Peringati HUT ke-80, Persit KCK Kodim Lamongan Gelar Anjangsana Beri Santunan ke Warakawuri & Keluarga Difabel

 Infolamongan.com – Memasuki usia delapan dekade, Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) tidak sekadar merayakannya dengan seremonial. Sebagai wujud nyata pengabdian dan solidaritas yang menjadi tema HUT ke-80, Persit KCK Cabang XXVII Kodim 0812 Lamongan menggelar kegiatan anjangsana dan penebar tali asih yang menyentuh hati. Dipimpin langsung oleh Ketua Persit KCK Cabang XXVII, Ny. Putri Deni, rombongan yang turut dihadiri Komandan Kodim (Dandim) 0812 Lamongan, Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo, menyambangi kediaman para Warakawuri (janda prajurit) serta keluarga anggota TNI AD yang memiliki anak berkebutuhan khusus, Pada hari Senin (09/02/2026).

Kegiatan ini menegaskan bahwa peran Persit di era modern telah berevolusi. Tidak lagi hanya sebagai pendamping upacara atau penggerak kegiatan internal, tetapi telah bertransformasi menjadi organasi sosial yang peka, menjadi pilar penopang dan pengayom bagi keluarga besar TNI yang paling rentan. Anjangsana ini adalah bahasa kasih yang konkret, jauh dari hingar-bingar panggung, langsung menyapa di depan pintu rumah penerima manfaat.

“Di usia yang ke-80 ini, kami ingin memastikan bahwa kasih sayang dan kepedulian Persit menjangkau seluruh keluarga besar, terutama mereka yang memerlukan perhatian lebih. Kehadiran kami hari ini adalah untuk berbagi kebahagiaan dan menguatkan tali silaturahmi yang telah terjalin,” ujar Ny. Putri Deni dengan penuh ketulusan di sela-sela kunjungan. Pernyataannya mencerminkan filosofi bahwa usia 80 tahun bukanlah angka kejayaan, melainkan pengingat untuk semakin merendah, mendekat, dan berbagi.

Lebih dari Sembako: Sentuhan Personal di Setiap Kediaman

Anjangsana ini tidak dilakukan dengan model serah-terima massal di satu aula. Rombongan yang terdiri dari pengurus dan anggota Persit secara khusus mendatangi satu per satu kediaman para penerima. Pendekatan ini memiliki nilai psikologis yang dalam. Ia mengirimkan pesan: “Kami mengenalmu, kami peduli, dan kami datang khusus untukmu.”

Bantuan yang diberikan pun bersifat holistik, dirancang untuk meringankan beban dari berbagai sisi. Setiap keluarga menerima paket lengkap yang terdiri dari:

  1. Paket Sembako: Untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok sehari-hari, memberikan kepastian nutrisi bagi keluarga.

  2. Bantuan Kesehatan: Berupa paket alat kesehatan dasar atau vitamin, menunjukkan perhatian khusus pada kondisi fisik, terutama bagi warakawuri yang telah lanjut usia atau anak-anak dengan kebutuhan khusus yang memerlukan perawatan ekstra.

  3. Dana Santunan: Bantuan tunai yang dapat digunakan untuk kebutuhan spesifik yang mungkin tidak tercakup dalam bantuan barang, seperti biaya transportasi berobat, keperluan sekolah khusus, atau perbaikan rumah.

Duka dan Haru: Cerita di Balik Pintu

Suasana haru tak terhindarkan dalam kunjungan-kunjungan tersebut. Salah satu momen yang paling menyentuh terjadi saat rombongan tiba di kediaman Serka (Purn) Hasan Bisri. Sebagai seorang purnawirawan yang telah mengabdi, ia merasakan langsung betapa perhatian organisasi tidak putus saat masa tugas berakhir. Apalagi, di keluarganya terdapat anak dengan kebutuhan khusus yang memerlukan perhatian ekstra.

Dengan suara bergetar, Serka Hasan Bisri menyampaikan rasa terima kasihnya yang mendalam. “Saya sungguh tersentuh. Di masa purnabakti ini, rasanya hangat sekali masih diingat dan dikunjungi. Perhatian untuk anak saya ini sangat berarti, membuat kami merasa tidak sendirian,” ungkapnya. Air mata yang menggenang di pelupuk mata sang veteran menjadi bukti nyata bahwa yang diberikan Persit bukan sekadar materi, tetapi pengakuan, penghormatan, dan rasa solidaritas yang menembus batas waktu dan status.

Transformasi Peran Persit: Dari Pendamping Menuju Pilar Sosial

Momen HUT ke-80 ini dijadikan titik tolak untuk mendeklarasikan komitmen yang lebih besar. Ny. Putri Deni menegaskan bahwa Persit KCK bertekad untuk terus bertransformasi. “Melalui momentum HUT ke-80 ini, Persit Kartika Chandra Kirana berkomitmen untuk terus bertransformasi menjadi organisasi yang tidak hanya mendukung tugas suami, tetapi juga menjadi pilar sosial yang peka terhadap isu kemanusiaan di lingkungan internal maupun masyarakat luas,” tegasnya.

Pernyataan ini menandai pergeseran paradigma. Dukungan kepada tugas suami (prajurit) tidak lagi dipandang secara sempit sebagai dukungan logistik atau moril di garis belakang tugas militer, tetapi diperluas menjadi penciptaan “home front” yang kuat dan sejahtera. Sebuah keluarga prajurit yang tangguh, didukung, dan terurus—terutama yang sedang menghadapi ujian seperti kehilangan pencari nafkah atau mengasuh anak difabel—akan menghasilkan prajurit yang lebih fokus dan tenang dalam menjalankan tugasnya. Dengan kata lain, kesejahteraan sosial yang dibangun Persit secara tidak langsung ikut memperkuat ketahanan satuan.

Refleksi: Ketahanan Nasional Dimulai dari Ketahanan Keluarga

Kegiatan anjangsana ini, meskipun tampak lokal dan sederhana, sesungguhnya mengandung nilai strategis yang dalam. Ia mengajarkan bahwa ketahanan nasional bermula dari ketahanan keluarga. Sebuah bangsa yang besar tidak mungkin dibangun di atas puing-puing keluarga yang terlupakan, terutama keluarga para pahlawan yang telah berkorban.

Dengan merangkul warakawuri, Persit memastikan bahwa pengorbanan mendiang suami mereka selalu dihargai dan tidak pernah terlupakan. Dengan menyantuni keluarga penyandang disabilitas, Persit memberikan contoh inklusivitas dan menguatkan pondasi sosial bahwa setiap anggota keluarga besar TNI AD, dalam kondisi apapun, memiliki tempat dan martabat yang sama.

Di usia 80 tahun, Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXVII Lamongan menunjukkan bahwa kematangan sebuah organisasi justru diukur dari kedalaman empati dan jangkauan kasih sayangnya. Mereka tidak hanya merayakan usia dengan melihat ke belakang pada sejarah gemilang, tetapi dengan melangkah penuh keyakinan ke depan, menyapa mereka yang paling membutuhkan pelukan, membuktikan bahwa solidaritas adalah nyawa dari organisasi yang abadi. Langkah kaki rombongan anjangsana di jalan-jalan Lamongan sore itu adalah jejak menuju cita-cita organisasi yang lebih manusiawi, relevan, dan menjadi jantung kemanusiaan di dalam tubuh institusi militer.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *