Setiap Anak Berbeda, Setiap Anak Berharga: Memahami Neurodivergent dengan Cinta

Infolamongan.id – Setiap orang tua tentu ingin anak lahir dalam kondisi terbaik, sehat secara fisik dan psikis. Namun, Tuhan yang menentukan perjalanan setiap anak. Kondisi seperti Autism Spectrum Disorder (ASD) dan Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD) sering kali menjadimomok menakutkan bagi banyak orang tua, karena masih dipandang sebelah mata olehmasyarakat. Padahal, kondisi ini termasuk dalam kategori neurodivergentbukan sebuahkelemahan atau aib, melainkan sebuah keunikan. Jika dikenali dan didukung dengan baik, anakdengan neurodivergent dapat menemukan serta mengembangkan potensinya secara optimal.

Apa Itu Neurodivergent?

Neurodivergent adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan individu dengan pola pikirdan fungsi otak yang berbeda dari mayoritas populasi. Kondisi ini bukanlah suatu penyakit, melainkan variasi neurologis yang memengaruhi cara seseorang belajar, berkomunikasi, danberinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Individu dengan neurodivergent sering kali memilikikelebihan unik, seperti daya ingat yang kuat, kemampuan membayangkan objek tiga dimensidengan jelas, keterampilan menghitung secara mental dengan cepat, serta berbagai keunggulanlainnya.

Neurodivergent bukanlah istilah medis. Sebaliknya, ini adalah cara untuk menggambarkan orang menggunakan kata-kata selain “normal” dan “abnormal.” Itu penting karena tidak ada definisitunggal tentang “normal” untuk cara kerja otak manusia. Istilah untuk orang yang tidakneurodivergent adalahneurotipikal“. Itu berarti kekuatan dan tantangan mereka tidakterpengaruh oleh perbedaan apa pun yang mengubah cara kerja otak mereka.

Istilahneurodivergentberasal dari istilah terkait “neurodiversity.” Judy Singer, seorangsosiolog Australia, menciptakan kata “neurodiversity” pada tahun 1998 untuk mengakui bahwaotak setiap orang berkembang dengan cara yang unik.

Kondisi Neurodivergent yang Perlu Dipahami

Beberapa kondisi yang termasuk dalam kategori neurodivergent antara lain:

  1. Autism Spectrum Disorder (ASD) ditandai dengan kesulitan dalam interaksi sosial dankomunikasi, pola perilaku berulang atau minat yang sangat spesifik, sensitivitas terhadapsuara, cahaya, atau tekstur tertentu, serta tantangan dalam memahami ekspresi wajah ataubahasa non-verbal.
  2. Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) mengalami kesulitan dalammemusatkan perhatian, impulsif (bertindak tanpa perencanaan), sulit mengendalikantindakan, memiliki energi yang berlebih dan mudah teralihkan oleh rangsangan di sekitarnya.
  3. Dyslexia ditandai kesulitan dalam membaca, mengeja, memahami teks, serta sulitmengenali pola huruf dan suara dalam kata. Individu dyslexia juga memiliki cara belajaryang berbeda, sering kali lebih visual atau kinestetik.
  4. Dyscalculia mengalami kesulitan memahami konsep angka dan matematika, sepert sulitmenghitung, menghafal angka atau memahami urutan numerik. Individu dyscalculia mengalami kecemasan saat berhadapan dengan tugas yang berhubungan dengan angka.
  5. Dyspraxia (Developmental Coordination Disorder – DCD) mengalami kesulitan dalamkoordinasi gerakan dan keseimbangan, sehingga kesulitan melakukan aktivitas motorikdan sering menjatuhkan benda.
  6. Tourette Syndrome ditandai dengan individu mengalami tic atau gerakan/kata-kata tidakdisengaja yang berulang. Tic dapat berupa vokal (mengeluarkan suara tertentu) ataumotorik (gerakan tubuh yang tiba-tiba).
  7. Sensory Processing Disorder (SPD) mengalami sensitivitas berlebih atau kurang terhadaprangsangan sensorik seperti suara, cahaya, tekstur atau rasa. Individu dengan kondisi inidapat menunjukkan reaksi yang sangat intens atau, sebaliknya, kurang merasakanrangsangan yang umumnya dianggap normal.

