Infolamongan.com – Gelombang dinamika internal Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, terus berlanjut pasca keputusan monumental Syuriyah PBNU yang memberhentikan Ketua Umum PBNU periode 2022-2027, KH Yahya Cholil Staquf, atau yang akrab disapa Gus Yahya. Keputusan yang mengundang berbagai reaksi dari berbagai kalangan ini kini mendapatkan penegasan dukungan dari salah satu tokoh sentral dan Mustasyar (Penasihat) PBNU, Tuan Guru Haji (TGH) Muhammad Turmudzi Badaruddin.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dibagikan melalui video berdurasi dua menit tujuh detik pada hari Minggu (7/12/2025), TGH Turmudzi dengan tegas menyatakan dukungannya terhadap jajaran Syuriyah PBNU, terutama Rais Aam, K.H. Miftachul Akhyar. Pernyataan ini dinilai banyak pengamat sebagai penegasan terhadap tata kelola organisasi dan upaya meredam polarisasi yang mungkin timbul di tubuh internal NU.
“Kepada seluruh para alim ulama, habaib, pemuka agama, masyarakat Nahdliyin dan masyarakat Indonesia, saya atas nama H. M. Turmudzi Badaruddin mendukung putusan Rais ‘Aam. Karena Rais ‘Aam adalah yang tertinggi dalam organisasi,” kata TGH Turmudzi dalam keterangan videonya yang disebarluaskan secara resmi.
Pernyataan singkat namun padat ini memiliki bobot yang sangat signifikan. Turmudzi Badaruddin bukanlah figur biasa. Sebagai Mustasyar PBNU, ia adalah bagian dari dewan penasihat tertinggi yang dihormati karena kearifan, integritas, dan perjalanan panjangnya dalam mengabdi untuk NU. Dukungannya menjadi sinyal kuat tentang pentingnya menjaga struktur dan otoritas kelembagaan yang telah dibangun puluhan tahun dalam tubuh NU.
Struktur Kepemimpinan NU: Memahami Posisi Sentral Rais Aam dan Syuriyah
Untuk memahami konteks pernyataan TGH Turmudzi, penting untuk mengurai struktur kepemimpinan NU yang unik dan hierarkis. Organisasi yang berdiri sejak 1926 ini memiliki dua garis kepemimpinan utama: Syuriyah dan Tanfidziyah.
-
Syuriyah (Badan Otonom Keagamaan): Dipimpin oleh Rais Aam, badan ini adalah otoritas tertinggi dalam masalah keagamaan, akidah, akhlak, dan penyimpangan dari Khittah NU. Anggotanya terdiri dari ulama-ulama senior yang memiliki otoritas keilmuan agama (pesantren) yang mendalam. Keputusan Syuriyah, khususnya dari Rais Aam, dalam domainnya bersifat final dan mengikat. Rais Aam saat ini adalah K.H. Miftachul Akhyar.
-
Tanfidziyah (Badan Eksekutif): Dipimpin oleh Ketua Umum PBNU, badan ini bertugas menjalankan keputusan-keputusan Syuriyah dan mengelola operasional organisasi, termasuk bidang politik, ekonomi, sosial, dan pendidikan. Ketua Umum adalah pemimpin eksekutif harian.
Dalam video pernyataannya, TGH Turmudzi secara gamblang menegaskan prinsip ini: “Syuriyah terutama Rais Aam merupakan pimpinan tertinggi dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama. Karena itu, keputusan Rais Aam wajib dihormati oleh seluruh pengurus PBNU.”
Penegasan ini menempatkan keputusan pemberhentian Gus Yahya bukan sekadar sebagai konflik personal atau politik praktis, melainkan sebagai sebuah keputusan kelembagaan yang lahir dari otoritas tertinggi organisasi. Dengan kata lain, ini adalah soal penegakan aturan main organisasi (AD/ART) dan prinsip sam’an wa tha’atan (mendengar dan taat) dalam tradisi pesantren terhadap pemegang otoritas keilmuan.
Merespons Gelombang Reaksi: Upaya Menjaga Persatuan Internal
Keputusan pemberhentian Gus Yahya yang diumumkan pada akhir November 2025 telah memantik beragam reaksi. Sebagian mendukung penuh, menganggap langkah ini diperlukan karena berbagai kebijakan dan langkah politik Gus Yahya dinilai telah menyimpang dari garis Khittah NU atau konsensus internal. Sebagian lainnya menyayangkan, mempertanyakan prosesnya, atau bahkan menunjukkan dukungan solid kepada Gus Yahya.
Dalam situasi yang berpotensi menimbulkan perpecahan ini, suara dari tokoh seperti TGH Turmudzi Badaruddin hadir sebagai “penyejuk” dan pengingat. Dukungannya yang dinyatakan secara terbuka dan elegan berfungsi untuk:
-
Menguatkan Posisi Syuriyah: Menegaskan bahwa keputusan tersebut bukanlah aksi sepihak dari segelintir orang, tetapi didukung oleh pilar-pilar penting NU, termasuk Mustasyar.
-
Mengajak Patuh pada Mekanisme Organisasi: Mengingatkan seluruh jajaran, mulai dari Pengurus Besar hingga ranting, untuk menghormati proses dan hierarki yang ada. Ini adalah seruan untuk menyelesaikan masalah internal dengan cara-cara kelembagaan, bukan melalui polemik di ruang publik.
-
Meredam Polarisasi Berlebihan: Dengan menempatkan diskursus pada kerangka “kepatuhan pada struktur tertinggi”, pernyataan ini mengalihkan fokus dari narasi personal menuju narasi kelembagaan, yang diharapkan dapat meredakan ketegangan.
Profil TGH Turmudzi Badaruddin: Wibawa di Balik Dukungan
Siapa sebenarnya TGH Muhammad Turmudzi Badaruddin? Tokoh kelahiran Lombok, Nusa Tenggara Barat, ini adalah sosok kharismatik yang dihormati lintas generasi. Latar belakangnya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Darul Aitam, Jerowaru, Lombok Timur, membangun kredensialnya sebagai seorang ‘alim (ulama). Perjalanan karir organisasinya di NU juga sangat panjang dan mendalam, sehingga memahami betul seluk-beluk dan filosofi organisasi.
Posisinya sebagai Mustasyar PBNU menempatkannya dalam dewan yang anggota-anggotanya adalah sesepuh dan pendiri NU. Dewan ini berfungsi sebagai penjaga kemurnian ideologi dan khittah organisasi. Oleh karena itu, dukungan dari TGH Turmudzi tidak boleh dilihat sebagai dukungan politik biasa, tetapi lebih sebagai fatwa keorganisasian dari seorang penjaga tradisi dan aturan main NU. Wibawa pribadinya yang tenang dan bijaksana membuat pernyataannya sulit diabaikan oleh kalangan Nahdliyin manapun.
Implikasi ke Depan: Transisi Kepemimpinan dan Masa Depan NU
Dukungan TGH Turmudzi ini memperjelas peta kekuatan internal NU pasca keputusan. Dengan dukungan dari Mustasyar dan otoritas penuh Syuriyah, proses transisi kepemimpinan Tanfidziyah diprediksi akan berjalan sesuai koridor organisasi. Posisi Ketua Umum PBNU saat ini dijabat oleh Plt. Ketua Umum PBNU, K.H. Saifullah Yusuf (Gus Ipul), yang diharapkan dapat memimpin masa transisi hingga ada keputusan lebih lanjut dari Syuriyah, apakah mengangkat ketua umum definitif atau mempersiapkan proses luar biasa.
Beberapa tantangan ke depan yang harus dihadapi antara lain:
-
Rekonsiliasi Internal: Bagaimana menyatukan kembali berbagai kubu dan pendapat yang sempat berseliweran. NU membutuhkan mekanisme untuk merangkul semua pihak yang mungkin kecewa atau berbeda pandangan.
-
Kontinuitas Program: Memastikan bahwa berbagai program strategis NU, baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan kemanusiaan, tidak terganggu oleh dinamika politik internal.
-
Posisi NU di Kancah Nasional dan Global: Gus Yahya dikenal dengan pendekatannya yang aktif dalam dialog lintas agama dan isu global. Pertanyaannya, apakah arah ini akan dilanjutkan atau akan ada koreksi dan penekanan pada agenda yang lebih domestik?
-
Kesiapan Menuju Muktamar Luar Biasa: Jika nantinya diselenggarakan Muktamar Luar Biasa (MLB) untuk memilih Ketua Umum baru, NU harus memastikan prosesnya berjalan demokratis, damai, dan tetap menjunjung tinggi otoritas keulamaan Syuriyah.
Kesimpulan: Penegasan Tradisi di Tengah Modernitas
Pernyataan TGH Muhammad Turmudzi Badaruddin merupakan sebuah episode penting dalam sejarah panjang NU. Di tengah kompleksitas politik nasional dan tarik-menarik pemikiran modern, pernyataan ini adalah pengingat akan akar tradisi NU yang kuat: prinsip ahlussunnah wal jama’ah yang diwujudkan dalam kepatuhan kolektif terhadap otoritas ulama (ahl al-halli wal ‘aqdi).
Ini bukan tentang kalah-menang antara individu, tetapi tentang keteguhan untuk memegang teguh struktur dan aturan organisasi yang telah membuat NU bertahan hampir seabad. Dukungan seorang Mustasyar seperti TGH Turmudzi mengisyaratkan bahwa, bagaimanapun dinamisnya perdebatan, NU memiliki mekanisme internal dan tokoh-tokoh yang dihormati untuk menjaga organiasasinya tetap pada khittahnya.
Keputusan pemberhentian Gus Yahya dan dukungan terhadapnya akan terus menjadi bahan kajian dan diskusi yang panjang. Namun, dengan adanya penegasan dari pilar-pilar seperti Syuriyah dan Mustasyar, NU menunjukkan bahwa ia memiliki ketahanan kelembagaan untuk melewati fase-fase krusial seperti ini. Tantangannya sekarang adalah mengubah momentum ini menjadi energi untuk memperkuat persatuan, meningkatkan kiprah bagi umat dan bangsa, serta membuktikan bahwa organisasi sebesar NU mampu mengelola perbedaan dengan bijak dan elegan, tanpa meninggalkan prinsip dasar yang menjadi fondasi berdirinya. Masyarakat Nahdliyin dan publik luas kini menunggu langkah-langkah konkret berikutnya dalam babak baru kepemimpinan NU ini.









