Infolamongan.id – Di tengah maraknya permainan digital dan mainan modern yang kian mendominasi dunia anak-anak, satu per satu mainan tradisional mulai ditinggalkan. Salah satunya adalah Jekikrek, mainan khas Lamongan yang kini mulai terlupakan oleh generasi muda.
Jekikrek merupakan mainan tradisional yang dibuat dari anyaman daun lontar atau kelapa muda. Bentuknya yang unik menyerupai kuda atau jaranan, lengkap dengan empat roda dan tali penarik, membuatnya dulunya menjadi favorit anak-anak di pedesaan Lamongan. Ketika ditarik, Jekikrek akan mengeluarkan suara khas “krek-krek-krek” yang menjadi asal nama mainan ini.
Lebih dari sekadar alat bermain, Jekikrek juga menyimpan nilai budaya dan fungsi serbaguna. Dalam beberapa acara adat, seperti selametan atau sedekah bumi, Jekikrek kerap digunakan sebagai wadah nasi—dikenal sebagai ketupat jaranan atau ketupat burung. Nasi yang dimasukkan dalam anyaman Jekikrek kemudian dimasak bersama ketupat lainnya sebagai bagian dari simbol syukur dan kebersamaan.
Menurut Budayawan Lamongan, Mbah Kasan, Jekikrek bukan hanya mainan biasa, tetapi juga simbol kreativitas masyarakat desa yang mampu menciptakan hiburan dari bahan-bahan alami.
“Anak-anak zaman dulu senang sekali main Jekikrek di jalanan tanah. Sekarang sayangnya sudah jarang terlihat. Bahkan banyak anak sekarang yang tidak tahu seperti apa bentuknya,” ujar Mbah Kasan.
Tak bisa dipungkiri, kemajuan teknologi menjadi salah satu penyebab pudarnya minat terhadap mainan tradisional. Mainan modern yang penuh warna, interaktif, dan berbasis teknologi, membuat Jekikrek kalah pamor di mata anak-anak masa kini.
Namun demikian, sejumlah komunitas pelestari budaya dan sekolah di daerah Lamongan mulai kembali memperkenalkan Jekikrek sebagai bagian dari edukasi budaya lokal. Bahkan, dalam beberapa festival desa atau karnaval budaya, Jekikrek mulai dimunculkan kembali sebagai simbol warisan lokal.
Pemkab Lamongan melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan juga menyatakan komitmennya untuk mendukung pelestarian mainan-mainan tradisional seperti Jekikrek agar tetap dikenal oleh generasi penerus.
“Kami berharap sekolah-sekolah bisa mengadakan kegiatan tematik budaya, termasuk memperkenalkan permainan tradisional seperti Jekikrek ini,” kata Kepala Dinas Pariwisata Lamongan, Nia Arista.
Jekikrek adalah pengingat bahwa permainan tidak harus mahal, tidak harus canggih, tapi bisa sederhana, ramah lingkungan, dan penuh makna. Sudah saatnya kita, sebagai masyarakat Lamongan, ikut menjaga agar warisan kecil ini tidak benar-benar hilang dari ingatan anak cucu kita.