Stigma yang Sering Dialami Anak dengan Neurodivergent

Sayangnya, masih banyak stigma yang melekat pada anak dengan kondisi neurodivergent. Hal-hal ini yang tentunya membuat orang tua takut memiliki anak dengan kondisi neurodivergent.Beberapa di antaranya meliputi:

  •  Anak nakal dan tidak bisa diaturAnak dengan ADHD sering dianggap kurangdisiplin, padahal mereka kesulitan mengendalikan impuls dan fokus.
  • Kurang pintar atau malas belajarAnak dengan disleksia atau diskalkulia seringdicap bodoh karena kesulitan membaca atau berhitung, meskipun kecerdasan merekanormal atau bahkan di atas rata-rata.
  • Tidak bisa bersosialisasiAnak dengan ASD kerap dianggap antisosial, padahalmereka hanya memiliki cara berbeda dalam berinteraksi.
  • Terlalu sensitif atau manjaAnak dengan SPD mungkin menolak suara keras, teksturtertentu, atau cahaya terang, dan dianggap berlebihan atau mencari perhatian.
  • Tidak akan bisa suksesBanyak yang mengira anak dengan neurodivergent tidak bisamencapai prestasi, padahal banyak tokoh sukses juga memiliki kondisi ini.

Gejala Awal yang Perlu Diwaspadai

Orang tua perlu lebih peka dalam mengenali tanda-tanda awal neurodivergent pada anak agar dapat memberikan dukungan dan intervensi yang sesuai. Berikut beberapa gejala yang perludiperhatikan:

  • Kesulitan berkomunikasi seperti keterlambatan bicara atau kurangnya respons terhadappercakapan.
  • Kurangnya kontak mata atau interaksi sosial yang terbatas.
  • Tingkah laku repetitif atau sangat terpaku pada rutinitas tertentu.
  • Kesulitan dalam memahami instruksi sederhana atau memproses informasi.
  • Kurang atau terlalu peka terhadap rangsangan sensorik seperti suara keras atau sentuhan.
  • Kesulitan dalam mengontrol emosi, mudah marah atau frustrasi.
  • Canggung dalam gerakan atau sering mengalami kesulitan dengan koordinasi tubuh.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Jika Anda memiliki anak dengan kondisi neurodivergent, berikut beberapa langkah yang bisadilakukan untuk mendukung mereka:

  1. Menerima dan MemahamiPahami bahwa neurodivergent bukanlah sebuahkekurangan, melainkan perbedaan cara kerja otak. Semakin cepat Anda menerimakondisi anak, semakin mudah memberikan dukungan yang tepat.
  2. Konsultasi dengan AhliSegera cari bantuan dari psikolog, terapis, atau dokter anakuntuk memahami kebutuhan spesifik anak Anda.
  3. Menciptakan Lingkungan yang RamahSesuaikan lingkungan di rumah agar mendukung kenyamanan dan kebutuhan anak, seperti mengurangi rangsangan berlebihjika mereka sensitif terhadap suara atau cahaya.
  4. Membantu Anak Mengenali dan Mengelola EmosiAjarkan anak cara mengenaliemosi mereka dan bagaimana menyalurkannya dengan cara yang sehat.
  5. Memfasilitasi Pendidikan yang SesuaiTemukan metode belajar yang cocok untukanak, baik itu dengan pendekatan visual, kinestetik, atau pendidikan inklusif.
  6. Membangun Rasa Percaya DiriDorong anak untuk mengeksplorasi minat dan bakatmereka agar mereka merasa dihargai dan percaya diri.
  7. Mengembangkan Komunikasi yang PositifGunakan komunikasi yang sabar dan jelas, serta ajarkan keterampilan sosial secara bertahap.
  8. Bersabar dan FleksibelSetiap anak berkembang dengan caranya sendiri. Bersabarlahdalam menghadapi tantangan dan terus belajar memahami kebutuhan anak.

 

📍 Alamat: GenSA Kidz, Regency, Jl. Raya Tambakboyo No Ruko. 02, Tambakboyo, Tambakrigadung, Kec. Tikung, Kab. Lamongan.

📞 Hubungi kami: 0813-3341-4750
🌐 Website/Sosial Media: www.gensakidz.com / @gensakidz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *