Dari Medan Tani ke Panggung Prestasi: Kisah Pelda Duladi, Babinsa Lamongan Peraih Anugrah Sapta Aghita 2025 untuk Inovasi Padi PMJ 01

Infolamongan.id – Suasana Janaloka Ballroom di lantai 16 Whiz Luxe Hotel Spazio Surabaya pada Jumat (31/10/2025) sore itu penuh dengan energi optimisme. Dalam acara puncak peringatan HUT ke-2 Kabarbaik.co bertajuk “Kabarbaik Bertumbuh dalam Nilai”, sorot kamera dan tepuk tangan meriah menyambut para penerima Anugrah Sapta Aghita 2025. Di antara para penerima penghargaan, terselip seorang prajurit TNI dengan seragam hijau lapangan yang tampak berwibawa. Dialah Pelda Duladi, seorang Babinsa (Bintara Pembina Desa) dari jajaran Kodim 0812 Lamongan, yang baru saja menerima penghargaan “Special Achievement” (Prestasi Istimewa) dalam kategori Petani Milenial dan Ketahanan Pangan.

Penghargaan prestisius ini bukanlah hadiah atas tugas rutinnya sebagai seorang Babinsa, melainkan pengakuan atas dedikasi dan terobosan spektakulernya di luar panggung tempur: penemuan bibit padi unggul PMJ 01. Sebuah inovasi yang lahir dari keprihatinan dan kecintaannya pada sawah-sawah di wilayah binaannya, yang sejalan dengan visi Presiden RI dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Momen ini bukan sekadar kemenangan personal, tetapi merupakan bukti nyata bagaimana peran TNI, khususnya Babinsa, dapat meluas menjadi katalisator kemajuan di sektor strategis bangsa.

Foto : Foto : Pelda Duladi berdiri dengan bangga memegang piagam penghargaan Anugrah Sapta Aghita 2025 di atas panggung Janaloka Ballroom Surabaya
Foto : Pelda Duladi berdiri dengan bangga memegang piagam penghargaan Anugrah Sapta Aghita 2025 di atas panggung Janaloka Ballroom Surabaya

Babinsa Milenial: Merangkul Tradisi dengan Teknologi dan Inovasi

Figur Pelda Duladi merepresentasikan generasi baru petani dan Babinsa yang inovatif. Sebutan “petani milenial” yang disandangnya bukanlah label kosong. Ia menggambarkan sebuah paradigma baru di mana pertanian tidak lagi dilihat sebagai pekerjaan kolot, melainkan sebagai lapangan yang membutuhkan kreativitas, ilmu pengetahuan, dan semangat eksperimen. Sebagai Babinsa, ia memiliki kedekatan emosional dan struktural dengan para petani. Ia memahami betul tantangan yang dihadapi, mulai dari serangan hama, fluktuasi harga, hingga yang paling mendasar—masalah kualitas dan produktivitas bibit.

Bibit padi PMJ 01 adalah jawabannya. Hasil dari kerja keras, observasi panjang, dan serangkaian percobaan di lapangan, bibit ini diklaim memiliki keunggulan dalam hal pertumbuhan dan hasil. Dalam dunia pertanian, penemuan bibit unggul adalah game-changer. Bibit yang baik adalah fondasi dari seluruh rantai produksi pangan. Ia menentukan tingkat ketahanan terhadap penyakit, jumlah bulir yang dihasilkan per malai, dan kualitas beras yang dihasilkan. Dengan PMJ 01, Pelda Duladi tidak hanya menyumbangkan sebuah varietas baru, tetapi juga menawarkan harapan untuk peningkatan produktivitas dan kesejahteraan petani Lamongan secara signifikan.

Dukungan Komando: Membangun Ekosistem Inovasi di Kesatuan

Keberhasilan seorang prajurit tidak lepas dari dukungan dan arahan komandannya. Komandan Kodim (Dandim) 0812 Lamongan, Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo, menyambut baik dan sangat bangga dengan pencapaian anak buahnya tersebut. Dalam pernyataannya, Dandim menegaskan bahwa penghargaan ini adalah bukti nyata atas kerja keras dan kontribusi Pelda Duladi. Lebih dari itu, ia melihatnya sebagai pemicu motivasi bagi seluruh jajaran Babinsa di Kodim 0812 Lamongan.

