Sukoharjo, Infolamongan.com – Sebuah upaya konkret mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan digelar di tengah hamparan sawah hijau yang menguning. Forum Kader Bela Negara (FKBN) Badan Koordinator Pusat menggelar panen raya padi terapan organik di area persawahan Desa Bulakrejo, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Rabu (4/2/2026). Kegiatan ini bukan sekadar seremonial panen, melainkan pernyataan politik yang tegas bahwa “bela negara” tak lagi semata urusan senjata dan tapal batas, tetapi juga tentang memastikan setiap piring nasi rakyat terisi dengan pangan yang sehat, berkelanjutan, dan dihasilkan dari bumi sendiri. Program ini menjadi batu pijakan menuju visi Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
Di hadapan para petani, pejabat, dan puluhan kader, gelombang bulir padi organik berhasil dipanen. Ini adalah bukti nyata keberhasilan metode budidaya yang dikembangkan FKBN dalam program bertajuk “Bela Negara di Sektor Pangan”. Program ini mengusung pendekatan holistik: penggunaan nutrisi dan pestisida organik, eliminasi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis, serta penguatan kapasitas petani melalui sekolah lapang dan pendampingan intensif. Lahan di Desa Bulakrejo menjadi laboratorium hidup dan percontohan yang hasilnya langsung dirasakan petani.
Konvergensi Lintas Sektor: Dari Pertahanan hingga Pertanian
Panen raya ini menarik perhatian dan menghadirkan berbagai elemen penting, mencerminkan pendekatan yang terintegrasi. Hadir dalam acara tersebut, antara lain, Kolonel Rudy dari Badan Cadangan Nasional (Bacadnas) Kementerian Pertahanan RI dan Deputi BAPISUS Brigjen Fahrid Amran. Kehadiran pejabat bidang pertahanan di tengah sawah bukanlah sebuah ketidakcocokan, melainkan sebuah penegasan paradigma baru.
Kolonel Rudy menyampaikan apresiasi tinggi atas kerja keras FKBN. “Ini adalah bentuk bela negara yang nyata. Ketahanan pangan adalah bagian dari ketahanan nasional. Jika pangan kita kuat, daya tahan bangsa menghadapi berbagai ancaman dan krisis juga akan kuat,” ujarnya di sela-sela kegiatan. Pernyataan ini menegaskan bahwa cadangan pangan sama strategisnya dengan cadangan militer.
Senada dengan itu, Brigjen Fahrid Amran menyebut keberhasilan program terapan organik ini sebagai kontribusi langsung terhadap agenda prioritas nasional. “Program ini secara nyata mendukung visi dan perintah Presiden Prabowo Subianto untuk mencapai kedaulatan pangan nasional. Apa yang dilakukan FKBN bersama petani di sini adalah langkah tepat untuk melepaskan ketergantungan dari luar dan membangun kemandirian dari akar rumput,” tegasnya.
Bela Negara dari Balik Cangkul: Filosofi dan Aksi Nyata
Dalam konferensi persnya, Kepala Badan Koordinator Pusat FKBN, Angga Rahardian Tirtawijaya, memaparkan filosofi di balik gerakan ini. “Bela negara memiliki spektrum yang luas. Di era modern, mengamankan ketersediaan pangan yang sehat, mandiri, dan berkelanjutan adalah bentuk pertahanan non-militer yang paling mendasar,” ujar Angga dengan penuh keyakinan.
Ia menekankan bahwa pertanian organik bukan sekadar tren, melainkan sebuah keharusan strategis. “Pertanian kimiawi jangka panjang akan meracuni tanah dan air, yang pada akhirnya meracuni generasi penerus. Beralih ke organik adalah investasi untuk masa depan bangsa. Ini adalah perang melawan degradasi lingkungan dan kerentanan pangan,” imbuhnya. Angga juga membagikan testimoni nyata dari petani setempat yang mengalami peningkatan hasil panen setelah beralih ke pupuk organik Bela Negara, membuktikan bahwa metode ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga produktif secara ekonomi.
