Tragedi di Lamongan: Bocah 8 Tahun Tewas Tenggelam di Embung Kedungpring, Jasad Ditemukan 2 Jam Setelah Terpeleset

Infolamongan.com – Duka menyelimuti warga Desa Banjarejo, Kecamatan Kedungpring, Kabupaten Lamongan, Minggu (1/3/2026) siang. Seorang bocah laki-laki berusia 8 tahun berinisial A ditemukan tewas setelah tenggelam di Embung Weslic, Dusun Banjaranyar. Korban diduga terpeleset saat bermain air bersama dua orang temannya, dan baru ditemukan setelah dua jam pencarian oleh petugas kepolisian dan warga.

Peristiwa nahas ini terjadi sekitar pukul 11.30 WIB, hanya berselang 30 menit setelah korban bersama dua rekannya berangkat menuju embung yang berjarak sekitar 500 meter dari rumahnya. Niat bermain air di siang bolong berubah menjadi malapetaka ketika korban diduga terpeleset di tepi embung yang licin dan jatuh ke dalam air dengan kedalaman mencapai empat meter.

Kasi Humas Polres Lamongan, Ipda M. Hamzaid, S.Pd., membenarkan kejadian nahas tersebut. Ia menjelaskan bahwa dua orang teman korban yang menyaksikan kejadian itu panik dan tidak mampu memberikan pertolongan karena keterbatasan kemampuan berenang. Mereka pun berlari pulang untuk memberi tahu orang tua korban.

“Karena kedua teman korban tidak mampu memberikan pertolongan, mereka segera pulang untuk memberi tahu orang tua korban bahwa A terjatuh ke embung. Informasi tersebut kemudian diteruskan ke Polsek Kedungpring,” ujar Hamzaid, Senin (2/3/2026).

Evakuasi Manual dan Jaring, Jasad Ditemukan Mengambang

Mendapat laporan warga, anggota Polsek Kedungpring bersama puluhan warga setempat langsung bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Mereka bahu-membahu melakukan pencarian dengan peralatan seadanya, mengingat embung tersebut tidak memiliki sistem pengamanan seperti pagar atau rambu peringatan bahaya.

Proses pencarian dilakukan secara manual. Warga dan petugas menggunakan jaring dan alat seadanya untuk menyisir dasar embung yang keruh. Pompa air juga dikerahkan untuk menyedot air embung guna mempermudah pencarian. Selama dua jam, keluarga korban yang menanti di tepi embung hanya bisa berdoa sambil menahan isak tangis.

“Sekira pukul 13.40 WIB, korban berhasil ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia,” tambah Hamzaid dengan nada prihatin.

Jasad korban ditemukan mengambang tidak jauh dari lokasi ia pertama kali terjatuh. Petugas bersama warga segera mengevakuasi jenazah dan membawanya ke rumah duka menggunakan ambulans. Suasana haru langsung pecah ketika jenazah tiba di pelukan orang tua. Isak tangis keluarga dan tetangga memecah kesunyian siang di Desa Banjarejo.

Jenazah korban langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Tidak dilakukan otopsi karena keluarga menerima kejadian ini sebagai musibah dan takdir yang tidak bisa dielakkan.

Pengawasan Orang Tua dan Bahaya Embung Tanpa Pagar

Peristiwa tragis ini menjadi alarm keras bagi warga Kedungpring dan sekitarnya, terutama bagi para orang tua yang memiliki anak kecil. Embung Weslic yang menjadi lokasi kejadian merupakan salah satu sumber air irigasi yang digunakan petani setempat. Namun, tidak ada pagar pembatas atau rambu peringatan bahaya di sekitar lokasi, sehingga sangat rawan bagi anak-anak yang bermain di sekitarnya.

“Kami mengimbau kepada para orang tua agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak guna mencegah kejadian serupa terulang kembali,” tegas Hamzaid.

Kejadian tenggelam di area persawahan dan embung sebenarnya bukan kali ini saja terjadi di Lamongan. Wilayah dengan banyak aliran irigasi dan waduk ini kerap memakan korban jiwa, terutama anak-anak yang belum paham bahaya air dalam.

Pada tahun 2025 lalu, seorang bocah di Kecamatan Laren juga tewas tenggelam di sungai saat mandi bersama teman-temannya. Kasus serupa terjadi di Kecamatan Babat, di mana seorang balita tewas setelah jatuh ke selokan di belakang rumahnya.

Para pegiat keselamatan anak mendesak pemerintah desa untuk segera memasang pagar pengaman di sepanjang tepi embung dan waduk yang rawan. Selain itu, rambu peringatan bahaya juga harus dipasang di titik-titik strategis agar anak-anak dan warga lebih waspada.

Duka Keluarga dan Pelajaran Berharga

Korban dikenal sebagai anak yang aktif dan sering bermain dengan teman-temannya di sekitar lingkungan rumah. Kepergiannya begitu cepat meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama sang ibu yang tak kuasa menahan tangis saat jenazah anak bungsunya tiba di rumah.

Tetangga dan kerabat terus berdatangan ke rumah duka untuk memberikan penghiburan dan membantu persiapan pemakaman. Jenazah korban rencananya akan dimakamkan di pemakaman umum desa setempat pada sore harinya.

Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa nyawa seorang anak bisa melayang hanya dalam hitungan menit karena kelalaian dan minimnya fasilitas keamanan di lingkungan sekitar. Embung yang seharusnya menjadi sumber kehidupan bagi pertanian, bisa berubah menjadi kubangan maut jika tidak dikelola dengan baik dan dilengkapi pengamanan yang memadai.

Pihak Polsek Kedungpring berjanji akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan dinas terkait untuk mengevaluasi keamanan embung-embung di wilayah Kedungpring. Evaluasi ini diharapkan dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *