Dari Lamongan untuk Indonesia : Prof. Dessy Hari Santy, Guru Besar Muda UNAIR yang Angkat Isu Literasi di Era Digital

Infolamongan.id – Kebanggaan kembali datang dari putri terbaik Kabupaten Lamongan di dunia akademik. Prof. Dr. Dessy Hari Santy, S.Sos., M.A., seorang profesor usia muda yang merupakan alumni SMAN 2 Lamongan, resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar tetap dalam bidang Ilmu Perilaku dan Produksi Informasi di Universitas Airlangga (UNAIR), Rabu (29/10/2025). Pengukuhan ini tidak hanya menjadi prestasi individu, tetapi juga membawa nama Lamongan semakin harum di kancah pendidikan tinggi nasional. Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Perilaku dan Produksi Informasi: Urgensi Literasi Kritis dan Etika dalam Masyarakat Prosumer”, Prof. Dessy memaparkan analisis mendalam tentang transformasi masyarakat digital yang tengah kita alami.

Perjalanan akademik Prof. Dessy hingga menyandang gelar guru besar penuh dengan torehan prestasi. Dedikasinya dalam meneliti dinamika informasi dan perilaku masyarakat di ruang digital telah menghasilkan kontribusi ilmiah yang signifikan, yang akhirnya mengantarnya ke puncak karier akademik di salah satu universitas terbaik di Indonesia. Keberhasilannya ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Lamongan khususnya, dan Indonesia pada umumnya, untuk terus berprestasi dan berkontribusi melalui jalur ilmu pengetahuan.

Evolusi Media Informasi: Dari Masa Batu hingga Cloud Computing

Dalam orasinya, Prof. Dessy membawa hadirin menyusuri perjalanan panjang evolusi media informasi. Ia menjelaskan bahwa informasi telah menjadi bagian integral dalam peradaban manusia sejak awal masa. “Evolusi media informasi dimulai dari masa batu dan papyrus hingga media digital dan cloud yang membawa perubahan besar terhadap perilaku informasi manusia,” paparnya.

Perubahan fundamental yang terjadi, menurutnya, adalah pergeseran peran manusia dalam ekosistem informasi. Jika dahulu manusia hanya menjadi penerima informasi yang pasif, kini di era digital, setiap individu memiliki peran ganda. “Kini, manusia tidak hanya sebagai penerima informasi tetapi juga pencipta, pengolah, dan penyebar informasi,” tegasnya. Kondisi inilah yang melahirkan apa yang ia sebut sebagai “masyarakat prosumer” – sebuah istilah yang menggambarkan masyarakat yang sekaligus bertindak sebagai produsen dan konsumen informasi.

Perkembangan Teori Perilaku Informasi: Dari Model Linier hingga Kontekstual

Sebagai akademisi yang mendalam, Prof. Dessy tidak lupa melacak akar teoretis dari studi perilaku informasi. Ia memaparkan perkembangan teori ini mulai dari model linier Shannon dan Weaver (1949) yang menekankan transmisi pesan, hingga konsep negosiasi kebutuhan informasi yang diperkenalkan Taylor (1968).

Perkembangan berikutnya menunjukkan pergeseran paradigma yang signifikan. “Belkin (1980) dan Dervin (1983) menggeser fokus pada pengalaman pengguna,” ujarnya. Sementara Ellis (1989) dan Kuhlthau (1991) memberikan perhatian pada dimensi emosional dan proses non-linier dalam pencarian informasi.

Puncak perkembangan teori ini, menurut Prof. Dessy, adalah model yang dikembangkan Wilson (1997-2000) yang memperluas perspektif dengan memasukkan faktor kontekstual, psikologis, dan sosial. Sementara Savolainen (1995) melalui teori Everyday Life Information Seeking menegaskan bahwa informasi tidak hanya dibutuhkan untuk tujuan akademik, tetapi juga untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Masyarakat Prosumer: Peluang dan Tantangan di Era Digital

Mengutip Ritzer & Jurgenson (2010), Prof. Dessy menjelaskan bahwa era digital telah melahirkan masyarakat prosumer di mana batas antara konsumen dan produsen informasi menjadi kabur. “Masyarakat dapat menggunakan media sosial, blog, dan platform daring sebagai media untuk menjadikan setiap individu agar dapat menjadi pencipta dan pengguna informasi secara sekaligus,” jelasnya.