Di lapangan, semangat gotong royong tampak menyala. Puluhan kader FKBN dengan semangat membara turun langsung bersama kelompok tani Desa Bulakrejo dan para undangan untuk memanen padi. Mereka bukan hanya memetik bulir, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa membela negara bisa dilakukan dengan tangan yang penuh lumpur dan hati yang peduli pada kedaulatan pangan.
Kemandirian Petani Sebagai Fondasi Kedaulatan
Ketua Koperasi Bela Negara FKBN, Elpin Subagus, menjadi sosok yang menjembatani ideologi dengan praktik ekonomi. Dalam orasinya, Elpin menegaskan bahwa panen ini adalah simbol pengabdian. “Setiap bulir padi organik yang dihasilkan hari ini adalah amunisi bagi ketahanan nasional. Jika petani mandiri, pangan tercukupi, maka negara akan memiliki fondasi yang kuat dan tidak mudah diintervensi,” ujarnya.
Elpin secara detail memaparkan tujuan ekonomi dari program ini: mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia impor yang harganya fluktuatif, menekan biaya produksi dengan memanfaatkan bahan baku lokal, serta menjaga kesuburan tanah agar tetap produktif untuk anak cucu. “Kami mengajak petani untuk merdeka secara ekonomi dengan menguasai ilmu produksi input pertaniannya sendiri. Saat petani bisa membuat nutrisi dan pestisida organik sendiri, mereka tidak lagi menjadi korban dari gejolak harga pasar,” paparnya.
“Inilah makna kemandirian pangan yang sesungguhnya: sehat tanahnya, sehat hasilnya, dan sehat ekonominya. Dari desa-desa seperti Bulakrejo inilah kita bangun kekuatan nasional menuju Indonesia sebagai lumbung pangan dunia,” tambah Elpin penuh semangat.
Edukasi dan Transfer Teknologi: Kunci Keberlanjutan
Agar program tidak berhenti pada satu kali panen, acara juga dirangkaikan dengan diskusi dan workshop teknis yang dipandu langsung oleh Abah Mustain, Tim Ahli Terapan Organik FKBN Kabupaten Lamongan. Dalam sesi interaktif ini, Abah Mustain membagikan ilmu secara gamblang tentang cara pembuatan nutrisi, probiotik organik, dan pestisida alami menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemui di sekitar petani.
“Petani di sini sangat antusias karena melihat dampak langsungnya. Hasil panen meningkat dan tanah terasa lebih hidup. Saya mendorong agar metode ini diterapkan secara konsisten dan disebarluaskan ke desa-desa lain di Sukoharjo dan sekitarnya,” ungkap Abah Mustain. Workshop semacam ini adalah jantung dari program, memastikan pengetahuan tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang, tetapi menjadi milik bersama komunitas petani.
Testimoni Nyata dari Lapangan: Peningkatan Hasil yang Signifikan
Keberhasilan program ini dikuatkan oleh testimoni langsung dari pelaku. Sihono, seorang petani peserta program Terapan Organik Bela Negara di Desa Bulakrejo, membagikan pengalamannya. Ia mengawali dengan metode semi organik sebelum akhirnya beralih penuh.
“Hasilnya benar-benar meningkat. Dari lahan saya, produktivitas mencapai 8,3 ton per hektar setelah menggunakan terapan organik penuh. Ini lebih tinggi dari sebelumnya,” ujar Sihono dengan wajah sumringah. Testimoni ini menjadi bukti empiris yang paling meyakinkan bagi petani lain yang masih ragu untuk beralih.
Melalui panen raya yang sukses ini, FKBN tidak hanya menunjukkan keberhasilan teknis pertanian organik, tetapi juga telah menyalakan api semangat kemandirian. Gerakan kolektif berbasis nasionalisme dan gotong royong ini diharapkan mampu mereplikasi diri, memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah, meningkatkan kesejahteraan petani, dan pada akhirnya menyumbang nyata pada cita-cita besar Indonesia: menjadi penyangga pangan dunia. Sebagaimana gaungan yang terus dikumandangkan, “Dari desa untuk ketahanan bangsa”, sawah di Bulakrejo telah menjadi medan perang baru yang subur untuk memenangkan kedaulatan pangan nasional.