“Kami berharap penghargaan ini dapat menjadi motivasi bagi seluruh Babinsa jajaran Kodim 0812 Lamongan untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan pangan nasional,” ujar Letkol Deni. Pernyataan ini memiliki makna strategis. Ia mengisyaratkan sebuah pendekatan pembinaan wilayah yang tidak hanya fokus pada aspek keamanan (security), tetapi juga pada aspek kesejahteraan (welfare). Sebuah instruksi tidak langsung untuk menjadikan inovasi dan kontribusi nyata bagi masyarakat sebagai bagian dari budaya korps. Dengan demikian, penghargaan bagi Pelda Duladi berpotensi melahirkan ratusan “Duladi-Duladi” lain yang tersebar di desa-desa, masing-masing dengan inovasinya sendiri.

Dampak Sosial: Meningkatkan Kesejahteraan dan Menginspirasi Generasi Muda

Penghargaan di Surabaya itu akan terasa hampa jika tidak membawa dampak nyata di lapangan. Harapan terbesar justru tertumpu pada kemampuan inovasi ini untuk direplikasi dan diadopsi secara luas. Pelda Duladi, dengan penghargaannya, kini menjadi role model yang powerful. Ia adalah living proof bahwa berkecimpung di dunia pertanian bisa menghasilkan prestasi yang diakui secara nasional.

Bagi petani tradisional di Lamongan, kehadiran bibit PMJ 01 yang telah terbukti kualitasnya adalah angin segar. Mereka mendapatkan akses terhadap teknologi pertanian sederhana namun berdampak besar, yang dikembangkan oleh orang yang mereka kenal dan percaya—Babinsa mereka. Hal ini dapat mempercepat adopsi inovasi dibandingkan jika datang dari pihak luar. Peningkatan produktivitas yang dihasilkan pada akhirnya akan bermuara pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani.

Bagi generasi muda, kisah Pelda Duladi menawarkan narasi baru tentang pertanian. Ia mendemistifikasi gagasan bahwa menjadi petani atau dekat dengan sektor pertanian adalah sesuatu yang ketinggalan zaman. Justru, di tangan generasi milenial yang melek teknologi dan berjiwa inovator, pertanian adalah lahan subur untuk berkreasi dan berprestasi. Ini adalah pesan yang sangat vital untuk memastikan regenerasi petani dan menjaga sustainabilitas ketahanan pangan Indonesia di masa depan.

Refleksi dan Tantangan Ke Depan

Perjalanan Pelda Duladi tentu tidak berakhir di ballroom mewah Surabaya. Justru, penghargaan itu adalah titik tolak baru. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana memastikan bahwa bibit padi PMJ 01 dapat diproduksi secara massal, didistribusikan secara merata, dan didampingi secara teknis agar petani bisa mengoptimalkan hasilnya. Perlindungan terhadap kekayaan intelektual varietas tanaman ini juga perlu menjadi perhatian, agar jerih payahnya tidak diklaim atau disalahgunakan oleh pihak lain.

Selain itu, semangat inovasi ini perlu dikelola secara sistematis. Kodim, bersama dengan Dinas Pertanian setempat, dapat membentuk semacam “laboratorium lapangan” atau program pendampingan khusus dimana Pelda Duladi dapat berbagi ilmu dan metodenya kepada Babinsa dan petani-petani muda lainnya. Kolaborasi TNI-Pemerintah Daerah-Petani dalam model seperti ini dapat menjadi blueprint yang efektif untuk mempercepat pembangunan di sektor pertanian.

Penutup: Sebuah Teladan untuk Ketahanan Pangan Nasional

Acara Anugrah Sapta Aghita 2025 mungkin sudah usai, namun gaungnya baru saja dimulai. Kisah Pelda Duladi adalah sebuah narasi kepahlawanan baru di era modern. Ia adalah pahlawan ketahanan pangan yang berjuang bukan dengan senjata, melainkan dengan gagasan, ketekunan, dan kecintaannya pada tanah air secara harfiah.

Penghargaannya mengajarkan pada kita bahwa kontribusi untuk negeri bisa dilakukan dari mana saja, dengan latar belakang apa saja. Dari desa-desa di Lamongan, sebuah inovasi sederhana namun berdampak luas telah lahir, didorong oleh semangat seorang prajurit yang melihat tugasnya tidak hanya sebagai pengawal keamanan, tetapi juga sebagai penggerak kemajuan. Jika ada lebih banyak lagi “Pelda Duladi” yang bermunculan di penjuru Nusantara, maka cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia bukan lagi sekadar impian, tetapi suatu keniscayaan yang sedang diwujudkan, satu inovasi di satu waktu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *