Infolamongan.com – Pasca air surut, ancaman baru seringkali mengintai korban banjir: wabah penyakit dan penurunan kualitas gizi. Menyadari hal ini, upaya pemulihan di Desa Sungelebak, Kecamatan Karanggeneng, tidak hanya fokus pada pembersihan lumpur, tetapi juga pada perlindungan kesehatan masyarakat. Pada Minggu (18/01/2026), digelar kegiatan penyuluhan Midwifery Nutrition Care (MNC) dan pengobatan gratis di Balai Desa Sungelebak. Yang menarik, kegiatan kemanusiaan lintas sektor ini didampingi secara aktif oleh Bintara Pembina Desa (Babinsa) setempat, menunjukkan peran TNI yang terus berlanjut dari fase tanggap darurat ke fase pemulihan.
Kegiatan ini merupakan respons tepat terhadap risiko kesehatan pascabencana yang sering terlupakan. Lingkungan yang lembab, air yang terkontaminasi, keterbatasan akses makanan bergizi, dan kondisi pengungsian yang padat dapat memicu penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, serta penurunan berat badan dan masalah gizi, terutama pada kelompok rentan seperti balita, ibu hamil, dan lansia.
Kolaborasi Lintas Sektor: Dari TNI hingga Tenaga Kesehatan
Keberhasilan kegiatan ini ditopang oleh kolaborasi yang solid dari berbagai pemangku kepentingan. Hadir dalam acara tersebut Kepala Desa Sungelebak, Ahmad Mufid, SE., Babinsa setempat, perwakilan Polsek Karanggeneng, serta pimpinan Puskesmas Karanggeneng, Dr. Kamal Mubarok, MM.RS. Dukungan operasional juga datang dari Ketua Posyandu Desa Sungelebak, Ibu Amindarti, S.Pd., beserta kader PKK dan Posyandu yang menjadi ujung tombak pendataan dan pendampingan warga.
Kehadiran Babinsa dalam peran pendampingan memiliki makna strategis. Sebagai aparat kewilayahan yang paling dekat dengan warga, Babinsa berperan dalam memastikan sosialisasi kegiatan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, membantu mengatur kerumunan, dan memberikan rasa aman selama acara berlangsung. Selain itu, kehadirannya menjadi penegas bahwa peran TNI tidak berakhir saat evakuasi selesai, tetapi terus berlanjut dengan memastikan pemulihan kondisi fisik dan kesehatan warga.
“Kami ingin memastikan warga yang terdampak banjir mendapatkan akses layanan kesehatan yang layak. Selain pengobatan fisik, penyuluhan nutrisi ini sangat penting agar tidak ada kasus gizi buruk atau masalah kesehatan serius pasca bencana,” ujar Babinsa yang bertugas. Pernyataan ini menunjukkan pemahaman yang komprehensif tentang siklus penanganan bencana, di mana fase recovery sama pentingnya dengan fase respons.
Fokus pada Nutrisi: MNC sebagai Upaya Preventif Jangka Panjang
Aspek paling krusial dari kegiatan ini adalah penyuluhan Midwifery Nutrition Care (MNC). MNC adalah pendekatan yang berfokus pada perawatan nutrisi khusus untuk ibu hamil, ibu nifas, dan bayi. Di kondisi pascabanjir, dimana akses terhadap makanan beragam dan bergizi sering terbatas, edukasi ini menjadi penyelamat.
Materi penyuluhan kemungkinan besar mencakup: cara memanfaatkan bahan pangan yang tersedia secara optimal untuk memenuhi kebutuhan gizi, pentingnya menjaga asupan protein dan mikronutrien untuk pemulihan dan pencegahan anemia, tata cara pemberian makan bayi dan anak (PMBA) yang benar di situasi darurat, serta pentingnya Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Penyuluhan ini tidak hanya mencegah gizi buruk, tetapi juga investasi untuk mencegah stunting di kemudian hari, yang risikonya meningkat pada anak-anak yang hidup dalam lingkungan pascabencana dengan keterbatasan ekonomi.
Antusiasme Warga dan Pelayanan Pengobatan Gratis
Menurut Kades Sungelebak, Ahmad Mufid, antusiasme warga sangat tinggi. Warga berbondong-bondong memanfaatkan layanan pengobatan gratis yang disediakan. Layanan yang diberikan bersifat menyeluruh, mulai dari pemeriksaan tanda-tanda vital (seperti tensi darah), konsultasi umum dengan dokter, hingga pemberian obat-obatan dasar untuk mengatasi keluhan yang paling banyak muncul pascabanjir, seperti gatal-gatal, flu, demam, dan diare.
Kehadiran langsung dokter dari Puskesmas memberikan nilai tambah kepercayaan diri bagi warga. Mereka bisa berkonsultasi langsung tentang keluhan spesifik, mendapatkan diagnosis awal, dan resep obat yang tepat, tanpa harus mengeluarkan biaya yang menjadi beban tambahan di saat kondisi ekonomi juga sedang tertekan akibat banjir.
Dampak dan Harapan: Mempercepat Pemulihan Menyeluruh
Kepala Desa menutup kegiatan dengan penuh harap. “Hingga kegiatan berakhir, seluruh rangkaian acara berjalan dengan tertib, aman, dan lancar. Sinergi antara TNI, Polri, Pemerintah Desa, dan Tenaga Kesehatan ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi masyarakat Desa Sungelebak pasca banjir,” ujarnya.
Pemulihan pascabencana tidak diukur hanya dari bersihnya jalan dari lumpur atau keringnya lantai rumah. Pemulihan yang sesungguhnya adalah ketika masyarakat kembali sehat secara fisik dan mental, mampu beraktivitas normal, dan anak-anak tetap tumbuh dengan gizi yang cukup. Kegiatan penyuluhan dan pengobatan gratis ini adalah batu bata penting dalam membangun fondasi pemulihan tersebut.
Dengan intervensi kesehatan yang cepat dan tepat sasaran ini, diharapkan gelombang kedua korban banjir akibat penyakit dan gizi buruk dapat dicegah. Kolaborasi yang ditunjukkan antara Babinsa, pemerintah desa, polisi, dan tenaga kesehatan di Desa Sungelebak layak menjadi model untuk diterapkan di desa-desa lain yang juga terdampak bencana. Ini adalah bukti bahwa dengan gotong royong, dampak buruk sebuah bencana dapat ditekan, dan masyarakat dapat bangkit kembali dengan lebih cepat dan lebih kuat.









