Pentas Teater dan Bedah Puisi Komunitas Ginyo Lamongan Gairahkan Literasi Seni di Jombang

Infolamongan.id – Komunitas Ginyo Lamongan di Kota Jombang kembali menggeliat dengan hadirnya acara bertajuk “Pentas Teater dan Bedah Antologi Puisi”, yang digelar pada hari jumat dan sabtu di Pondok Pesantren Al Hikmah Sumobito Jombang. Acara ini mempertemukan dua dunia seni—puisi dan teater—dalam satu panggung yang menyuarakan keresahan, harapan, dan semangat zaman.

Komunitas Ginyo Lamongan, penggagas acara ini, menyuguhkan pementasan teater “KUH – Karena ini adalah soal hati” karya Andy Kepix Jombang. Pementasan berdurasi 40 menit itu yang digelar pada jumat (30/5/2025) setelah isyak itu sebenarnya pertunjukan monolog, aktor mengungkap semua isi hatinya untuk seorang istri yang ia cintai berpuluh tahun yang meninggal dunia, juga memadukan dialog, gerak, musik. Penonton diajak menyelami makna-makna tersembunyi bagaimana sebagai suami yang memperlakukan istrinya bak ratu.
Berlanjut pementasan teater arena yang disuguhkan oleh Komunitas Teater Institut Unerow Tuban dengan judul “Gandrung”. Perpaduan tarian dan drama, pentas ini bukan hanya sebuah pertunjukan estetika, tapi juga simbol budaya, sejarah, dan spiritualitas Masyarakat yang mengungkap fenomena strata sosial yang ada dimasyarakat.
Acara yang berlangsung hingga malam hari ini tidak hanya jadi ajang pertunjukan, tapi juga menjadi ruang pertemuan lintas komunitas—dari pegiat teater, penulis muda, hingga pengunjung umum yang haus akan pengalaman estetika yang segar.

Foto : pegiat literasi dari Komunitas Ginyo Lamongan.
Foto : pegiat literasi dari Komunitas Ginyo Lamongan.

Suasana hening namun penuh makna menyelimuti aula ponpes al Hikmah Jombang, Sabtu (31/5), saat acara bedah antologi puisi bertajuk “Setangkai Puisi Menyapa Politisi” karya Mahrus Ali digelar bersama guru dan siswa SMK, MA dan SMP Al Hikmah. Acara ini menghadirkan tiga narasumber, Mahrus Ali (Penulis Antologi Puisi), Andy Kepix (Penulis Jombang) dan Maghfuri Ridlwan (Aktivis yang juga pegiat desa). Bedah antologi puisi ini dipandu oleh pakkeng. Sebelum bedah antologi puisi moderator mengajak peserta untuk memahami literasu secara utuh sebagai stimulus literasi.

Antologi “Setangkai Puisi Menyapa Politisi” karya Mahrus Ali berisi 96 puisi yang ditulis selama dua tahun terakhir 2023-2024, dengan tema besar tentang situasi politik, kritik sosial, pencarian jati diri, dan keteguhan hati menghadapi luka. Dalam bedah buku tersebut, peserta diajak menyelami makna puisi tak hanya dari sisi bahasa, tetapi juga dari konteks pengalaman dan perasaan yang melatari penulisannya.
“Puisi-puisi Mahrus Ali terasa lirih, tapi tidak rapuh. Ia mampu merangkum pengalaman yang sangat personal menjadi refleksi universal,” ujar Maghfuri Ridlwan dalam pemaparannya yang juga menjadi Koorprof Pendamping Desa di Jawa Timur.

Acara yang dihadiri puluhan peserta dari kalangan siswa, guru, dan pegiat sastra ini berlangsung hangat dan interaktif. Banyak peserta mengajukan pertanyaan seputar proses kreatif, teknik penulisan puisi, hingga tantangan menerbitkan karya sastra di era digitaldan juga bagaimana membaca puisi yang baik.
Dalam sesi tanya jawab, Andy Kepix mengungkapkan bahwa menulis puisi baginya adalah cara untuk berdamai dengan diri sendiri.

“Menulis puisi bukan untuk terlihat puitis, tapi untuk jujur pada luka yang tak sempat diucapkan,” kata Kepix, yang juga membacakan beberapa puisi Mahrus Ali di akhir acara. Kepix juga memberi janji kepada semua audiens, hasil semua karya tulisan dari santri dan guru ponpes Al Hikmah bersedia mencetak gratis sampai menjadi buku. Acara ini ditutup dengan pemberian antologi puisi oleh Mahrus Ali kepada lima siswa yang aktif bertanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *