan (force multiplier). Mereka diharapkan menjadi kader-kader terlatih di tingkat komunitas yang dapat:
-
Meningkatkan Kesadaran Kewaspadaan Nasional: Menjadi agen sosialisasi nilai-nilai bela negara dan kewaspadaan dini terhadap ancaman di lingkungannya.
-
Membantu Dalam Situasi Darurat dan Bencana: Memiliki kapasitas dasar untuk membantu penanganan awal bencana atau situasi darurat sebelum bantuan profesional tiba.
-
Memperkuat Ketahanan Sosial: Mencegah penyebaran paham radikal dan disintegrasi sosial melalui pendekatan dari dalam masyarakat.
-
Menjadi Basis Mobilisasi: Jika suatu saat diperlukan, kader-kader yang telah terdata dan terbina ini dapat menjadi basis untuk mobilisasi sumber daya manusia pendukung pertahanan secara lebih terorganisir.
Kehadiran tokoh seperti Kolonel TNI Purn. Bagus Wibawa dan Letkol Robert dari Pusdikzi juga memberikan dimensi teknis dan pengalaman operasional. Mereka dapat membagikan pengetahuan tentang dasar-dasar survival, navigasi, pertolongan pertama, atau logistik sederhana yang berguna dalam berbagai kondisi.
Dengan demikian, pembekalan 150 kader di Pusdikzi Bogor ini bukan sekadar acara seremonial. Ia adalah investasi strategis jangka panjang dalam membangun lapisan pertahanan sosial yang tangguh. Negara, melalui BANCANA dan FKBN, sedang merajut jaringan kader bela negara dari akar rumput, dengan harapan bahwa ketahanan yang dibangun dari bawah akan menjadi fondasi paling kokoh bagi kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di masa depan. Keberhasilan program ini akan diukur dari sejauh mana kader-kader ini dapat menjadi teladan dan penggerak di komunitas masing-masing, menerjemahkan jargon “bela negara” menjadi aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.









