Infolamongan.id – Dalam setiap peringatan Hari Bhayangkara yang jatuh pada tanggal 1 Juli, masyarakat Indonesia kembali diingatkan pada peran vital Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) sebagai pilar utama keamanan dan ketertiban nasional. Namun di balik institusi besar tersebut, terdapat akar sejarah yang panjang dan sarat makna dari istilah “Bhayangkara” itu sendiri.
Asal Usul Pasukan Bhayangkara dari Zaman Majapahit
Kata “Bhayangkara” bukanlah sekadar nama simbolis. Istilah ini berasal dari zaman Kerajaan Majapahit, tepatnya pada masa kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada di abad ke-13 M. Kala itu, dibentuklah sebuah pasukan elite bernama Pasukan Bhayangkara, yang bertugas khusus untuk menjaga keselamatan raja, keluarga kerajaan, dan lingkungan istana.
Pasukan Bhayangkara dipilih dari para prajurit terbaik Majapahit, dengan pelatihan yang ketat, disiplin tinggi, serta loyalitas penuh kepada negara. Mereka bukan hanya sekadar pengawal pribadi raja, melainkan juga pelaksana keamanan internal yang mengawal stabilitas kerajaan dari berbagai ancaman, baik pemberontakan, kejahatan, maupun ancaman eksternal.
Nilai Filosofis yang Diwariskan
Nilai-nilai luhur yang dipegang oleh Pasukan Bhayangkara—seperti kejujuran, keberanian, kedisiplinan, dan loyalitas kepada negara—kemudian diadopsi dan dijadikan filosofi dasar dalam pembentukan institusi Polri modern.
Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada 1 Juli 1946, pemerintah membentuk Kepolisian Nasional melalui Penetapan Pemerintah Nomor 11/S.D. Tahun 1946. Tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Bhayangkara, menandai kelahiran institusi kepolisian yang independen di Indonesia. Awalnya, Polri berada di bawah koordinasi TNI (ABRI), hingga akhirnya melalui reformasi 1999 dan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002, Polri berdiri sebagai institusi yang mandiri.
Polri dalam Era Modern: Presisi dan Pelayanan Masyarakat
Kini, di usia ke-79 tahun, Polri terus bertransformasi menuju institusi yang modern, transparan, dan akuntabel. Melalui konsep “Polri Presisi” (Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan), Polri diharapkan mampu menjawab tantangan keamanan masyarakat di era digital dan globalisasi.
Dalam berbagai aspek, Polri tidak hanya bertugas menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Tugas-tugas ini selaras dengan semangat para Bhayangkara zaman dahulu yang selalu hadir sebagai penjaga kedamaian dan pelindung negara.
Tema Hari Bhayangkara ke-79 tahun 2025 ini adalah: “Polri Presisi untuk Negeri: Pemilu Damai Menuju Indonesia Emas”, yang mencerminkan komitmen Polri dalam mewujudkan proses demokrasi yang aman, damai, dan bermartabat menuju visi Indonesia Emas 2045.
Meneladani Semangat Para Bhayangkara
Peringatan Hari Bhayangkara bukan sekadar seremoni. Ini adalah momen refleksi seluruh insan Bhayangkara agar selalu meneladani semangat para pendahulunya dalam mengabdi pada bangsa. Seperti halnya pasukan Bhayangkara Majapahit, Polri masa kini juga dituntut untuk menjunjung tinggi integritas, profesionalisme, dan rasa empati kepada masyarakat.
Dengan segala tantangan yang ada, Polri tetap berkomitmen untuk menjaga keamanan, melindungi masyarakat dari kejahatan, dan membangun kepercayaan publik yang berkelanjutan.









