Infolamongan.com – Konsep kemanunggalan TNI dengan rakyat di Kabupaten Lamongan tidak lagi hanya berupa retorika upacara atau seremoni. Ia telah ditransformasikan menjadi aksi nyata dan pendekatan yang menyatu dengan denyut nadi kehidupan masyarakat. Personel Bintara Pembina Desa (Babinsa) di bawah Komando Kodim 0812/Lamongan secara intensif menggalakkan kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) dengan metode yang unik dan langsung menyentuh hajat hidup orang banyak: melalui pendampingan dan aktivitas pertanian.
Di berbagai pelosok desa di Lamongan, Babinsa tidak lagi sekadar tampil dengan seragam lengkap di balai desa. Mereka hadir di tengah hamparan sawah, ikut mencabut rumput, mendiskusikan pola tanam, memantau distribusi pupuk, dan duduk santai mengobrol dengan petani di gubug atau pinggir pematang saat waktu istirahat tiba. Metode Komsos yang organik dan kontekstual ini menjadi strategi jitu untuk memperkuat ikatan emosional, sekaligus menjadi instrumen efektif dalam menjaga stabilitas wilayah dan mendukung ketahanan pangan.
Komsos yang Menyatu: Dari Formal ke Pendekatan Humanis di Lapangan
Pergeseran metode Komsos dari forum formal ke pendekatan humanis di lapangan ini disengaja dan mendapatkan apresiasi penuh dari pimpinan. Babinsa memahami bahwa untuk mendapatkan informasi yang jujur dan mendalam, mereka harus berada di ruang yang nyaman bagi masyarakat. “Komsos itu tidak harus kaku. Dengan mengobrol di sawah, kami bisa mendengar keluh kesah warga secara lebih jujur dan mendalam. Sambil membantu mereka bertani, kami selipkan pesan-pesan keadilan dan motivasi,” ujar Serka Erhandi, salah satu Babinsa yang aktif di lapangan.
Pendekatan ini menghilangkan sekat hierarkis antara aparat dan warga. Ketika Babinsa turun tangan membantu pekerjaan fisik di sawah, mereka tidak dilihat sebagai ‘tamu’ dari instansi, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang turut merasakan jerih payah. Dalam suasana santai inilah, berbagai informasi penting mengalir: keluhan tentang harga pupuk yang melambung, kendala irigasi yang tak kunjung diperbaiki, kekhawatiran akan serangan hama, hingga dinamika sosial di tingkat RT/RW yang berpotensi menjadi konflik.
Apresiasi dan Visi Strategis Dandim: TNI sebagai Bagian dari Solusi
Komandan Kodim (Dandim) 0812/Lamongan, Letkol Inf Deni Suryo Anggo Digdo, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif para anak buahnya. Ia menilai metode ini sebagai implementasi sempurna dari peran teritorial TNI. “Saya sangat mengapresiasi dedikasi para Babinsa yang terus konsisten berada di tengah-tengah masyarakat. Dengan metode yang humanis seperti pendampingan pertanian ini, hubungan emosional antara TNI dan rakyat akan semakin kuat,” tegas Dandim.
Lebih dari sekadar membangun hubungan baik, Dandim Deni menempatkan aktivitas ini dalam kerangka visi strategis yang lebih besar: ketahanan pangan nasional. “Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar stabilitas nasional. Oleh karena itu, kehadiran TNI untuk mendampingi petani adalah bentuk komitmen Kodim 0812 dalam mendukung kesejahteraan warga Lamongan yang mayoritas berprofesi sebagai petani,” tambahnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa dukungan TNI tidak hanya di bidang keamanan tradisional, tetapi juga dalam penguatan fondasi ekonomi dan pangan bangsa.
Multi-Efek Komsos Pertanian: Dari Deteksi Dini hingga Swasembada
Kegiatan Komsos melalui pendampingan pertanian ini menghasilkan dampak berlapis yang saling menguatkan:
-
Deteksi Dini dan Pelaporan Cepat: Dengan kedekatan yang terbangun, warga tidak segan melaporkan potensi gangguan keamanan, konflik sosial, atau penyimpangan di wilayahnya kepada Babinsa. Informasi intelijen tingkat tapak menjadi lebih kaya dan akurat, memungkinkan tindakan pencegahan sebelum masalah membesar.
-
Dukungan Teknis dan Motivasi Swasembada Pangan: Secara tidak langsung, kehadiran Babinsa memberikan motivasi moral bagi petani. Diskusi tentang teknik pertanian yang baik, meski sederhana, dapat membangkitkan semangat untuk mengoptimalkan hasil panen. Babinsa juga menjadi penghubung antara petani dengan penyuluh pertanian dari dinas terkait jika menemui kendala teknis yang kompleks.
-
Penguatan Kemanunggalan dan Kepercayaan: Metode ini secara efektif menghapus jarak psikologis antara TNI dan sipil. Masyarakat melihat TNI bukan sebagai kekuatan yang jauh dan menakutkan, melainkan sebagai mitra yang peduli dan siap membantu dalam suka dan duka. Kepercayaan (trust) ini adalah modal sosial yang tak ternilai untuk stabilitas jangka panjang.
Kesinambungan Program: Menjaga Denyut Harmoni Desa
Kodim 0812/Lamongan berkomitmen untuk menjadikan pendekatan Komsos humanis ini sebagai program yang berkelanjutan dan sistematis di seluruh jajaran Koramil. Ini bukan proyek musiman, tetapi bagian dari budaya bertugas Babinsa. Tujuannya jelas: menciptakan lingkungan desa yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga harmonis secara sosial dan sejahtera secara ekonomi.
Dengan ‘turun sawah’ dan menjadi bagian dari solusi masalah harian petani, Babinsa Kodim 0812/Lamongan telah menemukan resep efektif untuk kemanunggalan. Mereka membuktikan bahwa keamanan nasional dibangun bukan hanya dari ketegasan di perbatasan, tetapi juga dari kehangatan percakapan di pematang sawah dan kekuatan solidaritas dalam menghadapi musim paceklik. Di Lamongan, kemanunggalan TNI-Rakyat telah menemukan bentuknya yang paling konkret: melekat di tangan yang sama-sama berlumpur dan hati yang sama-sama berharap pada tumbuhnya padi yang subur.









