Infolamongan.com – Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Perikanan bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lamongan menggelar event perdana yang menyedot perhatian publik: Kontes Lele Lamongan (Kolela). Bertempat di Lamongan Sport Center, Minggu (8/3/2026), acara ini sekaligus menjadi penutup rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 dan HUT ke-80 PWI di Lamongan.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi hadir langsung membuka kontes yang diikuti puluhan peserta dari berbagai kecamatan ini. Dalam sambutannya, pria yang akrab disapa Pak Yes itu menegaskan bahwa lele bukan sekadar komoditas perikanan biasa. Di Lamongan, lele telah menjelma menjadi identitas budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.
“Lele merupakan bagian dari sejarah Lamongan yang mengartikan kegesitan dan keuletan. Ikan ini menjadi ikon kebangkitan masyarakat Lamongan karena banyak mata pencaharian warga yang bersumber dari budidaya maupun usaha kuliner lele,” tutur Bupati Yes di hadapan para peserta dan undangan.
Menurut orang nomor satu di Kota Soto ini, karakter ikan lele yang gesit dan ulet merepresentasikan semangat masyarakat Lamongan dalam bekerja dan bertahan menghadapi berbagai tantangan ekonomi. Tak heran, kuliner pecel lele khas Lamongan kini menjamur di berbagai kota di Indonesia, bahkan menjadi ladang rezeki bagi ribuan perantau asal Lamongan.
Kontes Perdana, Harapan Go International
Kontes lele yang digelar untuk pertama kalinya ini menjadi momentum penting bagi Pemkab Lamongan untuk memperkuat identitas daerah sebagai sentra penghasil dan pusat kuliner lele nasional. Pak Yes berharap event ini tidak berhenti sebagai ajang tahunan biasa, tetapi mampu membuka peluang ekonomi lebih luas dan membawa nama Lamongan ke kancah dunia.
“Alhamdulillah kontes lele yang digelar pertama kali ini menjadi awal agar Lamongan semakin dikenal hingga ke kancah dunia,” tambahnya optimistis.
Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang melebihi target panitia. Puluhan pembudidaya lele dari berbagai kecamatan seperti Plosowahyu, Sugio, Mantup, hingga Kecamatan Lamongan kota turut ambil bagian. Mereka bersaing menampilkan kualitas ikan lele terbaik hasil budidaya, mulai dari bobot, panjang, hingga kesehatan dan bentuk fisik.
PWI Lamongan: Lele Adalah Ikon Ekonomi Warga
Ketua PWI Kabupaten Lamongan, Kadam Mustoko, menjelaskan bahwa kontes lele ini merupakan agenda puncak dari rangkaian kegiatan HPN 2026 yang kemudian dilanjutkan dengan awarding. Ide penyelenggaraan kontes lele muncul dari kesadaran bahwa ikan berkumis ini memiliki nilai strategis bagi ekonomi warga Lamongan.
“Ikan lele merupakan ikon khas Lamongan yang menjadi ladang perekonomian bagi sebagian besar warga. Banyak warga Lamongan yang merantau ke berbagai daerah dengan berjualan pecel lele, sehingga kami ingin lebih mengenalkan lagi kepada generasi penerus,” jelas Kadam.
Ia menambahkan, melalui kontes ini, generasi muda Lamongan diharapkan semakin mencintai potensi lokal dan tertarik untuk menggeluti budidaya lele maupun usaha kuliner turunannya. Dengan demikian, rantai ekonomi lele tidak putus dan justru semakin menguat.
Hasil Kontes: Plosowahyu, Sugio, dan Mantup Borong Juara
Set melalui penilaian ketat dari dewan juri yang terdiri dari praktisi perikanan dan akademisi, akhirnya ditetapkan tiga pemenang terbaik. Berikut hasil lengkap Kontes Lele Lamongan 2026:
-
Juara I: Toni dari Kecamatan Plosowahyu dengan nilai 10.220 kg
-
Juara II: Panji dari Kecamatan Sugio dengan nilai 9.975 kg
-
Juara III: Ahmad Ihsan dari Kecamatan Mantup dengan nilai 7.575 kg
Para pemenang mendapat trofi, piagam, dan hadiah uang pembinaan dari Pemkab Lamongan serta sponsor. Suasana haru dan bangga terpancar dari wajah para juara yang berhasil membawa nama kecamatan masing-masing.
Toni, Juara I asal Plosowahyu, mengaku tidak menyangka bisa meraih predikat terbaik. Ia telah menekuni budidaya lele selama lebih dari lima tahun dan baru kali ini mengikuti kontes resmi.
“Ini pengalaman pertama saya ikut kontes. Alhamdulillah langsung juara. Saya berterima kasih kepada Pemkab Lamongan dan PWI yang sudah memfasilitasi. Semoga ke depan kontes seperti ini rutin digelar,” ujarnya penuh syukur.
Lele: Dari Budidaya hingga Kuliner, Ekonomi Warga Berputar
Data Dinas Perikanan Lamongan mencatat bahwa produksi lele di Kabupaten Lamongan mencapai ribuan ton per tahun. Ribuan keluarga menggantungkan hidup dari budidaya lele, baik sebagai pembudidaya, pedagang bibit, penyedia pakan, hingga pengusaha kuliner pecel lele.
Fenomena unik terjadi di Lamongan: hampir di setiap kecamatan, warung pecel lele mudah ditemukan. Bahkan, perantau Lamongan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, hingga Bali, sukses membuka usaha pecel lele dengan cita rasa khas yang sulit ditiru daerah lain.
Bupati Yuhronur berharap kontes lele ini bisa memicu semangat warga untuk terus berinovasi, baik dalam budidaya maupun pengolahan kuliner. Ia juga mendorong generasi muda untuk tidak malu berjualan pecel lele, karena justru dari situlah banyak orang Lamongan sukses secara finansial.
“Jangan pernah malu dengan pecel lele. Ini adalah warisan leluhur yang harus kita banggakan. Dari pecel lele, anak-anak Lamongan bisa sekolah tinggi, bisa beli rumah, bisa hidup layak. Itu fakta,” tegas Pak Yes.
Penutup Rangkaian HPN dan HUT PWI
Kontes Lele Lamongan sekaligus menjadi penutup manis rangkaian peringatan HPN 2026 dan HUT ke-80 PWI di Lamongan. Sebelumnya, berbagai kegiatan seperti seminar jurnalistik, lomba karya tulis, bakti sosial, hingga santunan anak yatim telah digelar.
Dengan suksesnya kontes ini, PWI Lamongan berencana menjadikan Kolela sebagai agenda tahunan yang masuk dalam kalender even daerah. Bahkan, tidak menutup kemungkinan ke depan akan digelar dalam skala lebih besar, mengundang peserta dari luar Kabupaten Lamongan hingga provinsi tetangga.
“Kami ingin Lamongan tidak hanya dikenal sebagai Kota Soto, tapi juga sebagai Kota Lele. Dua ikon kuliner ini bisa berjalan beriringan dan sama-sama mengangkat ekonomi warga,” pungkas Kadam.
Malam itu, Lamongan Sport Center dipenuhi tawa dan kebanggaan. Ikan lele, yang kerap dipandang sebelah mata, justru menjadi bintang yang menyatukan wartawan, pemerintah, dan masyarakat dalam satu harmoni: memperkuat potensi lokal untuk kesejahteraan bersama.









