Infolamongan.com – Di sebuah sudut yang sarat akan aroma kopi dan jejak sejarah, Kopi Joko Cingkir Tlogosadang, Sabtu (20/12/2025) malam menjadi saksi sebuah perbincangan yang serius namun dikemas dengan tak serius. Rumah Budaya Pantura, sebuah lembaga yang konsisten menjadi garda depan pelestarian seni budaya pesisir utara Jawa, menggelar acara bertajuk “Bincang Tak Serius: Refleksi Akhir Tahun dan Pentas Seni Budaya”. Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB ini bukan sekadar nostalgia, melainkan upaya merumuskan napas baru bagi kesenian tradisional dan lokal di tengah arus zaman yang semakin digital.
Mengusung tema “Mengulas Perjalanan Berkesenian dan Kebudayaan Sepanjang 2025, Meraba Peluang dan Tantangan di Tahun Mendatang”, diskusi ini menghadirkan Lukmanul Hakim, seorang penulis, penyair, dan Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (LESBUMI) Gresik, sebagai narasumber utama. Kehadirannya diharapkan dapat membedah secara kritis capaian, tantangan, serta strategi kebudayaan di wilayah Pantura yang memiliki kekayaan tradisi luar biasa namun juga rentan tergerus.
Mengurai Benang Kusut 2025: Antara Prestasi dan Tantangan yang Mengintai
Lukmanul Hakim, dalam pemaparannya, membuka refleksi dengan melihat geliat seni budaya sepanjang 2025. Dia mengapresiasi berbagai inisiatif yang muncul dari komunitas, seperti festival seni kampung, revitalisasi kesenian rakyat, dan upaya pendokumentasian tradisi lisan oleh anak-anak muda. “Namun, kita tidak bisa menutup mata. Geliat itu masih sering bersifat sporadis, temporer, dan bergantung pada semangat segelintir orang. Sementara, arus besar budaya pop global dan konten digital yang instan terus menggerus perhatian dan minat, terutama dari generasi muda,” ujarnya.
Tantangan utama yang diidentifikasi bukan lagi sekadar kurangnya minat, tetapi pergeseran medium dan selera. Generasi yang tumbuh dengan gawai (Generasi Z dan Alpha) memiliki cara berkomunikasi, mengonsumsi informasi, dan menghibur diri yang sama sekali berbeda dengan generasi sebelumnya. Seni pertunjukan tradisional yang membutuhkan durasi panjang, konteks pemahaman budaya tertentu, dan penyajian langsung, sering kali kalah bersaing dengan konten 30 detik di media sosial yang langsung memberi stimulasi.
Film sebagai Jembatan Emas: Menyampaikan Seni dan Sejarah dengan Bahasa Zaman Now
Salah satu titik fokus diskusi yang paling menarik adalah pembahasan tentang film sebagai medium strategis. Lukmanul Hakim menekankan bahwa untuk menarik minat Generasi Z, seni dan sejarah tidak bisa lagi disampaikan hanya melalui pentas wayang atau seminar yang konvensional. “Kita perlu membahas cara penyampaian seni dan sejarah lewat film agar Gen Z lebih tertarik,” tegasnya. Film, dengan kekuatan audio-visual, narasi, dan daya emosionalnya, dinilai sebagai jembatan yang paling efektif untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya lokal dalam kemasan yang relevan.
Namun, tantangannya tidak berhenti di sana. Lukmanul bukan sekadar menganjurkan pembuatan film bertema budaya. Dia mendorong sebuah gerakan literasi media yang lebih dalam. “Untuk menyampaikan ke Gen Z agar lebih memilih dan milih film yang lebih berkualitas karena budaya kita semakin lama semakin surut tergerus oleh zaman karena perkembangan teknologi,” paparnya. Pernyataan ini mengandung dua pesan kunci: pertama, perlu diciptakan film-film berkualitas dengan produksi dan cerita yang baik yang mengangkat kearifan lokal. Kedua, audiens muda harus diberi ‘senjata’ berupa kemampuan untuk memilih, mengapresiasi, dan mengkritisi konten, sehingga mereka tidak sekadar konsumen pasif, tetapi penikmat yang cerdas.
Strategi Kreatif: Dari Konten Pendek hingga Kolaborasi Lintas Disiplin
Diskusi pun merambah pada bentuk-bentuk strategi kreatif yang bisa dijalankan. Beberapa ide yang mengemuka antara lain:
-
Konten Digital Pendek: Mengadaptasi cerita rakyat, falsafah hidup, atau tokoh sejarah Pantura menjadi serial pendek (short series), animasi, atau konten meme edukatif yang mudah dibagikan di platform seperti TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts.
-
Film Indie dan Dokumenter: Mendukung sineas muda lokal untuk memproduksi film indie atau dokumenter yang mengangkat potret sosial-budaya masyarakat Pantura dengan sudut pandang yang segar.
-
Integrasi dengan Pendidikan: Memperjuangkan agar materi budaya lokal tidak hanya menjadi teks di buku, tetapi diajarkan melalui medium film dan diskusi yang interaktif di sekolah-sekolah.
-
Kolaborasi Tidak Terduga: Misalnya, mengkolaborasikan musik tradisi seperti Ludruk atau Gandrung dengan genre musik modern, atau membuat pertunjukan teater yang dipadukan dengan mapping projection dan teknologi digital.
Pentas Seni Budaya: Bukti Nyata bahwa Warisan itu Masih Hidup dan Bernyawa
Sebelum dan sesudah bincang-bincang, acara ini juga diisi dengan Pentas Seni Budaya yang menampilkan berbagai ekspresi kesenian lokal. Pentas ini menjadi bukti kongkrit bahwa akar budaya itu masih hidup dan bernyawa. Dengan menampilkannya dalam atmosfer yang santai dan kekinian seperti di kedai kopi, Rumah Budaya Pantura berhasil menciptakan ruang di mana tradisi tidak menjadi sesuatu yang kaku dan berjarak, melainkan sesuatu yang bisa dinikmati sambil menyeruput kopi.
Pentas ini sekaligus menjadi laboratorium bagi gagasan-gagasan yang didiskusikan. Apakah penampilan tersebut bisa ‘nyambung’ dengan penonton muda? Bagaimana reaksi mereka? Hal ini menjadi bahan refleksi tersendiri bagi para pegiat budaya yang hadir.
Kesimpulan: Merawat dengan Cara Baru, atau Mati Perlahan
Acara “Bincang Tak Serius” ini menutup tahun 2025 dengan pesan yang jelas: pelestarian budaya di era sekarang bukan lagi soal preservasi murni seperti mengawetkan benda di museum. Tapi lebih pada adaptasi kreatif dan regenerasi makna. Budaya harus mampu berdialog dengan zamannya, menggunakan bahasa dan medium yang dipahami oleh generasi penerus.
Lukmanul Hakim dan Rumah Budaya Pantura mengajak semua pihak—seniman, pemerintah, komunitas, dan pihak swasta—untuk berpikir ulang. Tantangan tahun mendatang adalah bagaimana menciptakan ekosistem yang memungkinkan karya-karya budaya berkualitas lahir, tersebar, dan diapresiasi, sekaligus membangun kecerdasan budaya (cultural literacy) di kalangan anak muda. Jika tidak, kekayaan seni dan sejarah Pantura hanya akan menjadi cerita usang yang semakin surut, sementara Generasi Z asyik dengan dunianya sendiri, terpisah dari akar yang seharusnya menopang identitas mereka. Malam di Kopi Joko Cingkir itu adalah sebuah deklarasi: waktunya berbuat, dengan cara-cara yang tak lagi seragam, namun serius dalam niat.









