Tragedi di Aliran Sungai Lamong: Bocah 10 Tahun Terseret Arus

Infolamongan.com – Suasana mencekam menyelimuti Dusun Kedungcalok, Desa Kreterangon, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan, sejak Kamis (5/2/2026) siang. Seorang anak berusia 10 tahun, FN, yang merupakan pelajar kelas 6 SD, dilaporkan terseret arus dan tenggelam di Sungai Lamong. Menyikapi insiden kemanusiaan ini, aparat gabungan yang terdiri dari Koramil 0812/08 Sambeng, Polsek Sambeng, Satpol PP, BPBD Kabupaten Lamongan, dan Petugas Damkar (Pemadam Kebakaran) bergerak cepat, mengerahkan personel dan logistik dalam operasi pencarian intensif yang dimulai sejak Kamis siang hingga Jumat pagi (6/2/2026).

Kejadian tragis itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari para saksi, termasuk kelima teman korban, FN bersama rombongan teman-temannya berangkat menuju Sungai Lamong. Sesampainya di lokasi, korban diduga terpeleset di tepian sungai yang licin. Saat itu, debit air Sungai Lamong dilaporkan cukup tinggi dengan arus yang deras akibat faktor musim. Hanya dalam sekejap, arus yang kuat langsung menyambar dan menyeret tubuh mungil FN, menghilang di balik riak air yang kecokelatan.

Menyaksikan kejadian mengerikan itu, kelima temannya yang panik segera berlari menuju permukiman terdekat di Dusun Kedungcalok untuk meminta pertolongan. Jeritan minta tolong mereka didengar oleh dua warga setempat, Winarti dan Markilah. Keduanya langsung bergegas menuju sungai.

“Kami dengar teriakan anak-anak minta tolong. Lari kami ke sungai, tapi FN sudah tidak kelihatan. Yang ada cuma baju dan sandalnya di pinggir,” ujar Winarti, dengan suara bergetar, saat memberikan keterangan awal kepada petugas.

Di tepi sungai, kedua saksi hanya menemukan barang-barang pribadi korban yang tertinggal, menjadi bukti bisu terakhir keberadaannya: sepotong baju berwarna kuning, celana pendek abu-abu, dan sepasang sandal jepit berwarna hitam. Temuan ini semakin menguatkan laporan bahwa korban telah tenggelam.

Respons Cepat Aparat dan Aksi Penyisiran Hari Pertama

Laporan resmi mengenai anak hilang dan diduga tenggelam diterima oleh petugas jaga Polsek Sambeng sekitar pukul 13.30 WIB. Tanpa menunggu lama, aparat kepolisian segera mengaktifkan protokol penanganan kasus kemanusiaan. Koordinasi intensif dilakukan dengan segera menjangkau Koramil setempat, BPBD Kabupaten Lamongan, Satpol PP, dan unit Damkar untuk membentuk Tim Gabungan SAR (Search and Rescue).

Mobilisasi berjalan cepat. Pukul 13.45 WIB, atau kurang dari 15 menit sejak koordinasi, tim gabungan pertama telah tiba di lokasi kejadian. Mereka langsung memulai operasi pencarian dengan menyisir area di sekitar titik awal korban hilang, yaitu di Dusun Kedungcalok. Pencarian difokuskan pada tepian sungai dan aliran utama ke arah hilir, mengingat kemungkinan besar korban terseret arus.

Tim dari BPBD dan Damkar dengan peralatan dasar SAR, dibantu personel TNI dari Koramil dan Polsek Sambeng yang memahami medan, bahu-membahu menelusuri setiap sudut. Warga setempat juga turut serta membantu memantau dari berbagai titik di sepanjang aliran sungai. Suasana siang yang terik berubah menjadi ketegangan kolektif yang mencekam.

Operasi Terpaksa Dihenti Sementara, Faktor Keamanan dan Visibilitas Jadi Pertimbangan

Upaya maksimal tim gabungan terus berlanjut sepanjang siang hingga sore hari. Namun, hingga pukul 17.20 WIB, jenazah FN belum juga ditemukan. Dengan pertimbangan keselamatan personel yang utama, serta keterbatasan cahaya matahari yang mulai meredup, pimpinan operasi di lapangan mengambil keputusan yang berat namun rasional.

“Pencarian hari pertama telah kami maksimalkan dengan menyusuri titik awal jatuhnya korban hingga beberapa ratus meter ke arah hilir. Medan sungai yang berbatu dan arus yang masih kuat menjadi tantangan. Namun, hingga sore ini korban belum ditemukan. Sesuai prosedur standar keselamatan operasi SAR, dan mengingat visibilitas yang sudah sangat minim, pencarian terpaksa kami hentikan sementara untuk malam ini. Akan dilanjutkan kembali esok pagi dengan kondisi yang lebih aman dan persiapan yang lebih matang,” tegas seorang perwira lapangan dari unsur TNI yang memimpin salah satu sektor pencarian.

Penghentian sementara ini tentu menambah beban psikologis yang luar biasa bagi keluarga korban, yang sejak siang telah menunggu dengan harap-harap cemas di tepian sungai. Para tetangga dan tokoh masyarakat terus memberikan pendampingan dan dukungan moril kepada keluarga.

Rencana Hari Kedua: Ekspansi Radius dan Tambah Kekuatan

Dengan tekad bulat untuk menemukan FN, Tim Gabungan telah menyusun strategi lanjutan. Operasi pencarian tahap kedua direncanakan dimulai pada Jumat, 6 Februari 2026, pukul 07.00 WIB pagi. Rencana operasi hari kedua lebih agresif dan terstruktur.

  • Perluasan Radius Pencarian: Area penyisiran akan diperluas secara signifikan ke arah hilir Sungai Lamong, mengingat waktu jeda semalaman memungkinkan arus membawa korban lebih jauh.

  • Penambahan Personel: Akan dilakukan penambahan personel dari berbagai instansi terkait, termasuk kemungkinan melibatkan relawan SAR yang lebih terlatih.

  • Peralatan Pendukung: BPBD dan Damkar akan membawa serta peralatan pendukung yang lebih memadai, seperti perahu karet (jika kedalaman dan arus memungkinkan), tali-temali, dan alat komunikasi untuk koordinasi yang lebih solid di lapangan.

  • Koordinasi dengan Desa Hilir: Aparat juga akan berkoordinasi dengan pemerintah desa dan warga di sepanjang DAS (Daerah Aliran Sungai) Lamong ke arah hilir untuk meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan.

Insiden tenggelamnya FN ini kembali mengetuk kesadaran publik tentang bahaya bermain di sungai, terutama di musim penghujan di mana debit air tidak dapat diprediksi. Sungai Lamong, yang mungkin terlihat tenang di permukaan, sering kali menyimpan arus bawah yang kuat. Tragedi ini diharapkan menjadi pengingat keras bagi orang tua, guru, dan masyarakat luas untuk meningkatkan pengawasan ekstra terhadap aktivitas anak-anak di dekat badan air, serta mendidik mereka tentang keselamatan dan resiko di alam terbuka.

Sementara itu, doa dan harapan seluruh masyarakat Lamongan menyertai tim gabungan yang akan melanjutkan pencarian. Setiap detik adalah berharga, dan setiap upaya adalah manifestasi dari nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial yang masih kuat di tengah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *