Infolamongan.com – Komitmen membangun ketahanan pangan nasional dari tingkat tapak diwujudkan melalui kolaborasi yang tidak biasa di Desa Trepan, Kecamatan Babat. Pada Kamis (08/01/2026), lahan pertanian jagung di desa tersebut menjadi lokasi sebuah kegiatan panen raya yang tidak hanya melibatkan petani dan aparat, tetapi juga menyertakan energi intelektual dan fisik dari generasi muda. Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan perangkat Koramil 0812/10 Babat, yang diwakili oleh Batuud Koramil, Peltu Akram, bergandengan tangan dengan Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Babat, Penyuluh Lapangan (PPL), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), serta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Airlangga (Unair) dalam sebuah aksi nyata merawat kemandirian pangan.
Panen raya ini bukan sekadar seremoni. Ia adalah simbol dari sinergi yang berlapis: antara kelembagaan keamanan (TNI), pemerintahan daerah (Muspika), pelaku utama (petani), pendamping teknis (PPL), dan agen perubahan muda (mahasiswa). Kolaborasi segi lima ini menciptakan sebuah model pendampingan pertanian yang komprehensif, di mana aspek keamanan lahan, kebijakan pemerintah, ilmu pertanian praktis, serta inovasi dan semangat baru dari kampus bertemu di satu hamparan sawah.
Peran TNI: Dari Pengawal Keamanan Menjadi Mitra Petani
Kehadiran Peltu Akram yang mewakili Danramil Babat menegaskan peran transformatif TNI dalam konteks ketahanan pangan. TNI tidak lagi dipandang hanya sebagai penjaga perbatasan atau keamanan negara secara konvensional, tetapi sebagai mitra strategis petani di garis depan penyediaan pangan.
“Kami dari jajaran Koramil 0812/10 Babat akan terus mendampingi petani, mulai dari masa tanam hingga panen. Sinergi dengan mahasiswa KKN Unair dan PPL ini sangat penting untuk memberikan sentuhan inovasi dan semangat baru bagi warga desa,” ujar Peltu Akram. Pernyataan ini menunjukkan pendekatan pengawalan berkelanjutan. Pendampingan TNI tidak berhenti di momen seremonial, tetapi menyertai seluruh siklus pertanian, mulai dari penyiapan bibit, pengamanan lahan dari potensi gangguan, hingga pemasaran hasil. Kehadiran mereka memberikan rasa aman dan kepastian bagi petani untuk berproduksi secara optimal.
Mahasiswa KKN Unair: Jembatan antara Kampus dan Ladang
Aspek paling menarik dari kegiatan ini adalah partisipasi aktif mahasiswa KKN Universitas Airlangga (Unair). Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi kewajiban kurikuler, melainkan menjadi jembatan penghubung yang vital. Di satu sisi, mereka membawa pengetahuan terkini, metode analisis, dan perspektif segar dari lingkungan akademik. Di sisi lain, mereka terjun langsung ke realitas yang dihadapi petani: mulai dari tantangan iklim, serangan hama, hingga masalah rantai pasok dan harga.
Peltu Akram menaruh harapan besar pada peran mereka. “Para mahasiswa diharapkan mampu bertukar pikiran dengan petani mengenai optimalisasi hasil tani dan manajemen pasca-panen.” Harapan ini konkret. Mahasiswa bisa membantu petani dalam hal-hal seperti:
-
Teknologi Tepat Guna: Memperkenalkan aplikasi pemantauan cuaca, metode penanaman yang lebih efisien, atau alat panen sederhana.
-
Manajemen dan Pemasaran Digital: Membantu petani atau Gapoktan mengelola pencatatan hasil panen, menghitung analisis usaha tani (AUT), dan membuka akses pemasaran melalui platform digital.
-
Pendampingan Pasca-Panen: Berbagi pengetahuan tentang penyimpanan yang baik, pengolahan hasil sampingan, atau diversifikasi produk berbasis jagung untuk meningkatkan nilai tambah.
-
Pendidikan dan Penyuluhan: Membantu PPL dalam menyusun materi penyuluhan yang lebih menarik dan mudah dipahami, terutama untuk petani muda.
Dengan kata lain, mahasiswa berperan sebagai katalisator inovasi dan penerjemah ilmu pengetahuan ke dalam bahasa dan praktik yang aplikatif di tingkat desa.
Pemerintah Daerah dan Petani: Mengokohkan Pilar Ekonomi Lokal
Camat Babat, Norman, S.I.P., yang turut hadir, memberikan konteks yang lebih luas. Ia menegaskan posisi strategis Desa Trepan sebagai salah satu lumbung jagung potensial di Kecamatan Babat. Pernyataan ini mengakui jerih payah petani sekaligus menempatkan pertanian jagung sebagai tulang punggung ekonomi lokal yang perlu dikelola dengan baik.
“Melalui panen raya ini, diharapkan kesejahteraan petani meningkat dan stok jagung daerah tetap stabil untuk memenuhi kebutuhan pasar,” ujar Camat Norman. Tujuannya jelas: kesejahteraan petani dan stabilisasi pasokan. Kegiatan panen raya yang melibatkan banyak pihak juga menjadi bentuk apresiasi publik yang dapat meningkatkan motivasi dan kebanggaan petani atas profesinya. Selain itu, dengan dukungan dari berbagai sektor, diharapkan petani dapat mengakses pasar yang lebih luas dan adil, sehingga harga jual tidak semata-mata ditentukan oleh tengkulak.
Sinergi Model Baru untuk Masa Depan Pertanian Indonesia
Panen raya jagung di Desa Trepan telah melampaui makna harfiahnya. Ia menjadi laboratorium kolaborasi yang berhasil. Model sinergi “TNI-Pemda-Akademisi-Petani” ini patut menjadi perhatian dan direplikasi di daerah-daerah lain. Model ini menjawab beberapa masalah klasik pertanian Indonesia: keterbatasan akses teknologi, lemahnya pendampingan berkelanjutan, dan jarak antara penelitian dengan aplikasi di lapangan.
Dengan TNI sebagai pengawal keamanan dan pendamping, pemerintah daerah sebagai fasilitator kebijakan, akademisi (mahasiswa) sebagai penyuplai inovasi, dan PPL sebagai penyambung teknis, petani tidak lagi berjuang sendirian. Mereka memiliki ekosistem pendukung yang solid. Jika model ini dapat dipertahankan dan dikembangkan—misalnya dengan program KKN tematik berkelanjutan, pendampingan khusus pasca-KKN, dan pembentukan pusat inovasi pertanian desa—maka ketahanan pangan nasional akan dibangun dari fondasi yang sangat kuat: desa-desa mandiri yang didukung oleh seluruh potensi bangsa. Di Desa Trepan, jagung yang dipanen hari ini bukan hanya butir-butir pangan, tetapi juga benih dari sebuah model pembangunan pertanian yang lebih inklusif, inovatif, dan berkelanjutan.









