Infolamongan.id – Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, tanpa sadar kita sudah dididik untuk menjadi patuh. Bel berbunyi, kita duduk. Guru datang, kita diam. Bertanya terlalu banyak dianggap mengganggu. Berpendapat berbeda dianggap membangkang. Semua diarahkan pada satu hal: jadi manusia yang tunduk, bukan berpikir bebas.
Sistem pendidikan seperti ini bukan tanpa tujuan. Ia seperti mesin pabrik: mencetak manusia seragam, yang siap masuk ke dunia kerja dan mengikuti perintah tanpa banyak bicara. Kita diajarkan bagaimana cara mengerjakan soal, bukan bagaimana menyelesaikan masalah nyata. Kita dilatih untuk mengikuti prosedur, bukan menciptakan inovasi.
Bahkan hingga hari ini, ketika dunia sudah berubah drastis karena teknologi dan internet, sistem itu masih terus dipertahankan. Sekolah tetap sibuk mengejar nilai Ujian Nasional (yang bahkan sudah dihapus secara nasional), tapi tidak pernah benar-benar mempersiapkan siswa untuk menjadi pengusaha, pemikir mandiri, atau pemimpin.
“Sekolah seperti jalur produksi pabrik zaman kolonial. Satu-satunya tujuan: mencetak pegawai yang patuh. Bukan manusia merdeka,” kata Raka Dwijaya, pemerhati pendidikan dari Lamongan.
Lebih dari itu, sistem ini bisa dibilang telah mematikan potensi besar generasi muda. Anak-anak yang kreatif, inovatif, dan suka bereksperimen sering kali malah dimarahi, dikucilkan, atau dianggap “tidak serius.” Padahal justru mereka yang punya peluang besar menjadi pencipta lapangan kerja, bukan sekadar pencari kerja.
Akibatnya, setelah lulus sekolah atau kuliah, banyak anak muda Lamongan yang terjebak dalam lingkaran “menunggu lowongan.” Mereka rela antre berjam-jam untuk seleksi pekerjaan, ikut pelatihan supaya bisa diterima jadi staf di perusahaan, tapi tidak pernah ditantang untuk berpikir: bisakah aku membangun usahaku sendiri?
Yang lebih mengerikan, banyak dari kita bahkan tidak sadar bahwa sistem ini memang didesain demikian. Sebagian besar hanya mengikuti arus. Bahkan orang tua pun mendukung pola pikir ini karena sudah tertanam selama puluhan tahun: sekolah yang bagus = nilai tinggi = kerja mapan = hidup aman. Sayangnya, dunia tidak lagi seperti itu.
Kondisi ini makin diperparah dengan minimnya pendidikan kewirausahaan yang nyata. Pelajaran bisnis di sekolah hanya berupa teori di buku teks. Tidak ada simulasi nyata, tidak ada tantangan pasar, tidak ada pelatihan mental sebagai pengambil risiko. Bagaimana mungkin mencetak pengusaha kalau keberanian mengambil risiko saja tidak pernah diajarkan?
Namun, harapan belum mati. Di Lamongan, sejumlah komunitas muda mulai berani melawan arus. Mereka menggelar kelas mandiri, mengajarkan anak-anak berjualan, membuat produk digital, bahkan membangun toko online sejak SMP. Gerakan kecil ini mulai menunjukkan hasil: munculnya generasi muda yang tidak lagi takut gagal, tidak lagi menunggu disuruh.
“Kalau kita terus menunggu sistem berubah, mungkin butuh puluhan tahun. Tapi kalau kita ubah cara berpikir, hasilnya bisa kita rasakan sekarang,” tambah Raka.
Pertanyaannya: sampai kapan kita mau terus menjadi korban sistem? Sampai kapan kita mau jadi manusia patuh, tanpa keberanian mencipta?
Saatnya Lamongan bangun. Saatnya sekolah menjadi tempat membentuk manusia merdeka, bukan budak modern yang hanya bisa taat, tapi tak pernah bertanya: kenapa?