Bentuk nyata dari produksi informasi dalam kehidupan sehari-hari, menurutnya, dapat dilihat dari aktivitas sederhana seperti menulis status, mengunggah foto, hingga membagikan opini di platform digital. Sebagai produsen informasi, masyarakat prosumer terlibat dalam proses co-creation (Ertz, 2024) – sebuah kolaborasi aktif dalam penciptaan nilai melalui berbagai bentuk seperti co-design, co-testing, dan co-promotion.

Namun, Prof. Dessy mengingatkan bahwa aktivitas ini menuntut kemampuan literasi informasi dan etika yang tinggi. “Setiap individu tidak hanya menyebarkan informasi tetapi juga membentuk opini publik,” tegasnya. Karakteristik masyarakat prosumer yang partisipatif, kreatif, kolaboratif, dan mandiri ini membawa tanggung jawab besar dalam menjaga kredibilitas dan etika informasi.

Literasi Kritis dan Etika: Dua Pilar Utama Masyarakat Informasi yang Sehat

Menghadapi realitas masyarakat prosumer, Prof. Dessy menekankan dua solusi fundamental: literasi kritis dan etika informasi. “Literasi dapat dijadikan sebagai kunci utama,” ujarnya. Individu dengan literasi informasi tinggi mampu menemukan, menilai, dan menggunakan informasi secara efektif.

Lebih dari sekadar literasi dasar, yang dibutuhkan adalah literasi kritis. “Literasi kritis melatih masyarakat untuk memverifikasi sumber, menilai keabsahan data, serta menolak informasi palsu,” paparnya. Faktor lain seperti motivasi, kemampuan teknologi, dan kepercayaan terhadap sumber juga turut membentuk perilaku pencarian dan produksi informasi.

Di sisi lain, etika informasi menjadi pilar penopang yang tidak kalah penting. “Kesadaran etis memastikan bahwa informasi disebarkan dengan tanggung jawab sosial, menghormati hak cipta, dan tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat,” tegas Prof. Dessy. Ia menekankan bahwa produsen informasi perlu mengevaluasi dampak dari konten yang dibuat dan menghindari penyebaran hoaks, provokasi, maupun pelanggaran privasi.

Kolaborasi Multisektoral untuk Ekosistem Informasi yang Sehat

Prof. Dessy tidak hanya berhenti pada diagnosis masalah, tetapi juga menawarkan solusi komprehensif. Menurutnya, membangun ekosistem informasi yang sehat membutuhkan peran semua pihak secara kolaboratif.

“Pemerintah perlu menegakkan regulasi dan perlindungan data pribadi,” sarannya. Sementara lembaga pendidikan harus memperkuat kurikulum literasi digital, dan media massa wajib menjaga kredibilitas serta transparansi. Di tingkat masyarakat, setiap individu harus berperan aktif memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya.

Tantangan Era Digital: Dari Information Overload hingga Filter Bubble

Meski memiliki peluang besar, Prof. Dessy mengingatkan bahwa era digital juga membawa tantangan kompleks. “Information overload, hoaks, filter bubble, dan rendahnya kemampuan berpikir kritis” adalah beberapa masalah utama yang dihadapi masyarakat prosumer kontemporer.

Literasi kritis, menurutnya, membantu masyarakat memilah informasi relevan dan valid, sedangkan etika informasi memastikan penggunaan dan penyebaran konten yang bertanggung jawab. “Tanpa dua hal ini, masyarakat mudah terjebak dalam disinformasi dan manipulasi opini publik,” peringatnya.

Penutup: Literasi dan Etika sebagai Dua Sisi Mata Uang

Dalam penutup orasinya, Prof. Dessy menegaskan bahwa literasi kritis dan etika dalam implementasinya harus berjalan beriringan. “Literasi digunakan masyarakat untuk menjaga kualitas pengetahuan, sementara etika digunakan untuk menjaga kualitas hubungan sosial di ruang digital,” paparnya.

Penerapan kedua hal ini, menurutnya, akan membentuk masyarakat prosumer yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab dalam mengelola informasi. Sebuah visi yang tidak hanya relevan untuk konteks akademik, tetapi juga menjadi panduan praktis bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam menghadapi tantangan era disrupsi informasi.

Pengukuhan Prof. Dessy Hari Santy sebagai guru besar tidak hanya menjadi kebanggaan bagi keluarga dan almamaternya, tetapi juga menjadi kontribusi berharga bagi pengembangan ilmu komunikasi dan informasi di Indonesia. Pemikiran-pemikirannya yang visioner diharapkan dapat menjadi kompas dalam membentuk masyarakat informasi Indonesia yang sehat, kritis, dan beretika.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *