Infolamongan.com – Menghadapi musim penghujan yang mengancam menimbulkan genangan dan banjir, Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (Dinas SDA dan Bina Konstruksi) mengambil langkah antisipatif dan responsif yang signifikan. Sebanyak lima belas unit pompa air saat ini telah diaktifkan dan dioperasikan di sejumlah titik rawan di wilayah kabupaten. Langkah ini merupakan bagian dari strategi penanggulangan banjir jangka pendek yang tidak hanya berfokus pada menurunkan tinggi muka air, tetapi juga mempercepat surutnya genangan agar kehidupan sosial-ekonomi masyarakat tidak lumpuh total.
Laporan resmi disampaikan langsung oleh Kepala Dinas SDA dan Bina Konstruksi Kabupaten Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi, dari kantornya pada Selasa (20/1/2026). Pemaparan Erwin memberikan gambaran konkret mengenai upaya teknis yang sedang dijalankan, sekaligus data terbaru kondisi sungai utama yang menjadi indikator kritis.
Peningkatan Kapasitas dan Perpanjangan Durasi Operasi di Pintu Kuro
Pusat dari operasi pemompaan massal ini terletak di kawasan Pintu Air (Pintu) Kuro, yang menjadi simpul vital dalam sistem drainase dan pengendalian banjir di Lamongan. Kapasitas pompa yang disiagakan di lokasi ini awalnya mencapai 8.500 liter per detik (lt/dt). Kapasitas besar ini merupakan hasil kolaborasi dan pembagian kewenangan operasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi Jawa Timur, dan pemerintah kabupaten.
Menyadari ancaman yang semakin nyata, otoritas melakukan eskalasi. “Per 14 Januari 2026 kemarin, sebagai upaya penanggulangan banjir atas dasar masuknya siaga merah, ditambahkan sehingga menjadi 9.900 lt/dt yang terdiri dari 15 pompa,” jelas Erwin. Penambahan kapasitas sebesar 1.400 lt/dt ini merupakan respons atas status siaga merah yang diterbitkan, menunjukkan peningkatan ancaman banjir yang membutuhkan daya dorong air yang lebih besar dan cepat ke luar dari daerah genangan.
Tidak hanya menambah jumlah dan kapasitas, strategi juga melibatkan optimalisasi waktu operasi. Sejak 27 Desember 2025, durasi operasional pompa-pompa di Pintu Kuro telah diperpanjang. Pompa-pompa tersebut kini dijalankan dari pukul 07.00 pagi hingga 20.00 malam WIB. Perpanjangan jam operasi ini bertujuan untuk memaksimalkan volume air yang dipompa keluar selama periode siang hingga sore hari, memanfaatkan waktu ketika pemantauan dan perawatan teknis lebih mudah dilakukan, sekaligus mengurangi akumulasi air semalaman.
Kondisi Sungai: Kali Blawi dan Bengawan Solo Alami Peningkatan Volume
Operasi pompa tidak berjalan dalam ruang hampa, tetapi sangat bergantung pada kondisi badan air penerima, dalam hal ini Kali Blawi dan Bengawan Solo. Erwin Sulistya Pambudi juga memberikan update terkini mengenai kondisi kedua sungai utama tersebut.
“Per hari ini, volume air bertambah di Kali Blawi +75 (SM) dan Bengawan Solo +152 (SH),” tuturnya. Data dengan satuan SM (mungkin ‘Sentimeter Muka’ atau satuan pengukuran ketinggian lokal) dan SH (mungkin ‘Sentimeter Hulu’ atau sejenisnya) ini menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Kenaikan volume air di sungai-sungai utama ini adalah dampak langsung dari curah hujan tinggi di daerah hulu atau di wilayah Lamongan sendiri. Peningkatan ini menjadi tantangan tersendiri, karena air yang dipompa dari daerah genangan (seperti dari Rolak Kuro) harus dialirkan ke sungai yang volumenya juga sedang tinggi. Jika tidak dikelola dengan cermat, dapat terjadi fenomena backwater atau air balik.
Filosofi Baru: Mengurangi Durasi Genangan, Bukan Sekadar Menurunkan Ketinggian
Yang menarik dari penjelasan Kadis Erwin adalah pergeseran filosofi dalam penanganan genangan air. Fokus tidak lagi semata-mata pada upaya menurunkan angka ketinggian air (dalam sentimeter) semata. Pendekatan yang lebih holistik dan berbasis dampak kini diadopsi.
“Dalam penanganan genangan air, fokus tidak hanya pada menurunkan tinggi muka air. Tetapi juga mengurangi durasi lama genangan, agar aktivitas masyarakat dapat tetap berjalan secara normal meskipun terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” tegas Erwin.
Pernyataan ini mengandung makna strategis yang dalam. Genangan setinggi 30 cm yang berlangsung selama 3 hari, dampak sosial-ekonominya jauh lebih parah dibandingkan genangan 40 cm yang hanya bertahan 6 jam. Dengan memfokuskan upaya pada mempercepat proses pengeringan, pemerintah berusaha meminimalkan waktu gangguan. Warga dapat lebih cepat kembali ke rumah, pedagang dapat lebih cepat membuka kembali usahanya, dan anak-anak dapat lebih cepat kembali ke sekolah. Ini adalah pendekatan yang berorientasi pada pemulihan dan ketahanan masyarakat (community resilience).
Strategi Komplementer: Manfaatkan Jaringan Gravitasi Alami
Selain mengandalkan teknologi mekanis berupa pompa, Dinas SDA dan Bina Konstruksi juga mengoptimalkan sistem drainase alamiah yang ada. “Selain diaktifkannya pompa air, penanganan genangan air juga dilakukan melalui pembuangan melalui jalur gravitasi Kali Corong, Kali Wangen, Kali Tebaloan dan Kali Bendungan,” papar Erwin.
Pengaliran melalui gravitasi di saluran-saluran (kali) sekunder ini sangat penting karena lebih hemat energi dan berkelanjutan. Operasi pompa membutuhkan biaya bahan bakar dan perawatan yang besar. Dengan membersihkan, mengeruk, dan memastikan saluran-saluran gravitasi seperti Kali Corong dll. berfungsi optimal, air dari permukiman dan jalan dapat mengalir dengan lancar ke saluran pembuangan utama tanpa perlu selalu dibantu pompa. Ini adalah langkah preventif yang cerdas: memastikan infrastruktur pasif bekerja maksimal sebelum mengerahkan infrastruktur aktif yang mahal.
Kesimpulan: Upaya Terintegrasi Menghadapi Ancaman Hidrometeorologi
Pengaktifan 15 pompa dengan total kapasitas 9.900 lt/dt di Lamongan adalah simbol dari kesiapsiagaan dan respons teknis pemerintah daerah. Langkah ini, yang dikombinasikan dengan perpanjangan jam operasi, pemantauan volume sungai, dan pengoptimalan saluran gravitasi, menunjukkan sebuah pendekatan penanganan banjir yang multi-dimensional.
Yang patut diapresiasi adalah perubahan paradigma dari sekadar “menurunkan air” menjadi “mempercepat pulih”. Dengan target mengurangi durasi genangan, kebijakan ini lebih langsung menyentuh kebutuhan nyata warga: kembalinya rasa normalitas dan kemampuan untuk beraktivitas. Di tengah tantangan perubahan iklim yang membuat cuaca ekstrem semakin sering, upaya terukur, transparan, dan berorientasi pemulihan seperti ini menjadi kunci untuk membangun ketangguhan Kabupaten Lamongan terhadap bencana hidrometeorologi yang berulang.









